30 Seniman Jakarta Lintas Generasi Pameran Bersama di TIM

Jakarta kaya akan seniman selalu bermunculan dari generasi ke generasi. Dalam sejarah panjangnya kota ini telah melahirkan banyak karya penting yang mewarnai dunia seni rupa. Beragam perupa pun bergelut dalam gaya dan ciri khasnya sendiri yang turut memberi denyut dalam dinamika dunia kesenian.

Untuk menilik perkembangan seni lukis di Jakarta sekarang, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan Pameran Besar Seni Lukis Jakarta dengan tema “Rendering Regime”. Pameran ini berlangsung pada tanggal 24 Oktober-13 November 2015 di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki

Mengambil tema “Rendering Regime“, yang dapat diartikan sebagai sebuah usaha manipulatif dari pihak yang berkuasa dengan cara memperindah dan mengaburkan segala hal melalui pendekatan visual. Pameran ini memamerkan karya dari 30 seniman Jakarta dengan beragam gaya, usia dan latar belakang. Mereka adalah Andrew Delano, Bunga Yuridespita, Dwi “Ube” Wicaksono Suryasumirat, Gadis Fitriana, Guntur Wibowo, Haris Purnomo, Hauritsa, Henry Foundation, Ipong Purnama Sidhi, Iswanto Hartono, Ito Djoyoatmojo, Jayu Julie, Jerry Thung, Jimi Multhazam, Kemalreza Gibran, KP Hardi Danuwijoyo, Monica Hapsari, Mushowir Bing, Reza Afisina, Ricky Malau, Rio Farabi, Rishma Riyasa, Ruth Marbun, Saleh Husein, Sony Eska, Tatang Ramadhan Bouqie, Tiar Sukma Perdana, Vonny Ratna Indah, Vukar Lodak, dan Yusrizal.

Pameran ini dikuratori oleh Leonhard Bartolomeus, seorang kurator muda yang punya perhatian terhadap perkembangan seni lukis Indonesia. “Melalui tema ‘Rendering Regime’ kami mencoba untuk melihat apa yang sedang dibicarakan seniman masa kini. Dalam konteks kehidupan sosial politik, ‘Rendering Regime’ sering ditemukan, terutama dalam pemberitaan di media-media lokal. Sering kali terjadi pencitraan untuk mengontrol persepsi publik atas apa yang sesungguhnya terjadi. Sementara itu dalam konteks kegiatan artistik, istilah ini dapat dimaknai sebagai upaya dari pelukis untuk menciptakan karya. Pelukis, sebagai pemegang kekuasaan, memiliki kemampuan untuk melakukan manipulasi atas bentuk, ruang, warna, dan garis” ujar Barto, panggilan akrab sang kurator.

Untuk lebih memahami karya-karya para seniman tersebut, diadakan acara tur bersama kurator setiap Sabtu (31 Oktober dan 7 November) pukul 14.00-16.00 WIB. Rangkaian pameran tersebut gratis dan terbuka untuk umum.

Foto: dok. Dewan Kesenian Jakarta

LEAVE A REPLY