Agus Budiyanto, Konsisten Berkarya dengan Media Cat Air

agus

Seni lukis yang merupakan bagian dari seni rupa semakin berkembang, terutama melalui teknik ataupun medianya. Seni lukis yang menggunakan media acrylic memang lebih populer bila dibandingkan dengan media lainnya. Namun, bagi Agus Budiyanto, seorang seniman lukis yang menggunakan media cat air (watercolor) justru merasa bangga atas pilihannya dan tetap konsisten pada media cat air yang selama ini ditekuninya.

Kemampuan melukis menggunakan media cat air yang dijalaninya secara otodidak telah menghasilkan karya yang cemerlang. Profesi yang sudah digelutinya selama 35 tahun ini mampu disejajarkan dengan pelukis watercolor tingkat dunia. Hal ini terbukti, karena saat ini Agus Budiyanto menjadi Ketua International Watercolor Society (IWS) Indonesia, yang berkantor pusat di Turki. Asosiasi ini menurut Agus mempunyai misi yang sangat ideal yaitu membawa perdamaian di dunia melalui media cat air.

“Perjalanan ‘sunyi’ cat air yang pernah saya tempuh selama 35 tahun sekarang menjadi ceria dengan adanya para seniman cat air Indonesia yang semakin tumbuh. Semoga mereka dapat mendobrak hal-hal baru di jagat seni rupa sehingga cat air tidak dimarginalkan lagi oleh publik,” ujar pelukis yang gemar guyon ini.

Lukisan Cat Air Sebagai Terapi

Gaya lukisan Agus yang beraliran impresionisme ini memang sangat kuat. Hal ini terlihat dari karakteristik karyanya yang kuat pada goresannya, warna-warna yang cerah, komposisi terbuka, dan penekanan pada kualitas. Di samping itu, subjek lukisannya tidak terlalu menonjol serta sudut pandangnya yang tidak biasa. Ketika ditanya mengapa memilih media cat air, menurutnya bahwa sejak kecil ia sudah senang menggambar dan cat air inilah satu-satunya media yang dikenalnya melalui ayahnya.

“Cat air ini memiliki tantangan tersendiri. Kelebihan dari pemakaian media ini adalah bila sudah piawai dengan aplikasi cat air tentu akan piawai juga melukis dengan media lainnya. Tantangan bagi Agus adalah banyak hal-hal yang tidak terduga. Lukisan cat air ini bagi saya adalah sebagai terapi dan semua karya saya terinspirasi dari musik,” ujar Agus.

Karya-karya Agus yang berjumlah ribuan ini memang sebagian besar “bermain” dengan warna sedangkan warna-warna ceria sangat mendominasi karyanya, dengan objek yang lebih condong ke abstrak. Dalam satu frame karya, Agus mengomposisikan maksimal tiga warna, agar tidak terlalu “rame” dan lebih fokus. Media yang dipakai adalah kertas (archis atau febriano). Kertas buatan Prancis ini antilembap dan memiliki ukuran standar internasional yaitu 56 cm x 76 cm. Namun, pada tahun 2010 Agus pernah membuat lukisan yang berukuran 6 m x 3 m dengan cara menyambung beberapa kertas.

“Bagi saya, lukisan yang memakai media kertas lebih tahan lama dibandingkan dengan media tekstil. Lihat saja peta yang dibuat pada zaman Belanda dulu, semuanya menggunakan cat air dan kertas yang sampai sekarang masih baik dan tidak luntur. Selama kita memakai bahan baku yang berkualitas, tentu saja akan menghasilkan produk yang berkualitas pula,” ujar Agus

Foto: M. Ifran Nurdin

*Artikel ini dirangkum dari tulisan berjudul “Agus Budiyanto: Watercolor Sebagai Pilihan” yang terbit di majalah Griya Asri edisi November 2015 yang ditulis oleh Denyza Sukma

LEAVE A REPLY