Arsitektur Dalam Sketsa

Berbagai ekspresi dapat dituangkan dalam beragam bentuk. Salah satu bentuknya adalah melalui goresan tangan berupa sketsa (sketching). Sketsa dapat dikatakan sebagai karya yang berdiri sendiri, dan biasanya dilakukan di lokasi (on the spot), serta diselesaikan di tempat itu juga.

Salah seorang “penggila” sketsa adalah Soleh Hadiyana, alumni Jurusan Arsitektur ISI Yogyakarta. Ia mengembangkan dunia gambar ini dengan menitikberatkan pada objek bangunan-bangunan tua dan lingkungan sekitarnya. Karya yang sudah dihasilkan Soleh yaitu sekitar 150-an karya sedangkan mayoritas objeknya merupakan bangunan tua dan lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, dunia arsitektur adalah hasil karya cipta yang dapat memberikan citra terhadap siapa saja yang melihat dan menghuninya. Karya sketsa arsitektur bersifat life time. Sepanjang bangunan tersebut masih tegak berdiri kita masih dapat merekamnya dan menuangkannya dalam bentuk sketsa. Namun, objek-objek lainnya pun cukup menarik untuk dituangkan ke dalam karya sketsa.

Umumnya, media yang dipakai adalah kertas serta alat tulis seperti pinsil, drawing pen, fountain pen, dan spidol. Tinta Cina atau lidi bambu juga dapat dijadikan sebagai alat untuk membuat sketsa sesuai dengan keperluannya. Adapun untuk warna, biasanya tetap menggunakan cat air.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul “Arsitektur Dalam Sketsa” oleh Denyza Sukma yang terbit di Majalah Asri edisi Januari 2015.

Foto : Ifran Nurdin
Koleksi : Soleh Hadiyana

1 COMMENT

  1. Keren sketsa arsitekturnya, bisa menangkap ekspresi dari wajah kota lamanya. Jaman sekarang semuanya sudah serba komputer, kalau masih ada yang menekuni seperti ini patut mendapat apresiasi.

LEAVE A REPLY