Arsitektur Tropis dalam Pandangan Ren Katili

ren1

Berbicara tentang arsitektur tropis, Ren Katili selalu merasa bersemangat untuk berbagi dan mengedukasi siapa pun. Dengan sangat idealis, ia juga selalu menerapkan konsep-konsep rancang bangunan yang merespons iklim tropis ke dalam setiap proyek yang ditanganinya. Tidak berlebihan rasanya apabila konsep rancang bangunan selalu dibuat berdasarkan kondisi iklim, di mana bangunan itu berdiri. Namun, banyak dari kita mengabaikan konsep ideal tersebut. Karena itu, sering kita jumpai arsitektur yang indah tetapi tidak nyaman untuk dihuni.

“Ketika ingin membuat sebuah desain bangunan, kita harus mengetahui bagaimana iklim di wilayahnya dan kebutuhannya. Arsitektur tropis merupakan bagian dari climate responsive design yang dapat merespons iklim,” ujar Ren Katili, arsitek yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Bina Nusantara.

Secara geografis, wilayah Indonesia dilalui garis ekuator. Hal itu membuatnya memiliki karakter sebagai negara tropis yang lembap. Sosok arsitek ramah yang akrab disapa Ren ini, mengungkapkan bahwa sudah seharusnya rancang bangunan di negeri ini merespons karakter iklim tersebut. Ren menjelaskan bahwa terdapat hal-hal yang harus diperhatikan ketika merancang sebuah bangunan di wilayah tropis yang lembap; seperti desain bangunan harus mampu meredam paparan sinar matahari, mampu mengatasi suhu yang tinggi, mampu mengurangi kelembapan yang tinggi, serta dapat menyikapi wilayah dengan curah hujan yang tinggi dan pergerakan udara di daerah tropis yang relatif rendah.

ren2

“Kita harus mencoba memahami wawasan yang lebih luas bahwa di bumi ini terdapat 14 iklim. Setiap negara memiliki cara masing-masing dalam mendirikan bangunan sesuai dengan kondisi iklim di wilayahnya. Arsitektur tropis hanya salah satu cara untuk merespons kondisi iklim tersebut. Sayangnya, kita cenderung mengabaikan, karena tidak menyadari bahwa hal itu harus diberi perhatian khusus,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1973 silam ini mengkritik.

Ren mengumpamakan bangunan itu seperti kulit ketiga manusia yang dibentuk berdasarkan selera setiap pemilik bangunan. Dengan demikian, apa pun bentuk desainnya, selama pemilik bangunan dan perancang mengerti bagaimana memilih material serta mengaplikasikan sesuai dengan kebutuhan iklim yang ada, hal itu dianggap sudah ideal. “Fokus arsitektur tropis bukan terletak pada model tetapi pada prinsip membangunnya,” ujar arsitek yang juga aktif sebagai pengurus nasional di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) periode 2015-2018.

Dalam mendesain bangunan, Ren selalu berangkat dari aspek fungsi sedangkan aspek keindahan tampilan merupakan faktor yang kesekian baginya. “Saya ingin perspektif masyarakat mengenai bangunan mulai bergeser. Dari yang sebelumnya mengutamakan aspek keindahan, menjadi lebih memperhatikan konteks yang cocok untuk diterapkan di bangunan tersebut sesuai dengan kondisi iklim tempat bangunan berdiri. Dengan demikian, tercapailah kenyamanan bagi penghuninya,” terang Ren berharap.

 

Foto: Tri Rizeki Darusman

Artikel ini dirangkum dari tulisan berjudul “Ren Katili : Tentang Arsitektur Tropis” yang terbit di majalah Griya Asri edisi Juli 2016 dan ditulis oleh Adhitya P. Pratama

 

LEAVE A REPLY