Arsitektur Tropis Dan Arsitektur Empat Musim, Apa Bedanya?

arsitektur tropisDalam skala rumah tinggal atau bangunan berukuran sedang (lima lantai) terdapat perbedaan yang signifikan antara arsitektur di negara tropis dan arsitektur di negara empat musim. Di masa lalu, ada istilah arsitektur atap (shelter) dan arsitektur amplop (envelope) sebagai ilustrasi bahwa dua jenis arsitektur ini memiliki ciri yang berbeda dalam mengadaptasi kondisi iklim yang juga berbeda.

Pada negara empat musim, arsitekturnya didominasi oleh unsur atap dan dinding yang tertutup karena mempertimbangkan musim dingin. Salju yang turun pada atap, dalam beberapa jam saja akan menjadi tumpukan es yang berat. Kondisi ini memerlukan solusi berupa kemiringan atap yang agak curam, konstruksi atap yang lebih kuat, dan mengurangi teritisan sehingga salju dapat segera meluncur jatuh ke tanah.

Demikian pula, dengan dinding bangunan, diperlukan dinding yang lebih tebal dan masif agar dinginnya cuaca di luar bangunan menjadi lebih lambat merambat ke dalam bangunan. Selain itu, juga celah-celah dinding atau pada pertemuan dengan atap dibuat rapat dan kokoh. Hal inilah yang menyebabkan munculnya istilah arsitektur envelope.

Foto : Dezeen.com

Arsitektur empat musim ini tentu memerlukan lebih banyak energi, baik untuk pemanasan ruang sejak musim gugur, musim dingin maupun saat awal musim semi. Di samping itu, diperlukan juga energi penerangan saat musim dingin dan pendingin udara jika suhu musim panas agak berlebih.

Sedangkan arsitektur tropis dari segi konstruksi menjadi lebih sederhana dan dapat menggunakan bahan alami yang ringan tetapi tetap kuat, aman, dan fungsional. Dengan pertimbangan ini maka akan lebih banyak teknologi serta alternatif bahan yang dapat digunakan pada arsitektur tropis. Bahkan, dapat dikembangkan menjadi berbagai kemungkinan arsitektur yang lebih green.

Arsitektur tropis pada dasarnya berupa atap yang ditopang oleh satu tiang atau beberapa tiang. Atap ini berfungsi sebagai sarana bernaung atau berlindung dari teriknya matahari atau air hujan tetapi tetap mengupayakan adanya cahaya matahari dan aliran udara segar atau angin yang masuk. Dengan demikian, dapat mengurangi kelembapan udara dan menjadikan bangunan terasa sejuk dan segar.

Posisi atap terhadap dinding masih menyisakan celah dan kelebihan lebar atap yang sering disebut sebagai overstek, overhang atau teritisan. Peran teritisan ini sangat penting pada arsitektur tropis karena diperlukan untuk melindungi sebagian dinding bangunan atau melindungi bukaan pada dinding yang berupa jendela atau lubang angin. Di samping itu, teritisan dapat mengurangi terpaan sinar matahari yang terasa panas dan menghindari kucuran air hujan yang cukup lebat.

LEAVE A REPLY