oleh

Bekerja dengan Kontraktor, Bagaimana Pembayarannya

Bekerja sama dengan kontraktor adalah salah satu pilihan dalam membangun rumah. Akan tetapi, apakah sudah memiliki cukup informasi tentang kontraktor? Salah satunya adalah tentang sistem pembayarannya.
Ada dua cara pembayaran yang paling umum dilakukan di kalangan kontraktor. Yang pertama adalah dengan membaginya ke beberapa tahap atau termin pembayaran. Cara yang lain adalah dengan mempercayakan kontraktor mengelola uang Anda. Berikut ini akan kami paparkan sistem pembayaran tersebut.

Pembayaran Kontraktor dengan Sistem Termin

Sistem ini terbagi atas empat tahap yang dibayar sesuai dengan perkembangan atau progress proyek. Sebelum memulai proyek, Anda harus membayar uang muka atau down payment (DP) sebesar 20-30 persen dari nilai kontrak.

Dari situ, kontraktor akan mulai bekerja. Pada saat pekerjaan sudah mencapai lima puluh persen, pembayaran kedua harus dilakukan. Jumlah yang dibayarkan adalah tiga puluh persen. Pembayaran berikutnya, sebesar dua puluh persen, harus dibayar saat pekerjaan selesai delapan puluh persen.

Kontraktor

Setelah bangunan Anda benar-benar selesai, sisa pembayaran sebesar dua puluh persen dapat Anda bayarkan. Jika ternyata ada pekerjaan yang tidak memuaskan, Anda dapat menahan 5-10 persen dari nilai kontrak sebagai retensi atau garansi. Retensi ini berlaku selama masa tertentu tergantung kesepakatan. Saat masa retensi selesai, sisanya harus Anda bayarkan.

Kontraktor Sebagai Pengelola Proyek

Sistem pembayaran ini juga dikenal dengan nama cost and fee. Dalam sistem pembayaran ini, kontraktor hanya bertindak selaku pengelola proyek saja. Sistemnya bukanlah berupa paket seperti pembayaran dengan sistem termin.

Kontraktor

Kontraktor yang menggunakan sistem ini, akan mengambil sepuluh persen dari nilai proyek untuk upahnya. Sebelum melakukan perjanjian dengan klien, anggaran dan jadwal sudah harus dipersiapkan oleh kontraktor.
Dari situ, cash flow proyek akan terlihat dan klien akan tahu berapa banyak uang yang harus ia siapkan tiap bulan. Jumlahnya bisa berbeda-beda karena pekerjaannya berbeda tiap bulan.

Dengan sistem ini, terkadang biaya tiap bulannya bisa lebih kecil atau lebih besar dari yang sudah dianggarkan. Jika ada sisa anggaran, sisa tersebut akan digunakan di bulan berikutnya. Akan tetapi, jika biaya yang dikeluarkan lebih besar, akan ditagihkan di bulan berikutnya.

About Author: Astri Diana

Born to be a writer adalah kalimat yang tepat untuk mendefinisikan sosok ibu dua anak ini. Dia bahkan sering memanfaatkan waktu senggang dengan menulis cerita-cerita fiksi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed