Beragam Motif Hias pada Seni Kerajinan Indonesia

motih hias

Berbagai daerah dari Nusantara yang berlainan budaya dan adat istiadat, menjadi inspirasi motif hias pada seni kerajinan. Motif ini kemudian diterapkan pada seni ukir, seni batik, seni sulam, atau seni tenun.

Sejak zaman prasejarah orang telah membuat pola hias yang paling sederhana, berupa garis-garis, bulatan, setengah lingkaran, motif tumpal, dan swastika. Motif–motif sederhana ini diulang-ulang menghasilkan pola hias geometris, simple, tapi menarik.

Masyarakat agraris atau petani yang akrab dengan tanaman menginspirasi pola hias berupa bunga, daun, dan suluran. Agama Hindu dan Budha menyumbangkan pola hias manusia dan binatang seperti yang tertera pada candi Borobudur, Prambanan, serta Pawon. Dibuatlah patung-patung, arca, dan ukiran bertema kehidupan manusia.

Seni wayang kulit pun berkembang, mengekspresikan kekayaan budaya kita. Pakaian tari dari wayang orang dibuat sangat kaya ornamen sehingga menarik. Setelah Islam masuk ke Jawa, pola hias manusia dan binatang menyurut. Menurut kepercayaan mereka, dilarang menggambarkan makhluk bernyawa sehingga motif hias bertema ini menghilang.

Seni Islam sangat kaya dengan motif hias sulur dan daun serta melakukan pengulangan motif yang sangat piawai. Hal ini kemudian menghasilkan motif hias yang sangat kaya, diterapkan pada hiasan masjid, bangunan, furnitur sampai pada seni kerajinan tangan. Entah itu, yang dihasilkan oleh perajin Timur Tengah sendiri maupun yang dihasilkan oleh seniman lokal. Pengaruh Cina juga sangat kuat pada seni rupa di Indonesia. Sampai saat ini masih banyak yang menyukai furnitur khas dengan bentuk atau motif hias Cina.  Berbagai sumber budaya yang membaur di negeri kita menghasilkan seni hias dan seni rupa yang sangat kaya.

Foto: Anur E. Mulhadiono

LEAVE A REPLY