Berarsitektur Untuk Kemanusiaan

Pertanyaan tentang apa itu arsitektur telah membawa banyak arsitek generasi muda untuk meredefinisi batas-batas lama dalam dunia praktek keprofesian arsitek. Demikian pula sekumpulan arsitek muda yang menamakan diri ASF, Architecture Sans Frontieres, atau “Arsitektur Tanpa Batas”, dalam format Indonesia. Mereka adalah arsitek generasi baru yang percaya bahwa arsitektur hendaknya mampu menjangkau siapa saja, dimana saja. Semua, tanpa kecuali.

Rumah semi permanen dengan struktur beton di lanti bawah, dan struktur bambu di lantai atas, tidak hanya punya perhatian terhadap keawetan, namun juga keterjangkauan, dan estetika.

Bapak Safrudin, menyambut Griya ASRI dengan senyum terkembang sore itu. Pria paruh baya warga Kampung Tongkol itu dengan semangat bercerita tentang rumah barunya. Walau langit sangat mendung, tak demikian dengan warga Kampung Tongkol, Ancol Utara. Mereka sangat antusias dengan rumah baru mereka, yang mereka bangun secara swadaya bersama ASF. Rumah semi permanen dengan permainan struktur bambu yang cantik itu menaungi 5 keluarga yang tadinya tinggal dalam hunian yang kurang layak. Ini adalah rumah percontohan yang pertama, nantinya perbaikan kampung dan proses pembangunan prasarana pendukung akan dilakukan bertahap.

Kampung Tongkol, Ancol Utara, memang pernah terkena ancaman penggusuran karena lokasinya yang tepat berada di bantaran Kali Ciliwung dan berbatasan langsung dengan situs cagar budaya Gudang Timur. Ancaman penggusuran ini ternyata dilihat sebagai potensi oleh ASF yang memang memilih mengkhususkan diri dalam kegiatan berarsitektur bersama komunitas, tidak di wilayah privat sebagaimana umumnya klien individu atau korporasi. Pilihan ini dibuat dengan dasar bahwa keragaman dalam pelayanan jasa arsitektur itu harus ada, baik di wilayah komunitas dan sektor publik non-pemerintah. Walau lembaga keprofesian arsitek di Indonesia, saat ini, belum terlalu melirik bidang praktek keprofesian seperti ini, tetapi kesadaran berbagi peran itu sangat dirasakan ASF yang kemudian berinisiatif untuk memulainya secara mandiri.

Bapak Jaya, salah satu warga dengan bangga menunjukkan maket rumah mereka yang dibuat oleh ASF Indonesia.

Diharapkan, apa yang sudah dimulai ini nantinya akan menarik lembaga keprofesian untuk berpartisipasi secara etik, baik berupa dukungan secara peraturan maupun secara dana. Karena harus diakui, ketika kita berbicara realitas, kelompok-kelompok informal ini selalu dalam posisi yang lemah. Namun begitu, etika keprofesian arsitek sesungguhnya mengamanatkan bahwa hak mendapatkan pelayanan jasa arsitektur yang baik tetap harus diselenggarakan bagi mereka.

Proyek di Kampung Tongkol ini bukanlah proyek ASF yang pertama. Mereka juga pernah melakukan proyek balai bambu bagi sebuah lembaga non-profit untuk kelestarian lingkungan di daerah Kampung Cipatra, Soreang, Bandung. Dalam proyek slum upgrading, ASF tidak saja menekankan partisipasi dalam membangun lingkungan hidup yang layak, namun juga melakukan fasilitasi dalam membangun kesadaran warga agar mereka bisa ‘merapikan’ diri sendiri dan punya wawasan akan kawasan. Wawasan akan kawasan sangat penting ditanamkan kepada warga agar warga mengerti tentang tujuan akhir dari proyek ini. Keperdulian warga juga akan tumbuh begitu mereka melihat bahwa ini semua untuk kepentingan bersama. Perhatian khusus terhadap komunitas informal memang menjadi pilihan ASF karena pada kenyataannya kelompok ini menjadi penghuni terbesar kota, walau mereka jugalah kelompok yang paling lemah posisinya dibanding warga kota lainnya.

Melalui sesi lokakarya bambu, diharapkan warga tidak hanya berdaya, namun juga mampu menyerap ilmu yang mereka butuhkan untuk membangun lingkungan hidup yang layak bagi mereka sendiri.

Architecture Sans Frontières Indonesia (ASF-ID) adalah organisasi arsitektural non-profit yang mempunyai simpul internasional di Barcelona, Spanyol. ASF-ID bertujuan untuk memberi wawasan sosial kepada arsitek, sarjana arsitektur, maupun mahasiswa lewat wacana maupun aksi arsitektural. Karena bersifat nirlaba, kegiatan ASF-ID didasari oleh volunterisme dan donasi dari anggota maupun simpatisan.

“Seiring perubahan zaman, peran arsitek di Indonesia pun mengalami perkembangan. Arsitek harus menetapkan batasan baru mengenai lingkup keprofesiannya. Profesi ini harus tanggap terhadap kebutuhan jaman. Sudah tidak masanya lagi kita melihat profesi arsitek hanya untuk kaum mampu. Karena nyatanya, arsitektur itu untuk kemanusiaan, untuk semua orang,” Andrea Fitrianto, salah satu anggota ASF Indonesia menuturkan.

Proses pembangunan rumah contoh di Kampung Tongkol. Tampak Andrea dan Kamil dari ASF Indonesia, bersama warga dengan latar rumah yang sedang mereka bangun.

Pendapat ini sebenarnya tidak berlebihan melihat arah pergerakan arsitektur global terkini yang sudah mulai condong kearah studi-studi tentang informalitas. Ini ditandai dengan topik-topik pameran arsitektur dunia, tema biennale, juga peraih Pritzker 2016, Alejandro Aravena, yang sangat condong kearah isu-isu kesetaraan dan keadilan sosial. Kita juga bisa melihat berkembangnya pengetahuan perancangan dan perencanaan partisipatif serta keahlian memfasilitasi oleh arsitek-arsitek muda. Mungkin, demikianlah selayaknya gerak tumbuh keahlian arsitektural, harus diwarnai hubungan timbal balik antara arsitektur dengan ruang hidupnya, menuju arsitektur yang mandiri dan untuk kemanusiaan.

Warga Kampung Tongkol yang bersama-sama “merapikan” diri. Faktor keswadayaan dan partisipasi menjadi kunci gerakan mereka.

ASF Indonesia memang terbilang baru dari segi umur, namun kegiatan mereka boleh dibilang cukup berdampak signifikan. Selain slum upgrading project di Kampung Tongkol dan pembangunan pedesaan di Soreang, ASF Indonesia juga gencar melakukan kegiatan kumpul dan bincang-bincang dengan mahasiswa dan arsitek muda. Mereka juga mengambil bagian dalam penggalangan dana bagi korban gempa di Nepal tahun lalu. Saya ingat, salah satu warga Tongkol, Mas Gugun, pernah bilang ini ke saya, ‘Selama kita bekerja untuk rakyat, kita tidak akan pernah lapar’,” demikian tutup Kamil Muhammad, seorang arsitek lulusan Australia, yang memilih terjun bersama ASF Indonesia dalam melayani kelompok informal kota.

Foto: Dok. ASF

LEAVE A REPLY