Arsitektur

10 36

Rumah yang nyaman bagi seluruh penghuni adalah dambaan. Rumah itu menjadi tempat yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga untuk beraktivitas dan selalu dirindukan saat penghuninya sedang beraktivitas di luar.

Rumah yang seperti itu adalah harapan dari pasangan Hengky dan Lilis, pemilik rumah di daerah Jakarta Barat ini. Harapan itu menjadi bahan diskusi bersama arsitek Yu Sing yang dipercaya untuk merancang desain rumah ini.

Dengan lahan berukuran 10 x 20 m, arsitek bekerja keras untuk mewujudkan berbagai keinginan pemilik. Hasilnya adalah rumah indah yang terasa menyatu bersama alam karena banyak memanfaatkan unsur-unsur alami, seperti papan kayu bekas bantalan rel kereta api yang “menyelubungi” lantai 3, yang dapat diputar untuk disesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari.

Arsitek mendesain rumah ini berlantai tiga. Lantai pertama menjadi area servis yang terdiri dari garasi, gudang, ruang asisten rumah tangga, serta rang pompa dan filter untuk kolam renang. Lantai dua merupakan lantai utama (main floor) yang terdiri dari area kolam renang, sebuah taman, ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Adapun pada lantai tiga terdapat kamar tidur utama, kamar tidur anak dan ruang bersantai untuk anak. Pada bagian atap difungsikan sebagai roof garden, ruang tangki air dan area jemur.

Berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitar rumah ini yang dirancang sangat tertutup karena alasan keamanan dan privasi, rumah ini justru dirancang terbuka ke luar dan seolah-olah “menyatu” dengan alam. Hal ini dilakukan agar penghuni dapat menikmati pemandangan ke arah kolam renang yang dirancang di area samping serta pemandangan hijau ke arah kebun bambu yang berada di seberang lahan.

Aplikasi unsur alam di dalam rumah seperti kayu-kayu bekas, bebatuan alam, tanaman rambat sampai unsur air digunakan untuk memberikan suasana nyaman bagi penghuni rumah.
Untuk meningkatkan sirkulasi udara, arsitek “menyisipkan” sebuah pohon yang ditanam di area void di ruang makan. Area void pada ruang makan ini menerus sampai ke atas dan di bagian atasnya diberi atap kaca serta lubang angin untuk memperlancar sirkulasi udara.

Liputan tentang “Desain Rumah Nyaman Dekat Alam” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 09, September 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman Keluarga hengky K Tedianto dan Lilies Darmawan di Kawasan Jakarta Barat
Arsitektur: Yu Sing dan Tim Desain Akanoma
Kontraktor dan Interior: Teky Widjaja Kodiasdinata – Tim Bangunan Rumah

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-writer: Sumardiono

4 23

Bagaimana mengembangkan perkembangan arsitektur masa kini dengan bangunan yang mengandung nilai-nilai sejarah?

Itulah tantangan yang arsitek muda Ari Wibowo saat membangun rumah milik Eddy Sandjoko berupa rumah tua di tepi Jalan Dr, Radjiman, tidak jauh dari kawasan Laweyan, Solo.

Kawasan sekitar Laweyan terkenal sebagai salah satu tujuan wisata di Solo, Jawa Tengah. Selain terkenal dengan wisata belanja yang membuat ekonomi di sekitar kawasan ini terus bertumbuh, di Laweyan juga terdapat rumah-rumah tua bergaya arsitektur zaman kolonial Belanda yang merupakan identitas sekaligus bagian dari sejarah kawasan ini.

Ide rancangan arsitek Ari Wibowo adalah mengembalikan rumah tua ke tampilan aslinya dan membuatnya hadir bersisian dengan rumah baru yang modern tanpa saling memengaruhi eksistensi rumah tersebut satu sama lain. Hasilnya adalah desain rumah yang menghadirkan perpaduan “dua dunia” nan harmonis.

Pada tahap awal, arsitek berupaya “menyelamatkan” rumah tua yang posisi kavelingnya diapit oleh jalan besar di sisi timur dan jalan kompleks yang lebih kecil di sisi utara. Kondisi eksisting rumah tua ini berupa bangunan induk satu lantai yang berdiri menghadap ke jalan besar dan letaknya bersebelahan dengan bangunan servis serta terdapat halaman belakang dengan total luas lahan 800 m².

Dalam prosesnya, elemen bangunan yang khas seperti atap perisai yang tinggi dipertahankan. Adapun detail bangunan yang bersifat tambahan ataupun finishing yang bukan aslinya dibongkar. Susunan ruang dan fungsi ruangnya ditata kembali sebagaimana susunan rumah aslinya. Rencananya, rumah tua ini akan menjadi kantor (home office). Tahap selanjutnya adalah menentukan posisi dan bentuk rumah baru dengan memperhatikan aliran udara yang lancar di seputar rumah serta menciptakan interaksi harmonis antara rumah baru dan rumah tua.

Rumah baru ditempatkan di halaman belakang dan dibuat pintu masuk baru yang dapat diakses dari jalan di sisi utara kaveling agar privasi pemilik rumah lebih terjaga. Wujud rumah baru ini berupa kubus simpel yang memanjang dari timur ke barat dengan permukaan lantai lebih tinggi yaitu sekitar 1 m dan berjarak 9 m dari rumah tua.

Di area antara rumah baru dan rumah tua dibuat kolam ikan yang cukup besar dengan gemericik air mancur serta dikelilingi oleh pepohonan. Kolam ini diapit oleh jalan setapak dari rumah tua menuju ke rumah baru dan teras lebar untuk duduk santai yang dilapisi oleh papan kayu daur ulang. Sesuai dengan komitmen awal untuk mewujudkan rumah baru yang bergaya modern, arsitek merancang bangunan baru setinggi dua lantai yang kontras dengan rumah tua. Sebagian besar dinding luar rumah, terutama yang menghadap ke arah rumah tua, dibuat dari kaca mulai dari lantai sampai plafon.

Liputan tentang “Perpaduan Dua Dunia di Laweyan Solo” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 07, Juli 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman Keluarga Eddy Sandjoko di Area Baron, Solo, Jawa Tengah
Arsitektur: Ari Wibowo
Kontraktor: Prima Graha
Interior: Pemilik

Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

4 20

Menciptakan suatu hal yang tidak biasa, tentulah tidak semudah seperti cara biasa. Arsitek Andreas Didik dan Anggoro Wahyudianto yang dipercaya untuk mendesain hunian milik Affandy Minarno berhasil mewujudkan suatu gagasan baru yang diaplikasikan pada hunian ini.

Hunian yang sebagian berfungsi sebagai kantor ini dibangun setelah melalui komunikasi dan diskusi tentang desain dengan sang pemilik rumah. Didik yang ingin membuat sesuatu yang berbeda menjadi dasar dari konsep out of the box tersebut. Akhirnya arsitek mengusung bentuk lengkung untuk dijadikan pola dasar pembagian fungsi ruang dan sebagai “pembungkus” ruang dalam. Jadilah kemudian desain arsitektur dengan karakter lengkung.

Konsep tersebut diwujudkan dalam bentuk “permainan” pola bentuk massa bangunan yang menyimpang dari pola grid dan dikembangkan dalam bentuk lengkung.

Berada di atas lahan 496 m² dengan kondisi lahan yang berbentuk persegi, arsitek ingin memberikan konsep yang menyimpang dari keteraturan bentuk yang biasa pada rumah lengkung ini.

Arsitek membedakan dua area utama, yaitu rumah dan kantor, dengan mendesain karakter lengkung yang berbeda. Satu gubahan massa bangunan lengkung besar berada di bagian depan untuk area kantor dan gubahan massa bangunan dengan pola lengkung kecil untuk area hunian. Kedua massa bangunan ini disatukan oleh ruang keluarga yang berada pada lantai dasar. Namun, kedua masssa bangunan dipisahkan oleh kolam dan taman kecil yang merupakan titik ruang interaksi antara ruang dalam dan ruang luar.

Hunian yang berada di lahan cukup tinggi ini memiliki keunggulan dengan adanya panorama alam yang indah ke arah laut lepas. Untuk memanfaatkan pemandangan ini arsitek pun membangun roof garden yang dilengkapi dengan bale bengong sebagai ruang komunal yang segar. Apabila cuaca sedang cerah, dari bale bengong ini penghuni dapat melihat pemandangan Gunung Agung yang di kejauhan berlokasi di arah timur laut.

Secara keseluruhan hunian ini berhasil menghadirkan dua fungsi berbeda tanpa mengganggu setiap fungsinya berkat desain pola ruang yang baik. Apalagi hunian bersuasana tenang dan nyaman, sangat ideal sebagai tempat beristirahat berkat konsep indoor-outdoor yang bernuansa alami.


Liputan tentang “Desain Arsitektur Lengkung di Bali” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 06, Juni 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Owner: Affandy Minarno
Architect: Andreas Didik S., ST. dan Anggoro Wahyudianto, ST. (@dSarchBali)
Interior Designer: Ir. Yeti
Contractor: PT Eka Mitra Talentama (Jakarta)

Penulis: Qisthi Jihan
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-Writer: Sumardiono

1 19

Memiliki rumah tinggal bergaya modern dan menyatu dengan alam tropis merupakan impian masyarakat urban masa kini yang mendambakan suasana indoor-outdoor pada lahan yang terbatas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merangkul lingkungan di luar ke dalam rumah hunian.

Harapan Pemilik Rumah

Konsep arsitektur sebuah rumah hunian diolah untuk menciptakan konsep yang kreatif dan mengekspresikan gaya hidup pemilik rumah. Pada rumah yang berada di Bandung, Jawa Barat, ini sang arsitek Ronald Pallencacoe dan Erick Laurentius S dari konsultan Pranala Architect pun berdiskusi dengan pemilik rumah.

Dalam diskusi awal, pemili rumah merinci kebutuhan ruang yang cukup banyak, antara lain enam buah kanar tidur, fasilitas pendukung seperti ruang fitness dan home theater. Disamping itu, pemilik rumah menginginkan tampak muka hunian yang elegan tetapi tidak mencolok sekaligus melindungi privasi pemilik rumah.

Permintaan pemilik rumah yang paling penting adalah pengolahan ruang dalam yang berorientasi ke arah taman belakang yang mendominasi lahan dengan luas total 2.000 m2.

Desan Arsitektur Rumah Alam

Sebagai langkah pertama, arsitek mengolah lahan yang berbentuk seperti huruf L atau biasa disebut ngantong dengan cara membagi hunian menjadi tiga zona. Zona yang dibentuk adalah zona utama untuk ruangan bersifat publik, zona khusus untuk ruangan bersifat privat, dan zona pendukung untuk area servis. Sebuah area transisi dari halaman depan menuju ke ruang dalam hunian dan ke arah taman belakang diolah menjadi foyer sekaligus galeri pribadi pemilik rumah.

Formasi massa bangunan dirancang menyerupai huruf L dan ditempatkan di tengah lahan agar area sekitar batas kaveling dapat diolah menjadi taman samping. Massa bangunan yang posisinya ditarik jauh dari jalan di muka hunian ini didominiasi komposisi kubus geometris yang lugas dan diatur saling maju-mundur secara dinamis.

Bagaimana desain arsitektur yang ramah dengan alam ini selengkapnya?

Liputan lengkap tentang “Arsitektur Menyatu dengan Alam” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman di Bandung, Jawa Barat
Arsitektur & Interior: Ronald Pallencaoe dan Eric Laurentius S. Dari Konsultan Pranala Architect
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin
co-writer: Sumardiono

0 14

Rumah minimalis, itulah keinginan awal dari keluarga Arif dan Henny, untuk kaveling tanah selaus 375 m2 yang berlokasi di Kemanggisan Jakarta Barat. Mereka menginginkan tampilan hunian yang clean, aplikasi material modern seperti kaca dan baja, serta ruang dalam yang berkesan luas dan menyatu dengan ruang luar.

Pemilik rumah kemudian memberi kepercayaan kepada arsitek Tan Bun Kheng dari BK Architects untuk mewujudkan harapan mereka. Hasilnya adalah sebuah rumah minimalis yang nyaman sekaligus mengekspresikan karakter pemiliknya.

Keunikan rumah minimalis ini terletak pada eksplorasi struktur bangunan dan material mutakhir, dengan komposisi bentuk geometris simpel serta susunan ruang yang transparan.

Tantangan Desain Rumah Minimalis

Tantangan bagi arsitek rumah ini adalah menghadirkan unsur “kejutan” pada desain rumah minimalis sebagaimana yang diharapkan sang pemilik. Sebab, wujud hunian sekitar kompleks ini sudah lama dan cenderung monoton. Tantangan lain adalah kontur lahan yang semakin tinggi dari jalan depan ke arah belakang.

Pada tahap awal, arsitek memanfaatkan perbedaan tinggi tanah di muka lahan menjadi ruangan untuk garasi, area servis, dan ruang serbaguna di lantai dasar. Selanjutnya, massa bangunan dengan formasi menyerupai huruf L ini diolah berupa komposisi kubus geometris yang lugas dan diatur saling maju mundur secara dinamis serta dinaungi oleh atap model pelana.

Ruang masuk (entrance) di lantai satu diolah dengan tangga dan kanopi berupa deretan kolom dekoratif dan kaca sehingga memberi kesan atraktif kepada tamu yang datang. Dinding muka hunian didominasi oleh jendela kaca lebar dan sebagian dinaungi oleh bidang penyekat luar (secondary skin) dari batang aluminium untuk meredam teriknya cahaya matahari. Desain ini berhasil menciptakan “permainan” tiga dimensi sekaligus menghasilkan bayang-bayang yang unik dari cahaya matahari.

Eksperimen Struktur dan Ruang

Dalam proses desain rumah minimalis ini, arsitek bereksperimen dengan struktur yang mengekspos tiang dan balok baja profil di dinding belakang hunian serta menerapkan bidang kaca lebar untuk berbagai elemen mulai dari pagar balkon, jendela sampai kanopi. Konsep desain ini berhasil memaksimalkan sirkulasi udara segar dan memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam hunian serta menghemat konsumsi energi listrik.

Arsitek juga memasang lift berukuran kecil di dekat meja pantri yang memudahkan pemilik rumah untuk mengantar makanan ataupun mengantar piring dan gelas kotor dari ruang makan di lantai satu ke dapur kotor di lantai dasar. Detail arsitektur lain adalah pagar balkon yang dirancang “menembus” jendela kaca dan menerus ke pagar tangga. Ada pula detail berupa lubang udara pada dinding kaca dekat plafon yang disekat oleh kawat ram.

Desain Interior

Furnitur built-in seperti partisi dan kabinet berlapis HPL motif serat kayu di ruang menonton TV serta kabinet pantri berlapis duco warna hitam putih turut melengkapi penataan desain interior. Sebagai aksen, desainer melapisi beberapa bidang dinding dengan wallpaper bermotif unik dan berwarna cerah terutama di kamar-kamar tidur yang diolah dengan tema tertentu.

Soft furnishing berupa gorden dan vitrage jendela, bedcover cantik serta foto-foto keluarga di dinding menambah nyaman hunian ini. Tata cahaya (lighting) juga menjadi perhatian arsitek dan desainer interior agar tercipta suasana “hangat” dan efek “dramatis” terutama di malam hari seperti dengan memakai lampu jenis indirect lighting pada plafon gantung dan lampu meja dengan model mutakhir.

Liputan lengkap tentang “Rumah Minimalis dengan Eksperimen Struktur dan Ruang” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis : Imelda Anwar
Fotografer : Ahkamul Hakim
Co-writer: Sumardiono

Lokasi : Rumah Tinggal di Kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat
Arsitektur : Tan Bun Kheng dari Konsultan BK Architects
Interior : Imelda dari Beyond

0 18

Villa Tantangan terletak di Bali Selatan, sekitar 30 menit dari kawasan bisnis Seminyak atau kurang lebih 1 jam dari Bandara Ngurah Rai. Berlokasi di pesisir Pantai Nyanyi yang menghadap Samudra Hindia, Villa Tantangan bagaikan serpihan “surga kecil” yang dijatuhkan dari langit ke Pulau Dewata, Bali.

Villa yang berada di di atas lahan seluas 6500 m2 ini hadir dengan balutan keindahan alam Pulau Bali yang membuatnya tampak begitu eksklusif. Selain berada di pesisir Samudra Hindia, panorama Villa Tantangan dihiasi gunung berapi di kejauhan yang menambahk keeksotisannya. Ditambah lagi, terdapat kuil di sekitar bangunan villa yang semuanya memberikan persaaan damai, tenang, dan lega.

Villa Ramah Lingkungan karya Arsitek Valentina Audrito

Desain Villa Tantangan dibuat oleh Valentina Audrito, seorang arsitek asal Italia. Bangunan yang lokasinya jauh dari keramaian itu sangat sesuai untuk tempat peristirahatan yang tenang dan nyaman, tempat pelarian dari pekerjaan rutin sehari-hari dan hiruk-pikuk kota.

Berada di daerah yang kurang memiliki fasilitas umum membuat Villa Tantangan dirancang sejak awal agar dapat beroperasi secara mandiri. Keperluan listrik untuk Villa Tantangan disuplai dengan panel-panel surya. Sistem penampungan air hujan dirancang agar dapat mendaur ulang air hujan agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan villa.

Desain Villa Tantangan juga dirancang Valentina agar bangunan hemat energi dan listrik. Ruang-ruang terbuka dengan pola bangunan terpisah membuat cahaya dan udara alami dapat diperoleh dengan mudah. Dengan demikian penggunaan cahaya lampu dan penggunaan AC dapat dikurangi secara signifikan.

Material Bambu di Villa Tantangan

Untuk mewujudkan desain yang alami, Valentina menggunakan banyak material bambu di Villa Tantangan. Sebagai material bangunan, bambu memiliki karakter yang kuat dan tahan lama. Bambu dapat digunakan sebagai elemen rangka maupun elemen estetis.

Kehadiran bambu di Villa Tantangan banyak digunakan pada dinding yang juga berfungsi sebagai pembatas ruang-ruang terbuka. Susunan bambu vertikal tidak menutup ruangan secara masif, tetapi juga dapat menahan angin pantai yang cukup besar.

Liputan lengkap tentang “Villa Tantangan: Serpihan Surga Kecil di Bali” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Owner: Laurent Dubois
Architect: Valentina Audrito
Design Firm: Word of Mouth
Design Team: Fika Herdiani, Dewi Arianti
Project Consultant: Robin Bimantoro
Interior Designer: Josette Plismy
Landscape Designer: John Pettigrew
Lighting Consultant: Reginal Worthington
ESD Consultant: Frederik Stimmel
MEP Contractor: Witala Jaya Abadi
Civil Contractor: Edi Soroso

Penulis: Qisthi Jihan
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-Writer: Sumardiono

1 21

Studio akanoma ini merupakan kantor arsitek Yu Sing dan tim yang berdiri pada lahan seluas 600 m2 di Padalarang, Bandung.

Nama akanoma adalah singkatan dari akar anomali. Akar berhubungan dengan konteks budaya, alam dan manusia. Adapun anomali berhubungan dengan kondisi khusus yang berbeda dari biasanya, sebagai semangat untuk terus bereksperimen dan tidak larut dalam kecenderungan dalam perkembangan arsitektur. Karena itu akanoma dimaksudkan untuk memahami makna “berbeda tetapi tetap berakar”.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemilik sekaligus arsitek agar rancangan studionya terwujud sesuai dengan idenya, diantaranya adalah memunculkan konsep arsitektur nusantara. Hal ini diwujudkan melalui aplikasi material bambu baik sebagai kolom dan tulangan lantai maupun sebagai pelapis dinding, penutup lantai, railing tangga serta kursi. Aplikasi yang menghasilkan suasana tradisional khas Sunda ini juga merupakan salah satu upaya arsitek untuk menerapkan prinsip arsitektur “hijau”.

Selain merupakan tanaman yang mudah terbarukan, bambu yang dianyam juga memperlancar sirkulasi udara melalui celah-celah anyamannya. Namun, konsekuensinya, debu lebih “leluasa” masuk ke dalam bangunan. Arsitek juga menerapkan konsep tradisional Jawa yaitu dengan menempatkan bangunan joglo bekas pada lantai dua. Selain harganya murah, kelebihan bangunan joglo adalah struktur pasaknya yang dapat dibongkar-pasang tanpa menggunakan paku sehingga tidak membuang kayu.

Hal menarik lain pada desain studio ini adalah sebagian bangunan sengaja dirancang sebagai ruang publik yaitu amphitheater dan perpustakaan umum untuk warga sekitar serta terdapat kolam untuk membudidayakan ikan juga lahan yang luas untuk menanam sayur-sayuran. Alangkah baiknya jika sikap Yu Sing ini dapat pula ditiru oleh orang lain sementara itu bangunan studionya ditempatkan pada lantai dua bangunan.

Hal unik lainnya adalah banyaknya penggunaan berbagai material yang tidak lazim. Contohnya aplikasi kerat minuman bekas sebagai bahan rak buku pada ruang perpustakaan, aplikasi papan bekas bekisting yang dicat berwarna-warni sebagai jendela nako, aplikasi pipa PVC yang disusun menjadi pot tanaman dan aplikasi kaca-kaca mobil yang disusun sebagai salah satu elemen pembentuk fasad bangunan. Secara keseluruhan arsitek dapat menampilkan beragam keunikan dan keistimewaan desain dengan mengusung prinsip kesederhanaan dan upaya menekan harga.

Liputan lengkap tentang “Arsitektur untuk Semua ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi : Studio akanoma Milik Yu Sing di Padalarang, Bandung, Jawa Barat
Arsitek : Yu Sing Bersama Tim Desain akanoma

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: M. Ifran Nurdin

0 14

Gaya hidup masa kini menuntut desain arsitektur, desain interior dan mekanikal elektrikal yang terpadu agar dapat memberi kecepatan gerak/mobilitas serta kemudahan kontrol juga akses dari arah mana pun dan waktu kapan pun.

Berbagai elemen dalam bangunan dihadirkan mulai dari cahaya lampu (lighting), pendingin (AC), keamanan pada pintu-jendela (security) dan komunikasi yang mudah hingga peralatan audio video (sound system) saling terhubung dan terkoordinasi di dalam satu sistem otomatisasi yang disebut smart building. Melalui aplikasi konsep ini, pemilik bangunan dapat mengatur tampilan ruang sesuai dengan keinginannya melalui beberapa pilihan skenario suasana/mood sehingga benar-benar memanjakan pemilik bangunan sekaligus menegaskan citra bangunan modern.

Konsep smart lighting misalnya dapat mencakup instalasi kabel listrik, aksesori seperti sakelar dan stopkontak, armatur lampu dan bias cahaya yang dihasilkan oleh lampu melalui satu alat kontrol. Cara memasang perangkat keras (hardware), menyetel program (software) sampai pengawasan sistem ini telah diatur sedemikian rupa baik secara manual maupun secara digital. Namun, ada pula yang telah terpadu dengan internet.

Terdapat banyak pilihan produk smart lighting di pasaran. Setiap produsen dalam industri building intelligent berlomba untuk memikat konsumennya dengan berbagai keunggulan produk. Oleh karena itu konsumen harus lebih memahami seluk-beluk produk yang tergolong high end ini agar tepat pakai dan memuaskan.

Mengacu pada tren mutakhir, produk smart lighting seperti sakelar, bentuknya cenderung simpel minimalis dengan finishing, material dan wiring device yang bervariasi. Warna netral seperti hitam, putih dan cokelat masih menjadi warna favorit. Cahaya yang dihasilkan dari lampu jenis Light Emmitting Diode (LED) yang juga lebih hemat pemakaian energi listriknya akan mendukung program pelestarian lingkungan (eco product) yang tengah marak dewasa ini.

Alat kontrol dalam sistem smart lighting ini juga hadir dilengkapi oleh tombol konvensional atau berupa monitor yang dilengkapi oleh monitor dengan sistem sentuh (touch screen interfaces) sehingga tampil lebih bergaya (stylish). Dengan demikian produk building intelligent ini dapat disesuaikan dengan rancangan baik di hunian maupun bangunan komersial

Liputan lengkap tentang “Konsep Smart Building ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Penulis : Imelda Anwar
Fotografer : Tim Griya Asri

0 13

Hunian yang diliput tim Griya Asri kali ini berlokasi di tengah kota Bandung. Pemilik rumah merupakan dokter spesialis yang memiliki sebuah klinik di pusat kota dan sengaja menempatkan huniannya di belakang bangunan kliniknya.

Karena berada di lingkungan yang padat perumahan dan dengan jalan masuk belakang yang tidak terlalu lebar, maka akan sulit untuk menikmati fasad hunian. Itulah sebabnya arsitek Alex Santoso memutuskan untuk membuat orientasi bangunan ke dalam namun dengan luas lahan yang terbatas yaitu 370 m2 ditambah dengan kebutuhan ruangan yang banyak, tentu akan sulit mewujudkannya.

Maka arsitek merancang sebuah koridor besar dengan ketinggian dua lantai pada area pintu masuk agar depth bangunan tetap dapat dirasakan dan dinikmati pada eksterior hunian.

Awalnya, arsitek diminta untuk merenovasi hunian dua lantai dengan ukuran lahan yang luasnya hanya separuh dari ukuran lahan yang sekarang. Di saat proses konstruksi sedang berlangsung, ternyata pemilik rumah berkesempatan untuk membeli lahan yang berada di sebelahnya, sehingga ukuran lahan secara keseluruhan menjadi dua kali lebih luas. Arsitek pun merancang ulang desainnya dengan membuat konsep split level agar desain baru tidak mengubah struktur yang sudah terbangun. Dengan konsep split level tersebut, pembagian area publik dan area privat pada ruang-ruang di dalam hunian menjadi lebih mudah.

Arsitek mengusung konsep tropis pada desain hunian dengan memperhatikan pemanfaatan cahaya alami melalui bukaan dan skylight, perancangan sistem ventilasi alami yang baik dengan sistem cross ventilation serta menjaga suhu di dalam ruangan dengan penggunaan atap yang tinggi.

Arsitek juga menggarap detail pada tangga yang dibuat double loaded agar dapat memberikan daya tarik. Tangga utama dibuat dengan konstruksi baja. Uniknya, satu sisi plat baja bertumpu pada balok-balok IWF, sedangkan sisi lainnya bergantung pada handrail baja yang dibungkus dengan papan kayu. Dengan demikian anak tangga terlihat tipis dan ringan.

Unsur rumah tropis juga terlihat dari pengolahan tanaman dan elemen lanskap yang berperan “melembutkan” karakter bangunan yang kaku dan sebagai “partisi hidup” untuk menjaga privasi dengan cara yang indah. Pada bagian dalam bangunan, banyak digunakan taman kering dan coral garden.

Liputan lengkap tentang “Hunian Tropis Urban” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 03, Maret 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman di Kawasan Sukajadi, Bandung
Arsitek: Alex Santoso – Wastu Cipta Parama

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: M. Ifran Nurdin

1 12

Gagasan desain rumah tinggal ini berawal dari keinginan pemilik rumah untuk tinggal di hunian modern yang mewah dengan suasana tropis yang menyegarkan.

Desain hunian dan lanskap yang berlokasi di kompleks Solo Baru, Solo, Jawa Tengah ini dipercayakan kepada arsitek muda Mozes Iwan Mulyawan dari konsultan Mosaic.

Di tahap awal, arsitek merancang massa bangunan berbentuk huruf L di lahan seluas 1140 m² dengan pagar muka yang cenderung tertutup untuk menjaga keamanan dan privasi penghuni. Fasad hunian sengaja didesain seolah-olah terdiri dari dua massa bangunan dengan model atap yang berbeda yaitu atap perisai dan atap datar yang dihias dengan detail ornamen khas gaya kolonial sehingga tampil atraktif.

Pepohonan dan tanaman merambat berhasil mengurangi kesan masif pada area pintu masuk utama (entrance). Di halaman belakang, arsitek merancang kolam renang dan dek kayu untuk bersantai serta menata lanskap dengan pohon khas tropis.

Ruang duduk keluarga, ruang makan dan pantri ditata transparan tanpa dinding penyekat serta berorientasi ke arah halaman belakang.

Kamar tidur utama dan kamar mandi yang berada di lantai atas ditata menghadap ke arah kolam renang dan ke arah taman sehingga diperoleh pemandangan terbaik serta terhindar dari bisingnya suara lalu lintas di depan hunian.

Halaman luar dengan ruang dalam ini sebagian besar disekat oleh jendela-pintu kaca lebar agar dapat memaksimalkan sirkulasi udara segar, masuknya cahaya alami dan kontinuitas visual antarruang yang “mengalir” serta berkesan lapang.

Naik ke lantai atas, arsitek merancang area tangga yang menarik dan ruang duduk serta dua buah kamar tidur anak yang masing-masing dilengkapi oleh balkon menghadap ke arah halaman.

Rancangan tata ruang ini berhasil menciptakan kesan ruang luar yang “merangkul” ruang dalam (indoor-outdoor) dan tentu saja didukung oleh aplikasi material alami.

Arsitek banyak menerapkan kayu solid untuk menciptakan kesan “hangat” dan kesan elegan. Material alami ini juga diimbangi oleh bahan pabrikasi seperti lembaran baja bermotif floral yang dilubangi dengan laser cutting dan dipasang sebagai pelapis plafon di teras.

Untuk desain interior, pemilik rumah dan arsitek sepakat untuk menerapkan gaya modern dengan sentuhan gaya kolonial ataupun gaya klasik Eropa dan dipadu dengan aksen berupa koleksi benda seni (artwork) nan eksotik. Warna-warna alami (earth tones) terang seperti gradasi warna cokelat sampai putih gading diekspos dari material yang dipakai dalam ruangan. Kamar tidur utama didominasi oleh nuansa warna cokelat tembaga dengan kepala ranjang yang berbalut bahan suede dan dinding berlapis wallpaper motif dedaunan. Suasana yang serupa juga hadir di kamar tidur utama sedangkan kamar tidur tamu justru didominasi oleh warna putih yang elegan.

Tata cahaya (lighting) juga diolah agar suasana tampil lebih ”hidup” serta berkesan ”dramatis”.

Liputan lengkap tentang “Impresi Kontemporer yang Elegan” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 03, Maret 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman di Kompleks Solo Baru, Solo, Jawa Tengah
Arsitektur dan Lanskap: Mozes Iwan Mulyawan dari Mosaic
Interior: Arsitek Bersama dengan Pemilik Rumah

Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin

Fega


DLM

Random Post

0 17
Hunian berukuran 20 m x 25 m yang berada pada lahan huk ini menampilkan “permainan” kubus yang dinamis pada fasad yang memiliki dua muka...