Arsitektur

19 181

Merenovasi rumah yang sudah ada dan tak terawat menjadi rumah baru dengan wujud yang berbeda dari sebelumnya bukanlah pekerjaan mudah. Berbagai kondisi yang ada pada rumah lama perlu dipertimbangkan dan menjadi tantangan tersendiri, apakah dibongkar, diganti, dimanfaatkan, atau tetap dibiarkan. Kondisi struktural dan material pada bangunan lama adalah bagian dari tantangan itu.

Menuju Rumah Baru

Konsep rancangan rumah di atas lahan 180 m2 ini menyesuaikan dengan bentuk rumah yang ada, dipadukan dengan rencana kebutuhan ruang yang dikehendaki sehingga tercipta ruang-ruang yang optimal dengan bentukan geometris dinamis.

Sebagian besar ruang pada rumah ini didesain ulang kecuali satu kamar tidur dan kamar mandi di lantai dasar yang tetap dipertahankan pada kondisi yang ada.

Hunian ini awalnya didesan hanya dua lantai. Tetapi seiring dengan proses konstruksi, tercipta sebuah ruangan tambahan di lantai paling atas sehingga menambah luas total bangunan menjadi 220 m2.

Untuk renovasi rumah ini, dilakukan penambahan pondasi di beberapa titik untuk menopang struktur rumah baru sebagai akibat adanya penambahan luas ruang pada bagian atas hunian. Lantai kayu pada rumah lama diganti menjadi plat lantai beton dengan finishing homogeneous tile untuk mempermudah perawatan.

Memanfaatkan Material Rumah Lama

Salah satu tantangan dalam merenovasi rumah adalah memperlakukan materi yang sudah ada pada rumah lama.

Pada kasus renovasi ini, arsitek dengan cermat memanfaatkan kayu bangkirai yang digunakan pada lantai dua semipermanen hunian sebelumnya sebagai pelapis anak tangga. Penutup lantai berupa kayu bekas rel kereta api diamnfaatkan pada area ruang makan.

Di samping itu, material yang diperoleh dari rekan pemilik rumah pun diterapkan pada lantai yang didominasi dengan finishing acian. Sebagian besar dinding di-finishing acian kasar membuat sosok bangunan tampil “jujur” tetapi tetap memiliki aksen menarik pada susunan dinding rooster.

Artikel lengkap tentang “Renovasi Rumah yang Inovatif” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 11, November 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan. [/acc_item]

 

 

Penulis: Mufliah Nurbaiti
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

6 98

Rumah teduh dan alami yang menyatu bersama lingkungan sekitarnya adalah dambaan setiap orang. Itulah rumah di Tanah Teduh, Jatipadang, Jakarta Selatan yang dikerjakan oleh sepuluh arsitek kenamaan Indonesia.

Dalam proses merancang rumah ini, para arsitek berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menebang pohon yang ada. Dengan pertimbangan ini, pohon-pohon besar tetap ada dan memberikan suasana asri, rimbun, dan teduh sesuai dengan namanya.

Salah satu rumah itu merupakan karya Andra Matin, arsitek yang juga principal architect perancangan kawasan Tanah Teduh.

Rumah tinggal ini dibangun dengan bentuk yang menyerupai huruf L, sebagai respons terhadap bentuk lahan. Ruang makan yang dirancang terpisah dimaksudkan untuk tampil seperti sebuah gazebo yang mengambang di atas air, dengan pemandangan ke arah kebun. Koridor pada lantai atas dirancang dengan aplikasi dinding kaca untuk menghindari suasana lorong panjang yang sempit dan gelap. Adapun sirkulasi udara yang lancar dimungkinkan berkat lubang panjang yang berada di atas struktur kaca tersebut, dan “diselimuti” oleh kawat ayam untuk menjaga agar nyamuk tidak dapat masuk ke dalam ruangan.

Artikel lengkap tentang “Rumah Teduh di Tanah Teduh” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 11, November 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Rumah #02 di Kawasan Tanah Teduh, Jatipadang, Jakarta
Arsitek: Andra Matin

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-writer: Sumardiono

11 109

Rumah yang nyaman bagi seluruh penghuni adalah dambaan. Rumah itu menjadi tempat yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga untuk beraktivitas dan selalu dirindukan saat penghuninya sedang beraktivitas di luar.

Rumah yang seperti itu adalah harapan dari pasangan Hengky dan Lilis, pemilik rumah di daerah Jakarta Barat ini. Harapan itu menjadi bahan diskusi bersama arsitek Yu Sing yang dipercaya untuk merancang desain rumah ini.

Dengan lahan berukuran 10 x 20 m, arsitek bekerja keras untuk mewujudkan berbagai keinginan pemilik. Hasilnya adalah rumah indah yang terasa menyatu bersama alam karena banyak memanfaatkan unsur-unsur alami, seperti papan kayu bekas bantalan rel kereta api yang “menyelubungi” lantai 3, yang dapat diputar untuk disesuaikan dengan arah datangnya sinar matahari.

Arsitek mendesain rumah ini berlantai tiga. Lantai pertama menjadi area servis yang terdiri dari garasi, gudang, ruang asisten rumah tangga, serta rang pompa dan filter untuk kolam renang. Lantai dua merupakan lantai utama (main floor) yang terdiri dari area kolam renang, sebuah taman, ruang keluarga, ruang makan dan dapur. Adapun pada lantai tiga terdapat kamar tidur utama, kamar tidur anak dan ruang bersantai untuk anak. Pada bagian atap difungsikan sebagai roof garden, ruang tangki air dan area jemur.

Berbeda dengan rumah-rumah lain di sekitar rumah ini yang dirancang sangat tertutup karena alasan keamanan dan privasi, rumah ini justru dirancang terbuka ke luar dan seolah-olah “menyatu” dengan alam. Hal ini dilakukan agar penghuni dapat menikmati pemandangan ke arah kolam renang yang dirancang di area samping serta pemandangan hijau ke arah kebun bambu yang berada di seberang lahan.

Aplikasi unsur alam di dalam rumah seperti kayu-kayu bekas, bebatuan alam, tanaman rambat sampai unsur air digunakan untuk memberikan suasana nyaman bagi penghuni rumah.
Untuk meningkatkan sirkulasi udara, arsitek “menyisipkan” sebuah pohon yang ditanam di area void di ruang makan. Area void pada ruang makan ini menerus sampai ke atas dan di bagian atasnya diberi atap kaca serta lubang angin untuk memperlancar sirkulasi udara.

Liputan tentang “Desain Rumah Nyaman Dekat Alam” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 09, September 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman Keluarga hengky K Tedianto dan Lilies Darmawan di Kawasan Jakarta Barat
Arsitektur: Yu Sing dan Tim Desain Akanoma
Kontraktor dan Interior: Teky Widjaja Kodiasdinata – Tim Bangunan Rumah

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-writer: Sumardiono

4 81

Bagaimana mengembangkan perkembangan arsitektur masa kini dengan bangunan yang mengandung nilai-nilai sejarah?

Itulah tantangan yang arsitek muda Ari Wibowo saat membangun rumah milik Eddy Sandjoko berupa rumah tua di tepi Jalan Dr, Radjiman, tidak jauh dari kawasan Laweyan, Solo.

Kawasan sekitar Laweyan terkenal sebagai salah satu tujuan wisata di Solo, Jawa Tengah. Selain terkenal dengan wisata belanja yang membuat ekonomi di sekitar kawasan ini terus bertumbuh, di Laweyan juga terdapat rumah-rumah tua bergaya arsitektur zaman kolonial Belanda yang merupakan identitas sekaligus bagian dari sejarah kawasan ini.

Ide rancangan arsitek Ari Wibowo adalah mengembalikan rumah tua ke tampilan aslinya dan membuatnya hadir bersisian dengan rumah baru yang modern tanpa saling memengaruhi eksistensi rumah tersebut satu sama lain. Hasilnya adalah desain rumah yang menghadirkan perpaduan “dua dunia” nan harmonis.

Pada tahap awal, arsitek berupaya “menyelamatkan” rumah tua yang posisi kavelingnya diapit oleh jalan besar di sisi timur dan jalan kompleks yang lebih kecil di sisi utara. Kondisi eksisting rumah tua ini berupa bangunan induk satu lantai yang berdiri menghadap ke jalan besar dan letaknya bersebelahan dengan bangunan servis serta terdapat halaman belakang dengan total luas lahan 800 m².

Dalam prosesnya, elemen bangunan yang khas seperti atap perisai yang tinggi dipertahankan. Adapun detail bangunan yang bersifat tambahan ataupun finishing yang bukan aslinya dibongkar. Susunan ruang dan fungsi ruangnya ditata kembali sebagaimana susunan rumah aslinya. Rencananya, rumah tua ini akan menjadi kantor (home office). Tahap selanjutnya adalah menentukan posisi dan bentuk rumah baru dengan memperhatikan aliran udara yang lancar di seputar rumah serta menciptakan interaksi harmonis antara rumah baru dan rumah tua.

Rumah baru ditempatkan di halaman belakang dan dibuat pintu masuk baru yang dapat diakses dari jalan di sisi utara kaveling agar privasi pemilik rumah lebih terjaga. Wujud rumah baru ini berupa kubus simpel yang memanjang dari timur ke barat dengan permukaan lantai lebih tinggi yaitu sekitar 1 m dan berjarak 9 m dari rumah tua.

Di area antara rumah baru dan rumah tua dibuat kolam ikan yang cukup besar dengan gemericik air mancur serta dikelilingi oleh pepohonan. Kolam ini diapit oleh jalan setapak dari rumah tua menuju ke rumah baru dan teras lebar untuk duduk santai yang dilapisi oleh papan kayu daur ulang. Sesuai dengan komitmen awal untuk mewujudkan rumah baru yang bergaya modern, arsitek merancang bangunan baru setinggi dua lantai yang kontras dengan rumah tua. Sebagian besar dinding luar rumah, terutama yang menghadap ke arah rumah tua, dibuat dari kaca mulai dari lantai sampai plafon.

Liputan tentang “Perpaduan Dua Dunia di Laweyan Solo” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 07, Juli 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman Keluarga Eddy Sandjoko di Area Baron, Solo, Jawa Tengah
Arsitektur: Ari Wibowo
Kontraktor: Prima Graha
Interior: Pemilik

Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

4 84

Menciptakan suatu hal yang tidak biasa, tentulah tidak semudah seperti cara biasa. Arsitek Andreas Didik dan Anggoro Wahyudianto yang dipercaya untuk mendesain hunian milik Affandy Minarno berhasil mewujudkan suatu gagasan baru yang diaplikasikan pada hunian ini.

Hunian yang sebagian berfungsi sebagai kantor ini dibangun setelah melalui komunikasi dan diskusi tentang desain dengan sang pemilik rumah. Didik yang ingin membuat sesuatu yang berbeda menjadi dasar dari konsep out of the box tersebut. Akhirnya arsitek mengusung bentuk lengkung untuk dijadikan pola dasar pembagian fungsi ruang dan sebagai “pembungkus” ruang dalam. Jadilah kemudian desain arsitektur dengan karakter lengkung.

Konsep tersebut diwujudkan dalam bentuk “permainan” pola bentuk massa bangunan yang menyimpang dari pola grid dan dikembangkan dalam bentuk lengkung.

Berada di atas lahan 496 m² dengan kondisi lahan yang berbentuk persegi, arsitek ingin memberikan konsep yang menyimpang dari keteraturan bentuk yang biasa pada rumah lengkung ini.

Arsitek membedakan dua area utama, yaitu rumah dan kantor, dengan mendesain karakter lengkung yang berbeda. Satu gubahan massa bangunan lengkung besar berada di bagian depan untuk area kantor dan gubahan massa bangunan dengan pola lengkung kecil untuk area hunian. Kedua massa bangunan ini disatukan oleh ruang keluarga yang berada pada lantai dasar. Namun, kedua masssa bangunan dipisahkan oleh kolam dan taman kecil yang merupakan titik ruang interaksi antara ruang dalam dan ruang luar.

Hunian yang berada di lahan cukup tinggi ini memiliki keunggulan dengan adanya panorama alam yang indah ke arah laut lepas. Untuk memanfaatkan pemandangan ini arsitek pun membangun roof garden yang dilengkapi dengan bale bengong sebagai ruang komunal yang segar. Apabila cuaca sedang cerah, dari bale bengong ini penghuni dapat melihat pemandangan Gunung Agung yang di kejauhan berlokasi di arah timur laut.

Secara keseluruhan hunian ini berhasil menghadirkan dua fungsi berbeda tanpa mengganggu setiap fungsinya berkat desain pola ruang yang baik. Apalagi hunian bersuasana tenang dan nyaman, sangat ideal sebagai tempat beristirahat berkat konsep indoor-outdoor yang bernuansa alami.


Liputan tentang “Desain Arsitektur Lengkung di Bali” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 06, Juni 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Owner: Affandy Minarno
Architect: Andreas Didik S., ST. dan Anggoro Wahyudianto, ST. (@dSarchBali)
Interior Designer: Ir. Yeti
Contractor: PT Eka Mitra Talentama (Jakarta)

Penulis: Qisthi Jihan
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-Writer: Sumardiono

1 68

Memiliki rumah tinggal bergaya modern dan menyatu dengan alam tropis merupakan impian masyarakat urban masa kini yang mendambakan suasana indoor-outdoor pada lahan yang terbatas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merangkul lingkungan di luar ke dalam rumah hunian.

Harapan Pemilik Rumah

Konsep arsitektur sebuah rumah hunian diolah untuk menciptakan konsep yang kreatif dan mengekspresikan gaya hidup pemilik rumah. Pada rumah yang berada di Bandung, Jawa Barat, ini sang arsitek Ronald Pallencacoe dan Erick Laurentius S dari konsultan Pranala Architect pun berdiskusi dengan pemilik rumah.

Dalam diskusi awal, pemili rumah merinci kebutuhan ruang yang cukup banyak, antara lain enam buah kanar tidur, fasilitas pendukung seperti ruang fitness dan home theater. Disamping itu, pemilik rumah menginginkan tampak muka hunian yang elegan tetapi tidak mencolok sekaligus melindungi privasi pemilik rumah.

Permintaan pemilik rumah yang paling penting adalah pengolahan ruang dalam yang berorientasi ke arah taman belakang yang mendominasi lahan dengan luas total 2.000 m2.

Desan Arsitektur Rumah Alam

Sebagai langkah pertama, arsitek mengolah lahan yang berbentuk seperti huruf L atau biasa disebut ngantong dengan cara membagi hunian menjadi tiga zona. Zona yang dibentuk adalah zona utama untuk ruangan bersifat publik, zona khusus untuk ruangan bersifat privat, dan zona pendukung untuk area servis. Sebuah area transisi dari halaman depan menuju ke ruang dalam hunian dan ke arah taman belakang diolah menjadi foyer sekaligus galeri pribadi pemilik rumah.

Formasi massa bangunan dirancang menyerupai huruf L dan ditempatkan di tengah lahan agar area sekitar batas kaveling dapat diolah menjadi taman samping. Massa bangunan yang posisinya ditarik jauh dari jalan di muka hunian ini didominiasi komposisi kubus geometris yang lugas dan diatur saling maju-mundur secara dinamis.

Bagaimana desain arsitektur yang ramah dengan alam ini selengkapnya?

Liputan lengkap tentang “Arsitektur Menyatu dengan Alam” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Kediaman di Bandung, Jawa Barat
Arsitektur & Interior: Ronald Pallencaoe dan Eric Laurentius S. Dari Konsultan Pranala Architect
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin
co-writer: Sumardiono

0 50

Rumah minimalis, itulah keinginan awal dari keluarga Arif dan Henny, untuk kaveling tanah selaus 375 m2 yang berlokasi di Kemanggisan Jakarta Barat. Mereka menginginkan tampilan hunian yang clean, aplikasi material modern seperti kaca dan baja, serta ruang dalam yang berkesan luas dan menyatu dengan ruang luar.

Pemilik rumah kemudian memberi kepercayaan kepada arsitek Tan Bun Kheng dari BK Architects untuk mewujudkan harapan mereka. Hasilnya adalah sebuah rumah minimalis yang nyaman sekaligus mengekspresikan karakter pemiliknya.

Keunikan rumah minimalis ini terletak pada eksplorasi struktur bangunan dan material mutakhir, dengan komposisi bentuk geometris simpel serta susunan ruang yang transparan.

Tantangan Desain Rumah Minimalis

Tantangan bagi arsitek rumah ini adalah menghadirkan unsur “kejutan” pada desain rumah minimalis sebagaimana yang diharapkan sang pemilik. Sebab, wujud hunian sekitar kompleks ini sudah lama dan cenderung monoton. Tantangan lain adalah kontur lahan yang semakin tinggi dari jalan depan ke arah belakang.

Pada tahap awal, arsitek memanfaatkan perbedaan tinggi tanah di muka lahan menjadi ruangan untuk garasi, area servis, dan ruang serbaguna di lantai dasar. Selanjutnya, massa bangunan dengan formasi menyerupai huruf L ini diolah berupa komposisi kubus geometris yang lugas dan diatur saling maju mundur secara dinamis serta dinaungi oleh atap model pelana.

Ruang masuk (entrance) di lantai satu diolah dengan tangga dan kanopi berupa deretan kolom dekoratif dan kaca sehingga memberi kesan atraktif kepada tamu yang datang. Dinding muka hunian didominasi oleh jendela kaca lebar dan sebagian dinaungi oleh bidang penyekat luar (secondary skin) dari batang aluminium untuk meredam teriknya cahaya matahari. Desain ini berhasil menciptakan “permainan” tiga dimensi sekaligus menghasilkan bayang-bayang yang unik dari cahaya matahari.

Eksperimen Struktur dan Ruang

Dalam proses desain rumah minimalis ini, arsitek bereksperimen dengan struktur yang mengekspos tiang dan balok baja profil di dinding belakang hunian serta menerapkan bidang kaca lebar untuk berbagai elemen mulai dari pagar balkon, jendela sampai kanopi. Konsep desain ini berhasil memaksimalkan sirkulasi udara segar dan memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam hunian serta menghemat konsumsi energi listrik.

Arsitek juga memasang lift berukuran kecil di dekat meja pantri yang memudahkan pemilik rumah untuk mengantar makanan ataupun mengantar piring dan gelas kotor dari ruang makan di lantai satu ke dapur kotor di lantai dasar. Detail arsitektur lain adalah pagar balkon yang dirancang “menembus” jendela kaca dan menerus ke pagar tangga. Ada pula detail berupa lubang udara pada dinding kaca dekat plafon yang disekat oleh kawat ram.

Desain Interior

Furnitur built-in seperti partisi dan kabinet berlapis HPL motif serat kayu di ruang menonton TV serta kabinet pantri berlapis duco warna hitam putih turut melengkapi penataan desain interior. Sebagai aksen, desainer melapisi beberapa bidang dinding dengan wallpaper bermotif unik dan berwarna cerah terutama di kamar-kamar tidur yang diolah dengan tema tertentu.

Soft furnishing berupa gorden dan vitrage jendela, bedcover cantik serta foto-foto keluarga di dinding menambah nyaman hunian ini. Tata cahaya (lighting) juga menjadi perhatian arsitek dan desainer interior agar tercipta suasana “hangat” dan efek “dramatis” terutama di malam hari seperti dengan memakai lampu jenis indirect lighting pada plafon gantung dan lampu meja dengan model mutakhir.

Liputan lengkap tentang “Rumah Minimalis dengan Eksperimen Struktur dan Ruang” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis : Imelda Anwar
Fotografer : Ahkamul Hakim
Co-writer: Sumardiono

Lokasi : Rumah Tinggal di Kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat
Arsitektur : Tan Bun Kheng dari Konsultan BK Architects
Interior : Imelda dari Beyond

0 74

Villa Tantangan terletak di Bali Selatan, sekitar 30 menit dari kawasan bisnis Seminyak atau kurang lebih 1 jam dari Bandara Ngurah Rai. Berlokasi di pesisir Pantai Nyanyi yang menghadap Samudra Hindia, Villa Tantangan bagaikan serpihan “surga kecil” yang dijatuhkan dari langit ke Pulau Dewata, Bali.

Villa yang berada di di atas lahan seluas 6500 m2 ini hadir dengan balutan keindahan alam Pulau Bali yang membuatnya tampak begitu eksklusif. Selain berada di pesisir Samudra Hindia, panorama Villa Tantangan dihiasi gunung berapi di kejauhan yang menambahk keeksotisannya. Ditambah lagi, terdapat kuil di sekitar bangunan villa yang semuanya memberikan persaaan damai, tenang, dan lega.

Villa Ramah Lingkungan karya Arsitek Valentina Audrito

Desain Villa Tantangan dibuat oleh Valentina Audrito, seorang arsitek asal Italia. Bangunan yang lokasinya jauh dari keramaian itu sangat sesuai untuk tempat peristirahatan yang tenang dan nyaman, tempat pelarian dari pekerjaan rutin sehari-hari dan hiruk-pikuk kota.

Berada di daerah yang kurang memiliki fasilitas umum membuat Villa Tantangan dirancang sejak awal agar dapat beroperasi secara mandiri. Keperluan listrik untuk Villa Tantangan disuplai dengan panel-panel surya. Sistem penampungan air hujan dirancang agar dapat mendaur ulang air hujan agar dapat digunakan untuk berbagai keperluan villa.

Desain Villa Tantangan juga dirancang Valentina agar bangunan hemat energi dan listrik. Ruang-ruang terbuka dengan pola bangunan terpisah membuat cahaya dan udara alami dapat diperoleh dengan mudah. Dengan demikian penggunaan cahaya lampu dan penggunaan AC dapat dikurangi secara signifikan.

Material Bambu di Villa Tantangan

Untuk mewujudkan desain yang alami, Valentina menggunakan banyak material bambu di Villa Tantangan. Sebagai material bangunan, bambu memiliki karakter yang kuat dan tahan lama. Bambu dapat digunakan sebagai elemen rangka maupun elemen estetis.

Kehadiran bambu di Villa Tantangan banyak digunakan pada dinding yang juga berfungsi sebagai pembatas ruang-ruang terbuka. Susunan bambu vertikal tidak menutup ruangan secara masif, tetapi juga dapat menahan angin pantai yang cukup besar.

Liputan lengkap tentang “Villa Tantangan: Serpihan Surga Kecil di Bali” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Owner: Laurent Dubois
Architect: Valentina Audrito
Design Firm: Word of Mouth
Design Team: Fika Herdiani, Dewi Arianti
Project Consultant: Robin Bimantoro
Interior Designer: Josette Plismy
Landscape Designer: John Pettigrew
Lighting Consultant: Reginal Worthington
ESD Consultant: Frederik Stimmel
MEP Contractor: Witala Jaya Abadi
Civil Contractor: Edi Soroso

Penulis: Qisthi Jihan
Fotografer: Ahkamul Hakim
Co-Writer: Sumardiono

1 64

Studio akanoma ini merupakan kantor arsitek Yu Sing dan tim yang berdiri pada lahan seluas 600 m2 di Padalarang, Bandung.

Nama akanoma adalah singkatan dari akar anomali. Akar berhubungan dengan konteks budaya, alam dan manusia. Adapun anomali berhubungan dengan kondisi khusus yang berbeda dari biasanya, sebagai semangat untuk terus bereksperimen dan tidak larut dalam kecenderungan dalam perkembangan arsitektur. Karena itu akanoma dimaksudkan untuk memahami makna “berbeda tetapi tetap berakar”.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemilik sekaligus arsitek agar rancangan studionya terwujud sesuai dengan idenya, diantaranya adalah memunculkan konsep arsitektur nusantara. Hal ini diwujudkan melalui aplikasi material bambu baik sebagai kolom dan tulangan lantai maupun sebagai pelapis dinding, penutup lantai, railing tangga serta kursi. Aplikasi yang menghasilkan suasana tradisional khas Sunda ini juga merupakan salah satu upaya arsitek untuk menerapkan prinsip arsitektur “hijau”.

Selain merupakan tanaman yang mudah terbarukan, bambu yang dianyam juga memperlancar sirkulasi udara melalui celah-celah anyamannya. Namun, konsekuensinya, debu lebih “leluasa” masuk ke dalam bangunan. Arsitek juga menerapkan konsep tradisional Jawa yaitu dengan menempatkan bangunan joglo bekas pada lantai dua. Selain harganya murah, kelebihan bangunan joglo adalah struktur pasaknya yang dapat dibongkar-pasang tanpa menggunakan paku sehingga tidak membuang kayu.

Hal menarik lain pada desain studio ini adalah sebagian bangunan sengaja dirancang sebagai ruang publik yaitu amphitheater dan perpustakaan umum untuk warga sekitar serta terdapat kolam untuk membudidayakan ikan juga lahan yang luas untuk menanam sayur-sayuran. Alangkah baiknya jika sikap Yu Sing ini dapat pula ditiru oleh orang lain sementara itu bangunan studionya ditempatkan pada lantai dua bangunan.

Hal unik lainnya adalah banyaknya penggunaan berbagai material yang tidak lazim. Contohnya aplikasi kerat minuman bekas sebagai bahan rak buku pada ruang perpustakaan, aplikasi papan bekas bekisting yang dicat berwarna-warni sebagai jendela nako, aplikasi pipa PVC yang disusun menjadi pot tanaman dan aplikasi kaca-kaca mobil yang disusun sebagai salah satu elemen pembentuk fasad bangunan. Secara keseluruhan arsitek dapat menampilkan beragam keunikan dan keistimewaan desain dengan mengusung prinsip kesederhanaan dan upaya menekan harga.

Liputan lengkap tentang “Arsitektur untuk Semua ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi : Studio akanoma Milik Yu Sing di Padalarang, Bandung, Jawa Barat
Arsitek : Yu Sing Bersama Tim Desain akanoma

Penulis: Okita Sisy Tiara
Fotografer: M. Ifran Nurdin

0 60

Gaya hidup masa kini menuntut desain arsitektur, desain interior dan mekanikal elektrikal yang terpadu agar dapat memberi kecepatan gerak/mobilitas serta kemudahan kontrol juga akses dari arah mana pun dan waktu kapan pun.

Berbagai elemen dalam bangunan dihadirkan mulai dari cahaya lampu (lighting), pendingin (AC), keamanan pada pintu-jendela (security) dan komunikasi yang mudah hingga peralatan audio video (sound system) saling terhubung dan terkoordinasi di dalam satu sistem otomatisasi yang disebut smart building. Melalui aplikasi konsep ini, pemilik bangunan dapat mengatur tampilan ruang sesuai dengan keinginannya melalui beberapa pilihan skenario suasana/mood sehingga benar-benar memanjakan pemilik bangunan sekaligus menegaskan citra bangunan modern.

Konsep smart lighting misalnya dapat mencakup instalasi kabel listrik, aksesori seperti sakelar dan stopkontak, armatur lampu dan bias cahaya yang dihasilkan oleh lampu melalui satu alat kontrol. Cara memasang perangkat keras (hardware), menyetel program (software) sampai pengawasan sistem ini telah diatur sedemikian rupa baik secara manual maupun secara digital. Namun, ada pula yang telah terpadu dengan internet.

Terdapat banyak pilihan produk smart lighting di pasaran. Setiap produsen dalam industri building intelligent berlomba untuk memikat konsumennya dengan berbagai keunggulan produk. Oleh karena itu konsumen harus lebih memahami seluk-beluk produk yang tergolong high end ini agar tepat pakai dan memuaskan.

Mengacu pada tren mutakhir, produk smart lighting seperti sakelar, bentuknya cenderung simpel minimalis dengan finishing, material dan wiring device yang bervariasi. Warna netral seperti hitam, putih dan cokelat masih menjadi warna favorit. Cahaya yang dihasilkan dari lampu jenis Light Emmitting Diode (LED) yang juga lebih hemat pemakaian energi listriknya akan mendukung program pelestarian lingkungan (eco product) yang tengah marak dewasa ini.

Alat kontrol dalam sistem smart lighting ini juga hadir dilengkapi oleh tombol konvensional atau berupa monitor yang dilengkapi oleh monitor dengan sistem sentuh (touch screen interfaces) sehingga tampil lebih bergaya (stylish). Dengan demikian produk building intelligent ini dapat disesuaikan dengan rancangan baik di hunian maupun bangunan komersial

Liputan lengkap tentang “Konsep Smart Building ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Penulis : Imelda Anwar
Fotografer : Tim Griya Asri

Fega


DLM

Random Post

1 49
Desain hunian pada lahan seluas 500 m2 di kawasan Pluit ini berangkat dari gagasan arsitek Budi Salim dari konsultan Jimhalls Indonesia untuk menempatkan bukaan...