Arsitektur

0 13

Hunian berukuran 20 m x 25 m yang berada pada lahan huk ini menampilkan “permainan” kubus yang dinamis pada fasad yang memiliki dua muka ini. Kombinasi bentuk kubus dengan pola maju mundur yang disusun secara acak dan asimetris ini memberikan tampilan fasad yang atraktif sekaligus modern, minimalis dan unik.

Michael, sang arsitek, memberikan unsur natural yang “hangat” pada hunian dengan memakai kayu sebagai material penutup fasad. Pola ruang hunian ini dibuat simpel dengan mengurangi sekat-sekat pembatas dan menaikkan lahan hunian setinggi 1,7 m.

Ruang-ruang utama didesain dengan split level pada sehingga tercipta alur yang “mengalir”meskipun ada dinding pembatas ruang antara ruang tamu dan ruang keluarga. Pola ruang kamar-kamar tidur dan ruang kerja terbuka yang terletak di lantai dua, didesain mengelilingi void.

Khusus kamar utama didesain dengan fasilitas seperti di hotel yang mencakup ruang kerja, pantri, walking closet dan kamar mandi. Selanjutnya, terdapat pula permainan bidang masif dan transparan yang didasari oleh jatuhnya sinar matahari.

Fasad utama hunian yang menghadap ke arah barat ini banyak memakai bidang masif untuk menghindari sorotan matahari sore. Di ruang keluarga, suasana transparan dan lapang juga diperoleh dengan penggunaan material kaca sepanjang dindingnya di samping itu pemandangan hijau yang “terkesan” menyatu dengan ruang dalam membuat ruangan terasa menyegarkan.

Material masif yang bernuansa natural banyak dimanfaatkan untuk menetralkan kesan dingin pada bangunan modern minimalis seperti kombinasi kaca dan kayu.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: kediaman Interkon, Jakarta Barat
Arsitek: Michael Sulistyo, ST
Penulis: Qisthi Jihan
Fotografer: Ahkamul Hakim

2 10

Hunian dengan luas lahan 200 m2 dan berlokasi di Bali ini merupakan kediaman keluarga Pidekso. seorang desainer produk sekaligus pengusaha bisnis furnitur dengan label Tarumas.

Dalam rancangannya, asitek mengacu pada prinsip arsitektur modern tropis seperti bukaan lebar di tiap ruang untuk memaksimalkan sirkulasi udara segar dan masuknya cahaya alami.

Massa bangunan menempati sebagian besar kaveling dan dibuat taman kecil di pojok halaman belakang yang menjadi pusat orientasi dalam rumah. Fasad yang menghadap ke arah barat didominasi oleh dinding solid untuk mengurangi teriknya matahari.

Sebagian dinding fasad dilapisi oleh batu alam khas Bali yang disusun berbentuk kotak-kotak geometris simpel dan dihiasi dengan pepohonan tropis seperti kamboja sehingga tampilan rumah tidak “kaku”. Untuk susunan ruang dalamnya, arsitek mengolah alur ruang/sequence yang mengalir agar interior hunian terasa lapang dan memaksimalkan kontinuitas visual antarruang. Saat masuk ke ruang tamu, kita bisa langsung melihat area tangga yang bersisian dengan taman belakang rumah dan dikelilingi oleh ruang keluarga dan ruang makan.

Naik ke lantai atas, terdapat ruang santai yang dikelilingi oleh empat buah kamar tidur anak dan musala di lantai mezanin. Lantai di bawah tangga diolah berupa stepping stone dan taburan batu koral sedangkan sebagian dindingnya dilapisi oleh panel dekoratif dari susunan bilah kayu nan artistik.

Semua kusen dan teralis jendela serta sebagian daun pintu terbuat dari kayu bekas perahu Madura demikian pula sebagian besar furnitur dan aksesori yang dirancang sendiri oleh arsitek dengan bentuk simpel dan menonjolkan keunikan warna cat pelapis perahu.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Kediaman keluarga Pidekso di Puri Chandra Asri, Batu Bulan Bali
Arsitektur dan Interior: Pidekso
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: Ahkamul Hakim

0 5

Hunian berkonsep kontemporer yang ramah lingkungan menjadi topik utama hunian yang letaknya dekat pantai dan memiliki luas lahan hanya 350 m2.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, dibuat split level pada hunian dan diupayakan banyak bukaan serta meminimalkan adanya dinding pemisah. Ruang tamu sekaligus ruang makan pantri dan sebuah kolam renang sepanjang 14 m berada dalam satu area sehingga hunian dengan tiga ruang tidur ini, terasa lapang. Perbedaan fungsi ruang hanya ditandai oleh perbedaan ketinggian lantai sedangkan kolam renang dibiarkan terbuka sehingga pemandangan di luar dapat dinikmati di dalam rumah.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang sekaligus menegaskan unsure kontemporer, arsitek memakai lantai kaca yang tebalnya sekitar 1,5 cm di atas kolam renang.

Selanjutnya, arsitek mencoba memanfaatkan limbah melalui proses daur-ulang, sesuai dengan konsep green yang ramah lingkungan. Dalam hal ini dimanfaatkan kayu bekas perahu para nelayan ikan dan limbah kayu lainnya menjadi sebuah karya yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi.

Kayu ini selalu dihiasi lukisan dengan warna-warna yang meriah dan kuat karena sudah teruji oleh segala macam cuaca termasuk air laut yang mengandung garam ternyata mampu membuat kayu tahan terhadap rongrongan rayap. Kayu bekas perahu dibersihkan kemudian dipotong dan di finishing (diamplas dan di coating) sesuai dengan prosedur membuat furnitur dan bisa juga menjadi elemen fasad rumah maupun art work. Pidekso memang selalu mempertimbangkan pemakaian bahan yang tahan lama dan tetap alami sehingga karyanya banyak diekspor ke luar negeri, seperti ke Amerika, Eropa, Australia, dan Singapura.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Kediaman Ginny & George Cross di Berawa, Cangu, Bali
Arsitek: Pidekso
Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: Ahkamul Hakim

0 6

Bagi seorang pengusaha sukses di bidang perkayuan seperti Michael Hermans, membangun rumah yang menampilkan keunggulan kayu impor dari seluruh dunia pada iklim tropis seperti di Kuala Lumpur, merupakan hal yang membahagiakan.

Meskipun Malaysia adalah negara penghasil kayu tropis yang cukup besar, melalui desain rumah ini bisa ditampilkan kemungkinan pengolahan kayu impor dalam berbagai desain, cara pemasangan, penampilan dan estetika. Selainitu, keanekaragaman tersebut juga dapat mengurangi penebangan hutan di Malaysia.

Gagasan rumah sebagai showcase ini menjadi landasan bagi tim arsitek Visage Architect sdn bhd dan kontraktor T H.Tham Engineering Sdn Bhd, dalam mengolah struktur serta tampilan bangunan yang unik. Konstruksi menggunakan kayu lunak memang jarang digunakan di Asia Tenggara, disebabkan oleh cuaca yang panas, lembap dan basah.

Namun, justru di rumah ini ditunjukkan bahwa kayu lunak yang telah diolah perlakuan khusus dengan baik akan cukup kuat dan tahan lama. Beberapa kayu impor tersebut antara lain kayu lunak Skandinavia, kayu keras Amerika dan kayu Eucalyptus Australia yang ternyata cukup baik digunakan pada iklim tropis.

Penggunaan kayu pada sebagian besar konstruksi dan elemen bangunan telah memberi kesan “hangat” dan “ramah” pada rumah ini.

Rumah yang berlokasi di kawasan Damansara ini mengadop konsep arsitektur tropis, yaitu massa bangunan yang “tipis” agar tiap ruang diapit oleh halaman dan berbentuk formasi V agar memisahkan area privat dengan area umum seperti ruang kerja, ruang musik dan ruang hiburan.

Prinsip desain lain adalah memiliki banyak bukaan berupa pintu dan jendela, beratap miring dengan overstek lebar serta antarruang dihubungkan dengan selasar terbuka sehingga sirkulasi udara segar lebih optimal. Pada ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan, digunakan kayu American red oak untuk lantai, American sapgum pada dinding dan American walnut pada cabinet, sedangkan pada dapur digunakan kayu Santos dari Amerika Utara. Pada lantai ruang tidur utama digunakan kayu African Mahogany sedangkan dindingnya memakai kayu African Kiat dan kabinetnya dengan kayu American Red Oak. Pada pintu dan jendela walking closet, digunakan kayu Tasmanian Oak dari Australia dan kayu Afrika sedangkan plafonnya dari kayu lapis lokal.

Perpaduan ini memberi kepuasan bagi penggagasnya sekalgus menjadi tempat bernaung yang menyenangkan bagi pemilik dan kerabat yang datang ke rumah ini.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Konsultan arsitektur: Visage Architect sdn bhd
Kontraktor: T H.Tham Engineering Sdn Bhd
Penulis: Ade Latief
Fotografer: Syahrial Iqbal

1 6

Gagasan desain ini berawal dari keinginan pemilik rumah untuk mewujudkan hunian modern yang berbeda dari umumnya tanpa melupakan kualitas ruang seperti cahaya alami dan udara segar yang berlimpah. Keinginan ini berhasil diwujudkan oleh arsitek I.G.Oka Sindhu Pribadi.

Desain hunian dengan lahan seluas 500 m2 di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini mengacu pada gaya modern tropis dengan massa bangunan berbentuk huruf L dan terdapat kolam renang di halaman belakang.

Bagian bangunan di lantai atas dibuat lebih mundur (set back) daripada bangunan di lantai bawah agar memberi kesan lebih lapang. Bentuk massa bangunan didominasi oleh boks geometris yang posisinya diatur saling maju mundur secara dinamis. Setiap boks terdiri dari susunan bidang dinding masif dan bukaan lebar namun ada satu boks yang atapnya dinaungi oleh tanaman merambat (roof garden) sesuai dengan konsep desain berwawasan lingkungan (green design).

Arsitek juga banyak mengaplikasikan material alami misalnya batu andesit sebagai pelapis dinding tapi yang paling unik adalah struktur atap miring dan entrance yang dinaungi oleh kanopi kaca. Arsitek juga merancang dinding kaca dan kusen baja dari lantai dasar sampai plafon lantai atas serta menyatu dengan konstruksi kanopi kaca pada teras samping.

Masuk ke dalam rumah, arsitek menempatkan area publik berupa ruang penerima tamu, toilet tamu, musala, halaman dalam (inner courtyard), area servis dan garasi agak ‘terpisah’ di muka rumah serta dihubungkan melalui selasar menuju ke dalam rumah. Selanjutnya, area makan, pojok untuk olah raga dan tangga yang semi terbuka di tata di tengah rumah agar bisa menjadi transisi dari area publik ke area privat. Sebuah ruang tidur tamu dan selasar menuju kamar tidur utama ditata di sebelah ruang keluarga dimana kamar tidur tersebut dilengkapi oleh jendela kaca lebar yang memberi pemandangan ke arah kolam renang dan taman belakang.

Naik ke lantai atas, arsitek mengolah pagar railing dan dinding sekitar tangga dengan finishing yang menarik sedangkan plafon ruang bermain anak sengaja mengikuti kemiringan atap yang dilengkapi oleh jendela kaca lebar sehingga memberikan kesan lega. Dalam menata interior rumah, arsitek bersama dengan pemilik sepakat untuk memilih furnitur yang berbentuk kotak geometris simpel dan berwarna netral seperti krem, abu-abu dan hitam.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Rumah tinggal di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan
Arsitek: I.G. Oka Sindhu Pribadi
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin

1 9

Desain hunian pada lahan seluas 500 m2 di kawasan Pluit ini berangkat dari gagasan arsitek Budi Salim dari konsultan Jimhalls Indonesia untuk menempatkan bukaan lebar agar taman di halaman muka dan samping rumah terasa menyatu dengan ruang dalam. Hasilnya, tiap ruang mendapat cahaya alami dan sirkulasi udara segar serta suasana indoor-outdoor berpadu dengan gaya modern minimalis.

Pertama arsitek merancang massa bangunan berbentuk huruf L dengan kolam renang dimana hadirnya unsur air diharapkan membuat teduh atmosfer rumah. Bentuk massa bangunan didominasi oleh boks geometris yang terdiri dari susunan bidang dinding masif dan jendela lebar serta posisinya diatur saling maju mundur secara dinamis. Sebuah boks transparan di huk kavling didesain dengan dinding miring agar menjadi aksen atraktif dan menandai area masuk utama (entrance) ke rumah.

Sebuah boks transparan besar di tengah rumah menjadi area berkumpul keluarga dan di dalamnya terlihat tangga yang konstruksi baja dan kayunya diekspos. Selain bahan buatan, arsitek juga banyak memakai material alami seperti kisi kayu (lattice) sebagai penyekat / ‘kulit kedua’ (secondary skin) yang menahan teriknya sinar matahari. Batu andesit dan paras jogja juga dipakai sebagai pelapis dinding serta lantai luar.

Di dalam rumah, arsitek menyusun ruang-ruang secara transparan (open plan) tanpa dinding penyekat agar ruang dalam berkesan lapang. Lantai dasar ditata untuk area servis, ruang serba guna dan garasi ; lantai satu untuk tempat berkumpul keluarga sedangkan lantai dua untuk kamar-kamar tidur juga home theater. Tangga dalam, ruang menonton tv, ruang makan dan pantri ditata menyatu tanpa dinding penyekat serta berorientasi ke arah kolam renang sehingga tercipta kontinuitas visual antar ruang dalam dan luar.

Khusus kamar tidur utama, berada di pojok belakang lantai satu dengan diapit oleh pemandangan segar baik dari arah kolam renang maupun taman samping rumah. Bila naik ke lantai atap (roof top), kita akan menemui area duduk santai dan tempat barbeque sambil menikmati laut di kejauhan.

Furnitur berbentuk kotak geometris simpel dan berwarna netral seperti krem, abu-abu juga hitam dipadu dengan ornament dekoratif yang atraktif serta aksesori berwarna cerah sehingga menjadi aksen yang berbeda di tiap ruangan.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Rumah tinggal di Pluit, Jakarta Utara
Arsitektur dan Interior: Budi Salim dari konsultan Jimhalls Indonesia
Aksesori: Sebagian dari koleksi Vinoti Living dan Brio
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: M. Ifran Nurdin

0 8

Dalam mendesain rumah yang berlokasi di kawasan Gading Serpong, Tangerang ini, arsitek Heru M. Prasetyo ingin memberi privasi lebih intens bagi pemilik namun ruang dalamnya tetap berkesan lapang dan terbuka.

Pertama, arsitek membagi lahan seluas sekitar 1000 m2 untuk tiga massa bangunan. Massa utama dan paling besar ditata untuk ruang keluarga, ruang makan dan kamar tidur utama serta memiliki atap berbentuk pelana dengan teritis lebar sampai ke teras samping.

Massa kedua dan ketiga berukuran lebih kecil serta ditata untuk garasi, area servis juga kamar tidur anak. Arsitek merancang wujud tiap massa berupa komposisi boks geometris dengan kolom struktur yang simpel sehingga menegaskan tampilan rumah urban modern.

Yang unik adalah, diantara ketiga massa bangunan terdapat halaman dalam (inner courtyard) dengan kolam, lubang skylight besar dan disekat dengan dinding kaca. Desain ini memberi “kejutan” serasa berada di luar rumah sementara tiap ruang bisa ‘bernafas’ dengan leluasa. Pojok area terbuka yang menghadap ke muka rumah diolah menjadi foyer dan entrance.

Sebagian dinding luar rumah diberi finishing berupa semen kamprot dan dicat warna abu-abu serta susunan batu alam sebagai aksen atraktif sedangkan bidang penyekat di lantai atas terbuat dari deretan balok kayu. Pintu garasi, kusen jendela pintu kaca terbuat dari besi bercat warna putih agar menjadi unsur penyeimbang di fasad rumah.

Arsitek juga berupaya mengoptimalkan sirkulasi udara segar, masuknya cahaya alami dan kontinuitas pandangan antarruang. Arsitek juga membangun satu massa tambahan di sisi kaveling yang berfungsi sebagai gudang dan dapur bagi bisnis pemilik rumah. Beranjak ke dalam rumah, furnitur dan aksesorinya dipilih yang simpel serta berwarna alami.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Kediaman di Gading Serpong, Tangerang
Arsitektur: Heru M. Prasetyo
Interior: Pemilik bersama dengan arsitek
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer : Sjahrial Iqbal

0 8

Kebudayaan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan menyimpan ‘harta karun’ berupa rumah-rumah adat yang bernilai seni tinggi. Tipe rumah adat yang paling megah adalah Rumah Bubungan Tinggi yang menjadi tempat tinggal atau istana Sultan dan memiliki bentuk atapnya yang bersudut lancip 45o.

Kini, tempat tinggal tradisional ini hampir punah sehingga membuat prihatin empat orang pengusaha yaitu Farida M.Harun, Janti Soekirman, Ira E. Andamara dan Pudji W. Purbo. Dengan dikoordinasikan oleh Farida, mereka datang ke Martapura untuk mencari dan membeli Rumah Bubungan Tinggi yang hampir rubuh lalu merevitalisasinya menjadi vila privat di kawasan Gunung Geulis, Ciawi Jawa Barat.

Tiap bagian dari rumah tua dibongkar, diberi kode dan dibawa ke Jakarta bersama dengan tukang lokal untuk kemudian dibangun ulang di kompleks yang bernama Vila Amalina. Proses yang berlangsung sejak dua tahun silam ini mengacu pada aturan rumah adat asli dengan sedikit modifikasi agar sesuai dengan gaya hidup masa kini. Farida dkk juga mengumpulkan informasi tentang rumah adat ini diantaranya dari budayawan Drs. H.M. Syamsiar Seman.

Dilihat dari wujudnya yang simetris, rumah Bubungan Tinggi menunjukkan makna filosofi seimbang terutama dalam aspek pemerintahan. Sebagaimana tubuh manusia, rumah juga terbagi menjadi tiga bagian secara vertikal yaitu atap sebagai kepalanya, ruang-ruang sebagai badan dan tiang panggung sebagai kaki sedangkan bagian anjung menjadi tangannya.

Karena keadaan alamnya berawa-rawa di tepi sungai, rumah ini dirancang dengan konstruksi panggung dan lantai yang tinggi. Struktur dasar bangunan terdiri dari pondasi yang terbuat dari kayu Kapur Naga. Bagian lain dari rumah seperti lantai dan dinding penyekat terbuat dari papan kayu ulin sedangkan penutup atapnya dari bahan sirap dan kerangkanya dari kayu ulin.

Dalam proses revitalisasi, bagian utama dari Rumah Bubungan Tinggi seperti atap, dinding dan tiangnya tetap dipertahankan tetapi bagian lain diubah sesuai dengan kebutuhan pemilik. Contohnya, tiang penopang dibuat lebih tinggi menjadi 2,8 m agar ruang di kolong rumah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sehari-hari. Susunan ruang rumah ini sifatnya berjenjang, simetris dan hierarkis sesuai dengan tata karma adat terwujud pada perbedaan ketinggian lantai yang semakin tinggi ke arah tengah rumah. Kondisi ini tetap dipertahankan pada rumah ini termasuk ruang utama yang berada persis di bawah atap tinggi dan menjadi kamar tidur raja.

Ornamen dekorasi rumah adat yang bersumber dari ajaran Islam seperti ukiran motif floral yang distilasi dan kaligrafi pada bagian tiang dan tangga serta warna hijau, merah juga kuning tetap dipertahankan. Melalui rumah adat hasil revitalisasi ini diharapkan agar cara pandang (mind set) masyarakat umum, khususnya warga Banjar dan generasi muda berubah dan lebih menghargai ‘harta karun’ mereka.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Vila Amalina, kawasan Gunung Geulis, Jawa Barat
Arsitektur dan interior: Farida Mardiati dan Janti Soekirman
Penulis: Imelda Anwar
Fotografer: Ahkamul Hakim

0 7

Pemilik vila menginginkan sebuah tempat peristirahatan untuk “menyingkir” sejenak dari
rutinitas harian dan keramaian kota. Karena itu, pemilik vila memilih lokasi yang terpencil di daerah Dago Bengkok, Lembang dengan luas lahan 4000 m2. Posisi lahan berada di lereng bukit sehingga kontur tanahnya sangat curam. Konsep arsitektur vila ini muncul berdasarkan kebutuhan pemilik vila akan sebuah ruangan untuk tempat berkumpul dengan pemandangan terbaik ke arah lembah dan Bandung City View.

Arsitek Alex Santoso menyusun dua massa bangunan berbentuk kotak persegi panjang yang ditempatkan saling tegak lurus dengan jarak 8 m sehingga menghasilkan ruangan diantaranya yang digunakan untuk ruangan keluarga dan ruangan makan.

Bagian atap ruangan ini diangkat setinggi 1 meter dari ketinggian massa bangunan agar diperoleh pemandangan yang optimal. Bangunan berbentuk geometris ini diberi finishing berwarna monokromatis yaitu putih, abu-abu dan coklat tua agar lebih menonjolkan keindahan lanskap dan alam sekitarnya.

Struktur vila ini menggunakan konstruksi beton bertulang konvensional dan atap datar dari dak beton yang diberi lapisan anti bocor/waterproofing agar siap dijadikan greenroof dengan tambahan gazebo atau bale bengong. Dinding keliling bangunan banyak menggunakan bukaan-berupa pintu dan jendela dari bahan kaca tembus pandang.

Konsep interiornya pun didesain sederhana dan sangat fungsional. Di depan ruangan keluarga dan ruangan makan, terdapat teras luar yang luas yang dilengkapi dengan area duduk. Sekat pembatas antara kedua ruangan tersebut berupa pintu geser dari bahan kaca tembus pandang.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Desa Mekarwangi – Kecamatan Lembang, Kabupaten Badnung Barat, Jawa Barat
Arsitek: Wastu Cipta Parama – architects & designers
Tim Arsitek: Alex Santoso, Rizky Indraswary, Astrid Naomi, Hegiasri.
Kontraktor: Pipih Priyatna
Struktur: Hermanto Subagiyo
Furnitur: Rachmat
Pemilik: Bpk.Timmy & Ibu Christine
Penulis: Ferihan F. Aditya
Fotografer: Sjahrial Iqbal

1 6

Rumah di Kota Baru Parahyangan, Jawa Barat ini dibangun untuk mengakomodasi kebutuhan rumah tinggal sebuah keluarga dengan penekanan pada desain yang menarik dan taman belakang yang luas serta menghadap ke arah Waduk Saguling. Hal tersebut diterjemahkan oleh arsitek Alex Santoso, ke dalam desain massa bangunan yang unik dan “kaya” akan pengalaman ruang.

Bangunan pada lahan seluas 850 m2 ini didesain dengan unsur geometris yang kuat dimana massa bangunan utama berbentuk huruf “T” setinggi dua lantai yang ditempatkan di atas sebuah landasan.

Di samping kiri massa bangunan utama, terdapat massa bangunan tambahan dengan bentuk dasar tabung berpenampang jajaran genjang dan dicat warna hijau cerah sehingga menjadi aksen. Antara massa bangunan utama dan massa bangunan tambahan terdapat celah berupa ruang yang dinaungi oleh kaca tempered sehingga sinar matahari dapat masuk seperti sumur cahaya (light well).

Di bagian depan massa bangunan utama, terdapat massa bangunan lain yang letaknya agak tenggelam. Ketiga massa bangunan menggunakan struktur kolom dan balok dengan konstruksi beton bertulang konvensional, sedangkan atapnya menggunakan rangka baja hollow dan plat beton bertulang.

Yang unik dari ketiga massa tersebut adalah salah satu sisi dindingnya dibuat miring sehingga ruangan menjadi lebih dinamis. Di samping kiri terdapat ramp sebagai jalur utama sirkulasi vertilal yang nyaman. Naik ke lantai atas, terdapat jembatan kaca yang lantainya juga menggunakan kaca tempered tembus pandang dengan rangka baja dan beton komposit.

Desain interior rumah pun menarik. Dinding miring berwarna hijau cerah masih menjadi aksen dan focal point ruangan. Bidang dinding miring ini adalah dinding koridor dan latar dari ruangan keluarga. Dinding sekeliling ruangan menggunakan bahan kaca tembus pandang agar pemandangan luar yang hijau di sekitar Waduk Saguling dapat dinikmati secara optimal.

Rumah dengan luas bangunan lebih kurang 1000 m2 ini terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar terdiri dari ruang-ruang publik yang menyatu tanpa dinding penyekat dan ruangan tidur utama yang elevasinya lebih rendah dan dapat diakses melalui sebuah ramp. Lantai atas terdiri dari kamar tidur anak dan ruangan fitness sedangkan lantai semi basemen untuk ruangan audio visual, ruangan servis dan garasi.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Lokasi: Kota Baru Parahyangan – Padalarang
Arsitek: Wastu Cipta Parama – architects & desaigners
Tim Arsitek: Alex Santoso, Tongam Pangaribuan, Datu Nasangap, Ricky Permana, Rizky Indraswary.
Kontraktor: Yos dan Yohannes Kurnia Lim
Struktur: Hermanto Subagiyo
Lighting: Interbak
Furniture & Interior: Howardi, sweet room & TOTO kitchen
Landscape: Sylvia Juliana & Deden
Pemilik: Bpk. Cornellis & Ibu Lieke Laksono
Penulis: Ferihan F. Aditya
Fotografer: Sjahrial Iqbal

Fega


DLM

Random Post

0 9
Hotel Padma Bali berada pada area seluas 6.5 ha di kawasan elite Legian – Kuta. Hotel ini dikembangkan dengan konsep garden resort hotel berstandar...