Seni

42 118

Green1Trias Sutisna adalah sosok wanita yang luar biasa. Melalui tangan terampil dan ide kreatifnya, Trias Sutisna menata ruangan di dalam rumah menjadi lebih cantik dan feminin melalui sulam. Kegiatan yang bermula dari hobi itu ditekuni wanita manis dan ibu dari putri-putri yang sudah dewasa ini sampai sekarang.

Wanita yang aktif di berbagai kegiatan sosial ini melakukan hobinya dengan membuat berbagai pernak-pernik interior seperti sarung bantal, taplak meja, gorden, tempat tisu, berbagai kelengkapan ibadah dan cinderamata untuk pernikahan.

Yang menjadi ciri khas dari karya Trias Sutisna adalah penggunaan bahan kain atau tekstil seperti kain blacu, kain brokat, kain katun atau kain satin yang berwarna putih atau broken white. Agar karyanya tampak lebih menarik, semua karya tersebut diberi sentuhan motif bordir sehingga tampak lebih mahal.

“Saya selalu mengusahakan ada motif bordir pada setiap produk. Sekarang ini saya sedang mengangkat kain brokat yang selama ini biasa dipakai untuk bahan kebaya. Padahal kain brokat dapat juga dipakai untuk bahan apa saja dan hasilnya pun sungguh luar biasa,” ujarnya.

“Namun, apabila ada permintaan dari pemesan untuk memakai warna khusus, saya akan buatkan sesuai dengan permintaan tersebut,” tambah Trias.

Kini produk buatan Trias yang bermula dari hobi tersebut sudah dapat membawanya berkeliling dunia, melalui berbagai ajang pameran yang diikutinya di luar negeri. Hobi ini juga membahagiakannya karena dapat menciptakan lapangan kerja baru.

 

“Dengan membuat satu jenis produk, kegiatan ini dapat menghidupi delapan orang tenaga kerja, mulai tukang kain, tukang pola hingga tukang jahit. Jadi, prosesnya bagaikan ban berjalan. Dimulai dari diri sendiri, kini saya dapat menghidupi banyak orang dengan cara merekrut tenaga kerja di sekitar lingkungan saya,” papar Trias.

Kini produk yang dihasilkan Trias sudah tersebar luas, melalui pemasaran dari mulut ke mulut. Untuk memelihara pasar, Trias berusaha menjaga kualitas produknya mulai dari memperhatikan kualitas bahan, kualitas bahan penunjang sampai pada finishing-nya. Ibu berbakat yang masih terlihat cantik ini telah membuat terobosan baru di bidangnya dengan karyanya yang selalu up to date dan digemari oleh semua kalangan.

***

Tertarik dengan produk Green Design & Craft? Ikuti Giveaway Majalah Griya Asri bulan Mei berhadiah 5 Paket Cantik dari Green Design & Craft.

Caranya:

  1. Like FB Majalah Griya Asri.
  2. Follow Twitter Majalah Griya Asri.
  3. Tinggalkan komentar Anda tentang produk Green Design & Craft.
  4. 5 Pemenang berdomisili Indonesia akan mendapatkan hadiah masing-masing 1 paket cantik dari Green Design & Craft yang akan langsung dikirim ke rumah.
  5. Pemenang akan diumumkan pada Selasa, 14 Mei 2013.

UPDATE

Selamat untuk pemenang Produk Cantik dari Green Craft & Design:

  • Rully Fanny A
  • Fifin Ahmad
  • Yana Artika
  • Nurina Shinta Makarim
  • Indriani Radityo Maini

Silakan mengirimkan alamat ke inbox Page Majalah Griya Asri. Kami akan segera kirim hadiah ke rumah Anda.

0 21

Keindahan sosok wanita tak pernah habis untuk diperbincangkan dan dipertunjukkan. Salah satunya diekspresikan melalui karya-karya patung oleh Neneng S. Ferrier, salah satu seniman Indonesia. Dalam karya-karya patung yang ia ciptakan, Neneng S. Ferrier terinspirasi dari kehidupan para wanita sehari-hari yang sering ia jumpai.

Menurut Neneng, karya-karyanya lebih bertujuan untuk merenungkan makna hidup yang ada secara menyeluruh, bukan membahas secara eksplisit tentang masalah gender.

Hal tersebut terlihat jelas pada karya patungnya yang berjudul “Inner Beauty Series” (2008). Lewat simbol-simbol bunga yang keluar dari perut wanita dengan posisi terlentang, Neneng ingin menceritakan sekaligus menjadi bahan untuk perenungan bahwa kecantikan wanita tidak hanya dinilai dari fisiknya saja, melainkan juga dari dalam diri wanita (inner beauty).

Lalu, tak kalah menariknya patung karya Neneng yang diberi judul “Any Question” (2011). Lewat karyanya ini, Neneng menggambarkan tentang interaksi perempuan dengan anak-anak. Karya ini seakan-akan ingin bercerita tentang sosok wanita yang baik yang dapat membimbing anak-anaknya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perupa yang berhasil meraih medali emas pada ajang “Creative Cities Collection Olympic Fine Arts London 2012” ini juga jeli membahas persoalan yang kini tengah dihadapi wanita modern dalam hal kebebasan berekspresi.

Melalui patungnya yang diberi judul “Self Conscious” (2011), Neneng mencoba bercerita bahwa wanita cukup sadar dan mandiri untuk menentukan hal apa pun yang ingin mereka kerjakan dan ekspresikan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Lalu, material apa yang digunakan Neneng dalam menciptakan karya-karya patungnya?

Artikel lengkap tentang “Keindahan Wanita dalam Patung karya Neneng S. Ferrier” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 11, November 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis: Adhitya P. Pratama
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

42 108

Kayu limbah yang terlihat rusak akibat dimakan binatang bukanlah sampah. Kayu limbah itu bisa diolah menjadi produk-produk berkualitas yang terlihat alami dan berseni tinggi.

Itulah yang dilakukan oleh Firdaus, melalui kerja kerasnya mengubah berbagai kayu limbah jenis kamper, meranti, bengkirai dan kayu balau dari Kalimantan menjadi produk “Kayu Tangi” yang bernilai tinggi.

Guratan lubang-lubang kayu dengan kedalaman yang berbeda dan pola yang beragam adalah motif alami yang menjadi sumber inspirasi bagi Firdaus untuk membuat beragam jenis karya. Melalui pengolahan, mulai menghilangkan binatang dan kotoran di dalam kayu gelondongan, memotong, mengeringkan dalam jangkau waktu panjang, kayu-kayu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kemudian diproses menjadi aneka furnitur dan produk-produk lain yang digemari masyarakat.

kayutangi13 kayutangi12 kayutangi11 kayutangi10 kayutangi9 kayutangi8 kayutangi7 kayutangi6 kayutangi5 kayutangi4 kayutangi3 kayutangi2 kayutangi1

Jangan lewatkan Majalah Griya Asri November Giveaway.

3 orang yang beruntung akan mendapatkan produk Kayu Tangi, gratis dikirim ke rumah Anda.

Syarat:

 

Kesempatan ini terbuka hingga hari Minggu, 18 November 2012. Pemenang akan kami umumkan hari Senin, 19 November 2012 di Page Majalah Griya Asri & Twitter Majalah Griya Asri.

*berlaku bagi pembaca Majalah Griya Asri beralamat Indonesia.

Fotografer: Ifran Nurdin

1 18

Dewasa ini semakin banyak pilihan terhadap benda seni atau produk seni sebagai elemen dekorasi interior. Salah satu diantaranya adalah produk barang kerajinan yang merupakan paduan kuningan dan kaca karya seorang pengrajin Solo, Sutiman.

Kerja seni yang dibuat Sutiman dimulai sejak empat tahun yang lalu, melalui produk kaca seperti cermin, vas, dan tempat lilin. Kemudian, Sutiman mengembangkan produknya dengan cara memadukan material kuningan dengan kaca sehingga produk yang dibuatnya menjadi lebih indah dan disukai konsumen.

Proses Seni Kaca & Kuningan

Kuningan yang dipakai untuk barang produksinya memang masih diimpor dari Korea dan Jepang sedangkan bahan kacanya memakai produk lokal.

“Kuningan yang saya pakai biasanya masih berupa lembaran (lempengan) dengan ketebalan 0,3 mm sampai 0,4 mm. Saya memakai dua jenis kuningan yaitu yang berupa lempengan dan berupa kawat. Kawat ini biasanya berbentuk bulat dan dipakai untuk kaki-kaki produk,” ujar Sutiman kepada Griya Asri di workshop-nya. “Untuk bahan kacanya biasanya dipakai yang ketebalannya 2 mm sampai 2,5 mm (untuk pembuatan tempat lilin). Saya memakai yang sudah siap jadi dan telah tersedia di tempat langganan saya,” ujar Sutiman menambahkan.

Menurut Sutiman, prosedur pembuatan produknya memang sedikit rumit khususnya dalam menatah kuningan, karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Lempengan kuningan digunting sesuai dengan desain yang sudah ditentukan. Kemudian dibersihkan dengan zat pembersih khusus. Lembaran yang sudah dipotong sebagian ada yang ditatah, ada yang dipukul-pukul dan ada yang digunting sesuai dengan pola desainnya. Karena itu efek yang dihasilkan dari kedua macam prosedur tersebut akan berbeda. Setelah pola terbentuk maka untuk merekatkan satu pola dengan pola yang lain harus dipatri ataupun dilem, bergantung pada desainnya.

Proses terakhir adalah pewarnaan. Warna yang dipakai ada tiga macam yaitu gold, doft dan semi antik. “Namun, sebagian besar konsumen lebih menyukai warna semi antik, terutama konsumen dari pasar Asia,” ujar Sutiman.

Liputan tentang “Paduan Kuningan dan Kaca yang Cantik” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 08, Agustus 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

84 362

Batik bukan hanya motif yang dapat dilihat pada selembar kain. Motif ragam hias batik sudah memiliki tempat yang luas dalam pemanfaatannya, termasuk di antaranya sebagai ornamen hias pada cangkir, piring, dan benda-benda seni lain berbahan dasar keramik.

Penggunaan ragam hias batik pada karya keramik diterapkan oleh seorang keramikus asal Bandung, Elina Farida, yang juga alumni ITB Jurusan Keramik. Menurutn Elina, batik dan keramik adalah paduan dua karya yang berasal dari bumi Indonesia.

Aneka Ragam Hias Batik

Batik memiliki berbagai jenis ragam hias. Dalam hal ini Elina hanya menerapkan beberapa ragam hias saja pada karyanya. Menurut Elina, ia menerapkan lebih banyak motif geometris yang mayoritas berasal dari motif batik Jawa Barat seperti motif kumeli, motif pecah kopi, motif rereng sapatu dan motif kupat manggu.

Motif-motif tersebutlah yang banyak diterapkan pada desain karya Elina seperti pada piring dan gelas. Oleh karena itu karyanya tersebut memiliki keunikan tersendiri.

Proses Pembuatan Keramik Berhias Batik

Proses pembuatan semua karya keramik bermotif batik sama seperti proses pembuatan keramik pada umumnya yaitu melalui pembakaran tanahliat dalam suhu tinggi yakni sekitar 1200 derajat Celcius. Dengan demikian semua hasil produk yang dihasilkan bebas toksin dan aman untuk dipakai, bahkan untuk wadah makanan pun aman dipakai.

Teknik produksi yang dipakai untuk membuat keramik batik ini adalah dengan cara cetak tekan, slab dan putar. Setelah selesai proses tersebut, masuk pada tahap pengeringan dan tahap pewarnaan, kemudian tahap finishing dan packaging sebagai tahap terkahir.

Pemilihan warna untuk produk keramik yang berlokasi di Bandung memakai warna-warna yang alami, dan disesuaikan dengan bentuk produknya seperti warna cangkir dan warna piring selalu menggunakan warna natural. Adapun motifnya memakai warna agak kontras agar benda tersebut dapat berupa desain yang indah.

[space height="10"]

***

Ikuti Majalah Griya Asri December Giveaway berhadiah 5 set keramik batik cantik karya Elina. Caranya:
- Like Page FB Majalah Griya Asri & posting ini.
- Tinggalkan komentar Anda tentang Keramik Batik cantik ini.

LIMA pemenang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 set keramik batik cantik. Gratis. Dikirim ke alamat di Indonesia. Pemenang akan diumumkan pada Jumat, 21 Desember 2012.

Liputan tentang “Desain Rumah yang Nyaman dan Modern” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 07, Juli 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi : Studio 181 – Bandung

Penulis : Denyza Sukma
Fotografer : M. Ifran Nurdin
Co-Writer: Sumardiono

0 26

Seni Islam memiliki kekhasan sebagai ekspresi budaya manusia. Sejalan dengan perkembangan waktu dan ruang yang memengaruhi pola pemikiran para senimannya, ekspresi seni, termasuk seni Islam pun mengalami perkembangan.

Seni Islam merupakan hasil karya seniman Islam yang menginterpretasikan ajaran Islam. Seniman Islam tetap berpegang teguh pada kitab suci Al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw sebagai panduan hidup mereka. Untuk seniman Islam kontemporer, yang menjadi kekhasannya adalah mereka lebih bebas mengambil objek alam kehidupan di sekitarnya.

Seni Islam, Dulu dan Kini

Dahulu kala seni rupa Islam hanya bersumber dari tulisan yang diambil dari kitab suci Alquran yang diperindah dengan gaya dan tambahan ornamen yang berkembang menjadi seni kaligrafi. Karena ajaran agama Islam diharuskan hanya menyembah kepada Allah SWT, Yang Mahatinggi, Yang Mahatunggal dan Yang Maha Pencipta, maka seni Islam melarang melukiskan ciptaan Allah SWT yang bernyawa seperti manusia dan hewan, karena ada kekhawatiran hasil karya akan dikultuskan.

Seni patung yang berkembang di Eropa sejak zaman Yunani dan zaman Romawi dan lukisan potret raja-raja, keluarga dan tokoh dalam sejarah bangsa tak dikenal dalam seni Islam masa lalu. Dengan kepercayaan seperti itu para seniman Islam memfokuskan objeknya pada flora, sulur, daun, bunga dan buah, yang kemudian melalui stilasi yang artistik dan dekoratif, berkembang menjadi motif hias arabesque.

Dalam seni Islam kontemporer, para seniman lebih bebas untuk berkreasi yang objeknya bersumber dari ajaran agama Islam baik dari alam dan lingkungan, dari inti ajaran Islam maupun dari cuplikan ayat-ayat dalam Alquran, yang pada dasarnya mengajarkan kecintaan dan kebaikan.

Pameran Seni Rupa Islam Kontemporer

Beberapa waktu yang lalu di Galeri Nasional Jakarta diselenggarakan pameran “Seni Rupa Islam Kontemporer”. Para seniman yang berpartisipasi antara lain dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Aceh, Padang, Pekanbaru dan Lombok.

Dalam pameran digelar sebanyak lebih dari 200 karya berupa karya dua dimensi, tiga dimensi, instalasi ataupun karya yang dikerjakan melalui teknologi digital. Mereka mewakili wajah-wajah seni Islam kontemporer yang ada di Indonesia.

Liputan lengkap tentang “Seni Islam Kontemporer ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi Pameran: Galeri Nasional Jakarta
Diselenggarakan Oleh: Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB dan Yayasan Inisaf
Ketua Panitia: Abdul Sobur
Kurator: Rizki A. Zaelani dan A. Rikrik Kusmara

Penulis: Anur Erawati Mulhadiono
Fotografer: Ahkamul Hakim
co-writer: Sumardiono

0 28

Keramik adalah benda seni hasil olahan dari tanah liat. Berkat proses produksi dan seni, segumpal tanah liat yang tak terlalu berharga bisa berubah menjadi karya seni yang sekaligus fungsional.

Proses Pembuatan Keramik

Salah satu tempat bahan baku tanah liat yang memiliki kualitas baik adalah yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Jenis tanah liat yang sekarang banyak dipakai untuk pembuatan keramik adalah jenis tanah liat keras yang dapat dibakar hingga 1250 derajat Celcius.

Hasil keramik yang sudah melewati pembakaran suhu tinggi itu disebut stoneware. Stoneware memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya adalah tidak mudah ditembus air dan penyerapannya sekitar 2-5 persen.

Stoneware dapat dilapisi glazir sehingga menjadi lebih kuat, indah, dan tahan lama.

Koleksi Munthi Keramik

Munthi Keramik, produsen stoneware dan keramik memiliki beraneka produk untuk keperluan sehari-hari, mulai piring, perangkat minum teh (tea seet), perlatan untuk kamar mandi, juga berbagai pernak-pernik interior.

Agar tampil unik dan berbeda dengan masyarakat, Munthi Keramik memberikan layanan kustomisasi. Konsumen dapat memesan keramik dalam bentuk customized.

Liputan lengkap tentang “Stoneware: Keramik Koleksi Munthi Keramik” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

4 24

Wayan Sudiarsa adalah seorang seniman muda dari Gianyar, Bali yang menekuni kaca tiup. Hasil karyanya terkenal di mancanegara dan mayoritas konsumennya adalah turis asing.

Seni olah kaca tiup yang ditekuni oleh bapak dua orang anak ini bermula ketika ia masih bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi produk berbahan kaca (glass). Berbekal ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari perusahaan tersebut, Wayan bersama seorang temannya membuat usaha sendiri di bidang yang sama.

Setelah empat tahun bekerja sama, akhirnya Wayan memutuskan untuk mendirikan usaha ini seorang diri dan berkembang sampai saat ini.

Proses Pembuatan Seni Kaca Tiup

Bahan baku produk pembuatan seni kaca tiup memanfaatkan barang limbah kaca yang dikumpulkan dari berbagai tempat. Kaca-kaca tersebut kemudian dipilah sesuai dengan warnanya lalu dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam tungku pencair.

Kaca dipanaskan sampai suhu 1200 derajat Celcius selama 12 jam hingga berubah menjadi cairan yang menyerupai lahar panas lalu diambil dengan menggunakan alat khusus. Segumpal cairan kaca yang diambil kemudian dimasukkan ke dalam alat yang biasa disebut “mal” sambil ditiup dan diputar-putar.

Setelah terbentuk benda yang diinginkan lalu dimasukkan kembali ke dalam oven hingga semalaman. Kemudian kaca tadi dikeluarkan untuk dilakukan finishing seperti diberi sun glass, di-gravier dan diproses lainnya sesuai dengan desainnya.

Pewarna yang dipakai ada yang berbentuk bubuk, kerikil dan pasir. Semua bahan pewarna tersebut ditaburkan di atas meja, lalu kaca yang sudah ditiup “digiling” di atasnya. Setelah itu kaca tersebut dimasukkan lagi ke dalam oven.

Menurut Wayan, hal yang harus diperhatikan prosedur membuat produk seperti ini adalah menjaga kestabilan suhu. Penurunan suhu yang drastis dapat mengakibatkan kaca tersebut pecah.

Liputan lengkap tentang “Seni Olah Kaca Tiup Wayan Sudiarsa ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 03, Maret 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi: Inti Bali Glass, Blahbatu – Gianyar, Bali
Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-Writer: Sumardiono

0 21

Seiring dengan kemajuan teknologi, melalui beberapa teknik pembuatan kini gerabah yang semula dikenal sebagai bahan dasar kebutuhan rumah tangga, sudah menjadi produk bergengsi di dunia industri barang kerajinan yang semakin memesona. Keramik yang dihasilkan dari proses bakaran tinggi akan menghasilkan produk yang berkualitas, terutama dari segi desain.

Teknik pembuatan keramik ada beberapa macam, seperti teknik putar, teknik pinci, teknik pilin, teknik lempeng dan teknik cetak cor. Adapun untuk finishing-nya sangat beragam. Tekstur keramik banyak dihasilkan dari berbagai penggunaan material dan inovasi terbaru pengerajin dalam menciptakan keramik tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Deni Yana misalnya, salah seorang Dosen ITB jurusan Keramik yang memanfaatkan limbah kertas koran menjadi keramik.

Ia menjelaskan bahwa kertas koran terlebih dahulu dibuat bubur kertas (pulp), lalu dicampur dengan adonan tanah liat (jenis stoneware) yang berasal dari Sukabumi. Setelah adonan bercampur dengan baik kemudian dibakar di oven dengan suhu 1.250 derajat Celcius. Menurutnya, ada dua alasan mengapa harus dicampur dengan kertas koran. Pertama, karena kertas pada suhu tertentu akan terbakar sehingga tercampur dengan adonan tanah dan menjadi lebih ringan. Kedua, adonan menjadi lebih elastis seperti paper clay sehingga dengan mudah dapat dibentuk sesuai dengan imajinasi sang pengrajin.

Adonan yang sudah tercampur tersebut kemudian dituangkan ke atas gypsum dengan ketebalan tertentu. Setelah itu teksturnya dibuat dengan cara meletakkan kain pel di atasnya (tekstur kain pel yang bergaris-garis mirip dengan guratan daun). Kemudian di atas kain tersebut di-roller sehingga tekstur kain dapat melekat di atas adonan tersebut. Setelah menempel teksturnya, maka siaplah untuk dibentuk. Proses akhir adalah membakar dengan suhu bakaran tinggi dengan memberikan glazur agar hasilnya sesuai dengan desain yang diinginkan.

Karya yang dihasilkan Deni Yana berupa benda seni (artwork) dan produk yang fungsional. Khusus untuk produk fungsional, ia membuat wadah berupa pincuk, yang merupakan wadah tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari daun pisang yang di kedua ujungnya ditekuk dan disemat dengan potongan lidi. Dalam hal ini Deni Yana ingin memopulerkan teknik bungkus yang umumnya memakai daun yang kini diganti dengan material baru yaitu keramik.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Lokasi: Tierra Hejo, Parongpong – Lembang – Jawa Barat
Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin

1 16

Umumnya benda seni yang banyak kita temukan sebagian besar berbahan baku kayu, khususnya barang seni ukir. Material logam seperti besi beton, besi plat dan pipa besi, sebenarnya dapat dijadikan karya seni yang indah. Dengan teknik tertentu, sifat bahan yang keras dan kaku ini bisa berubah menjadi benda seni yang cantik dan terkesan luwes. Inilah yang dilakukan oleh seniman sekaligus pengusaha kerajinan berbahan logam, Defi Peranginangin.

Dimulai sejak tahun 2008, desainnya terbagi menjadi dua yaitu yang produk fungsional dan produk dekoratif untuk interior rumah. Besi yang dipakai adalah besi yang banyak dijumpai di toko-toko bangunan misalnya besi beton yang bulat polos berdiameter 2,5 mm sampai 20 mm.

Dalam proses pembuatannya, besi yang akan dipakai dipanaskan sampai menjadi “lunak”, setelah itu dipukul-pukul secara manual sampai bentuknya menjadi sesuai dengan yang diinginkan.

Proses selanjutnya adalah pengelasan dan digrinda agar benda tersebut halus dan bersih dari sisa-sisa besi yang masih menempel kemudian didempul dan dicuci dengan menggunakan cairan tertentu sehingga besi menjadi anti karat.

Berikutnya adalah perlakuan khusus agar besi benar-benar aman yaitu besi dimasukkan kedalam oven untuk dipanaskan agar karat tidak akan muncul pada besi ini.

Proses terakhir adalah pewarnaan yaitu dengan pelapisan (coating) baik dengan warna coklat ataupun hitam dan dilakukan dengan cara memakai kuas (dry brass) dan dengan listrik.

Tahap terakhir adalah pelapisan luar (top-coat) dengan menggunakan larutan tertentu sehingga produk ini benar-benar sempurna.

Menurut Defi, tren warna tahun ini adalah warna-warna tanah yang hangat sedangkan untuk model, pangsa pasar negara-negara Eropa biasanya lebih menyukai desain yang simpel dan warna yang bersih (clean) sedangkan konsumen dari Asia lebih menyukai yang bervariasi.

Agar tampilan produk lebih cantik lagi, biasanya dikombinasikan dengan material lain seperti kayu dan kaca.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

Koleksi : Carma – Bali
Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: Ahkamul Hakim

Fega


DLM

Random Post

0 14
Yu Sing adalah arsitek muda yang dikenal dengan karya-karya arsitekturnya yang unik. Arsitek muda ini lahir di Bandung pada 5 Juli, 36 tahun silam....