Seni

0 31

Barang seni bermaterialkan kaca ini memiliki ragam bentuk yang unik. Keunikannya terletak pada desain dan proses pembuatannya yang menggunakan cara ditiup. Maka tak mengherankan apabila produk ini disukai oleh turis asing.

Adalah Wayan Sudiarsa, pengrajin muda asal Gianyar, Bali yang memiliki ide mengumpulkan dan mengolah limbah kaca untuk kemudian dijadikan bahan baku barang seni ini. Ia mendapatkan limbah kaca dari berbagai tempat.

Hasil karya barang pecah belah Wayan memiliki desain dan warna yang beragam. Ada yang menyerupai vas, kendi ataupun bentuk-bentuk abstrak lainnya, namun tetap unik. Ia bercerita jika ragam bentuk dari barang pecah belah ini didapat setelah melalui serangkaian proses.

Pembuatannya bermula dari dipanaskannya limbah-limbah kaca yang sudah bersih dengan suhu 1.200 derajat celcius selama 12 jam. Proses itu dilakukan agar limbah kaca mencair. Lalu, gumpalan cairan kaca diambil dan dimasukan ke dalam alat yang biasa disebut ‘mal’ sambil ditiup dan diputar-putar.

Setelah mendapatkan bentuk yang diinginkan, kaca tiup ini kemudian dimasukan kedalam oven. Khusus untuk proses pewarnaan dilakukan dengan menaburkan pewarna yang berbentuk bubuk, kerikil ataupun pasir di atas meja, lalu kaca yang sudah ditiup digulingkan.

“Penting untuk menjaga kestabilan suhu. Produk kaca yang sedang diproses tidak boleh mengalami penurunan suhu yang drastis, karena akan mengakibatkan barang tersebut pecah”, ujar Wayan.

Seni olah kaca tiup yang ditekuni oleh bapak dua orang anak ini bermula ketika ia masih bekerja di sebuah perusaaah Jepang yang memproduksi produk berbahan glass. Berbekal ilmu dan pengalaman di perusahaan tersebut, Wayan bersama temannya membuat usaha sendiri di bidang yang sama dan kini semakin berkembang.

(Disadur dari Majalah Griya Asri Edisi Maret 2012, Penulis: Denyza Sukma, Fotografer: M. Ifran Nurdin)

Lokasi : Inti Bali Glass Blahbatu, Gianyar, Bali

0 58

Saat memandangi sebuah lukisan abstrak, tak jarang kita mengerenyitkan dahi. Kita akan bertanya, menebak dan mengira-ngira pesan apa yang ingin disampaikan oleh sang pelukisnya. Mengapa lukisan yang tak ‘tertebak’ masih diapresiasi khalayak dan dipamerkan di ruang galeri ?

Seni lukis merupakan bentuk ekspresi budaya manusia akan keadaan disekitarnya. Sejarah perkembangan seni lukis  telah dimulai sejak jaman batu. Dahulu, manusia primitif melukis motif hias yang terdiri dari pengulangan bentuk-bentuk dasar, motif Arabesque yang membalik dan mengulang bentuk dasar flora.

Pada abad ke-19 para pelukis Eropa, terutama pelukis yang berasal dari Prancis ‘menggoreskan’ tren terbaru dengan membuat karya yang mementingkan kesan hati. Gaya lukisan seperti itu disebut gaya impresionisme. Pelukis yang termasuk dalam kelompok tersebut antara lain Paul Cezanne (1839). Odilon Redon (1840) dengan gaya simbolismnya.

Lalu, Vincent Van Gogh (1853) yang melegenda dengan karya ekspresionisnya. Kemudian, ada Pablo Picasso (1881) dengan karya lukisnya yang bergaya kubisme hingga ke era Salvador Dali (1904) yang dikenal dengan gaya surealisme, karena karya lukisnya berdasarkan kebebasan khayalnya. Para pelukis legenda tersebut merupakan cikal bakal lahirnya lukisan bergaya abstrak.

Pelukis-pelukis abstrak yang berhasil, pada umumnya menguasai gambar bentuk. Mereka pun memerlukan keterampilan teknis, kepekaan mengomposisikan garis, bentuk dan warna serta tekstur pada semua bidang kanvas. Kekayaan pengalaman estetis seorang pelukis abstrak akan menampilkan karya yang menarik dan terasa ‘bernyawa’.

Hal ini terlihat di dalam 32 karya lukisan abstrak yang berasal dari seniman-seniman senior Indonesia. Pameran lukisan abstrak ini menarik, karena setiap pelukis memiliki gaya abstrak-nya tersendiri. Seperti William Robert yang kuat mengomposisikan garis dan warna yang matang. Lalu, ada AR. Soedarto yang menuangkan imajinasi pada bentuk belah ketupat dan Agus Budiyanto yang menggoreskan cat seolah-olah seperti awan.

Selain itu, tak kalah menariknya karya Sulebar M. Sukarman yang mengutip motif kain batik pesisiran di antara bidang-bidang warna ceria dan karya-karya pelukis abstrak lainnya yang menakjubkan. Memang, perlu berkali-kali untuk menghayati sebuah karya lukisan abstrak, namun karya-karya tersebut pantas jika menghiasi interior rumah tinggal, hotel ataupun bangunan publik lainnya.

Fotografer : M. Ifran Nurdin

0 57

Swietenia macrophylia atau orang awam mengenalnya sebagai pohon mahoni, memiliki buah yang ternyata tak hanya berfungsi sebagai obat penyakit diabetes saja, namun juga dapat digunakan sebagai bahan baku utama untuk pembuatan berbagai macarm ragam hias. Salah satunya sebagai ornamen lampu.

Bagian dalam buah dari pohon peneduh ini memiliki bentuk dan struktur yang unik. Jika mengirisnya, anda akan melihat bentuk bintang ataupun bentuk lainnya. Keunikan tersebut yang mendatangkan inspirasi bagi seorang pengrajin cenderamata bernama Irma. Wanita ini menjadikan buah mahoni sebagai material utama untuk dijadikan produk lampu meja dan lampu dinding.

Irma mencari bahan baku dan membuat desain produknya di Yogyakarta. Ia berujar bahwa proses pembuatan produk lampu meja dan lampu dinding terbilang sederhana. Irma hanya perlu mengumpulkan buah mahoni yang bagus. Setelah itu, buah mahoni yang sudah dipilih, dicuci hingga bersih dan dikeringkan secara alami dengan bantuan sinar matahari.

Proses selanjutnya adalah Irma mengiris buah mahoni yang sudah kering dengan ketebalan yang sudah ditentukan. Kemudian, membuat rangka lampu dari material besi terlebih dahulu. Setelah rangka lampu jadi, ia menyusun irisan buah mahoni sesuai kreasinya.

Sesudah terbentuk, lampu berbahan buah mahoni diberi plitur transparan agar terbebas dari jamur. Tak jarang ia juga melaburkan cat dengan warna tertentu. Biasanya, Irma menggunakan dua macam warna, yaitu warna natural dan warna merah marun. Produk lampu dari buah mahoni ini merupakan salah satu kerajinan yang berbasis ramah lingkungan. Menarik sekali!

Fotografer: M. Ifran Nurdin

 

 

42 460

Green1Trias Sutisna adalah sosok wanita yang luar biasa. Melalui tangan terampil dan ide kreatifnya, Trias Sutisna menata ruangan di dalam rumah menjadi lebih cantik dan feminin melalui sulam. Kegiatan yang bermula dari hobi itu ditekuni wanita manis dan ibu dari putri-putri yang sudah dewasa ini sampai sekarang.

Wanita yang aktif di berbagai kegiatan sosial ini melakukan hobinya dengan membuat berbagai pernak-pernik interior seperti sarung bantal, taplak meja, gorden, tempat tisu, berbagai kelengkapan ibadah dan cinderamata untuk pernikahan.

Yang menjadi ciri khas dari karya Trias Sutisna adalah penggunaan bahan kain atau tekstil seperti kain blacu, kain brokat, kain katun atau kain satin yang berwarna putih atau broken white. Agar karyanya tampak lebih menarik, semua karya tersebut diberi sentuhan motif bordir sehingga tampak lebih mahal.

“Saya selalu mengusahakan ada motif bordir pada setiap produk. Sekarang ini saya sedang mengangkat kain brokat yang selama ini biasa dipakai untuk bahan kebaya. Padahal kain brokat dapat juga dipakai untuk bahan apa saja dan hasilnya pun sungguh luar biasa,” ujarnya.

“Namun, apabila ada permintaan dari pemesan untuk memakai warna khusus, saya akan buatkan sesuai dengan permintaan tersebut,” tambah Trias.

Kini produk buatan Trias yang bermula dari hobi tersebut sudah dapat membawanya berkeliling dunia, melalui berbagai ajang pameran yang diikutinya di luar negeri. Hobi ini juga membahagiakannya karena dapat menciptakan lapangan kerja baru.

 

“Dengan membuat satu jenis produk, kegiatan ini dapat menghidupi delapan orang tenaga kerja, mulai tukang kain, tukang pola hingga tukang jahit. Jadi, prosesnya bagaikan ban berjalan. Dimulai dari diri sendiri, kini saya dapat menghidupi banyak orang dengan cara merekrut tenaga kerja di sekitar lingkungan saya,” papar Trias.

Kini produk yang dihasilkan Trias sudah tersebar luas, melalui pemasaran dari mulut ke mulut. Untuk memelihara pasar, Trias berusaha menjaga kualitas produknya mulai dari memperhatikan kualitas bahan, kualitas bahan penunjang sampai pada finishing-nya. Ibu berbakat yang masih terlihat cantik ini telah membuat terobosan baru di bidangnya dengan karyanya yang selalu up to date dan digemari oleh semua kalangan.

***

Tertarik dengan produk Green Design & Craft? Ikuti Giveaway Majalah Griya Asri bulan Mei berhadiah 5 Paket Cantik dari Green Design & Craft.

Caranya:

  1. Like FB Majalah Griya Asri.
  2. Follow Twitter Majalah Griya Asri.
  3. Tinggalkan komentar Anda tentang produk Green Design & Craft.
  4. 5 Pemenang berdomisili Indonesia akan mendapatkan hadiah masing-masing 1 paket cantik dari Green Design & Craft yang akan langsung dikirim ke rumah.
  5. Pemenang akan diumumkan pada Selasa, 14 Mei 2013.

UPDATE

Selamat untuk pemenang Produk Cantik dari Green Craft & Design:

  • Rully Fanny A
  • Fifin Ahmad
  • Yana Artika
  • Nurina Shinta Makarim
  • Indriani Radityo Maini

Silakan mengirimkan alamat ke inbox Page Majalah Griya Asri. Kami akan segera kirim hadiah ke rumah Anda.

0 78

Keindahan sosok wanita tak pernah habis untuk diperbincangkan dan dipertunjukkan. Salah satunya diekspresikan melalui karya-karya patung oleh Neneng S. Ferrier, salah satu seniman Indonesia. Dalam karya-karya patung yang ia ciptakan, Neneng S. Ferrier terinspirasi dari kehidupan para wanita sehari-hari yang sering ia jumpai.

Menurut Neneng, karya-karyanya lebih bertujuan untuk merenungkan makna hidup yang ada secara menyeluruh, bukan membahas secara eksplisit tentang masalah gender.

Hal tersebut terlihat jelas pada karya patungnya yang berjudul “Inner Beauty Series” (2008). Lewat simbol-simbol bunga yang keluar dari perut wanita dengan posisi terlentang, Neneng ingin menceritakan sekaligus menjadi bahan untuk perenungan bahwa kecantikan wanita tidak hanya dinilai dari fisiknya saja, melainkan juga dari dalam diri wanita (inner beauty).

Lalu, tak kalah menariknya patung karya Neneng yang diberi judul “Any Question” (2011). Lewat karyanya ini, Neneng menggambarkan tentang interaksi perempuan dengan anak-anak. Karya ini seakan-akan ingin bercerita tentang sosok wanita yang baik yang dapat membimbing anak-anaknya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Perupa yang berhasil meraih medali emas pada ajang “Creative Cities Collection Olympic Fine Arts London 2012” ini juga jeli membahas persoalan yang kini tengah dihadapi wanita modern dalam hal kebebasan berekspresi.

Melalui patungnya yang diberi judul “Self Conscious” (2011), Neneng mencoba bercerita bahwa wanita cukup sadar dan mandiri untuk menentukan hal apa pun yang ingin mereka kerjakan dan ekspresikan sesuai dengan tradisi yang berlaku. Lalu, material apa yang digunakan Neneng dalam menciptakan karya-karya patungnya?

Artikel lengkap tentang “Keindahan Wanita dalam Patung karya Neneng S. Ferrier” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 11, November 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis: Adhitya P. Pratama
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

42 441

Kayu limbah yang terlihat rusak akibat dimakan binatang bukanlah sampah. Kayu limbah itu bisa diolah menjadi produk-produk berkualitas yang terlihat alami dan berseni tinggi.

Itulah yang dilakukan oleh Firdaus, melalui kerja kerasnya mengubah berbagai kayu limbah jenis kamper, meranti, bengkirai dan kayu balau dari Kalimantan menjadi produk “Kayu Tangi” yang bernilai tinggi.

Guratan lubang-lubang kayu dengan kedalaman yang berbeda dan pola yang beragam adalah motif alami yang menjadi sumber inspirasi bagi Firdaus untuk membuat beragam jenis karya. Melalui pengolahan, mulai menghilangkan binatang dan kotoran di dalam kayu gelondongan, memotong, mengeringkan dalam jangkau waktu panjang, kayu-kayu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kemudian diproses menjadi aneka furnitur dan produk-produk lain yang digemari masyarakat.

kayutangi13 kayutangi12 kayutangi11 kayutangi10 kayutangi9 kayutangi8 kayutangi7 kayutangi6 kayutangi5 kayutangi4 kayutangi3 kayutangi2 kayutangi1

Jangan lewatkan Majalah Griya Asri November Giveaway.

3 orang yang beruntung akan mendapatkan produk Kayu Tangi, gratis dikirim ke rumah Anda.

Syarat:

 

Kesempatan ini terbuka hingga hari Minggu, 18 November 2012. Pemenang akan kami umumkan hari Senin, 19 November 2012 di Page Majalah Griya Asri & Twitter Majalah Griya Asri.

*berlaku bagi pembaca Majalah Griya Asri beralamat Indonesia.

Fotografer: Ifran Nurdin

1 77

Dewasa ini semakin banyak pilihan terhadap benda seni atau produk seni sebagai elemen dekorasi interior. Salah satu diantaranya adalah produk barang kerajinan yang merupakan paduan kuningan dan kaca karya seorang pengrajin Solo, Sutiman.

Kerja seni yang dibuat Sutiman dimulai sejak empat tahun yang lalu, melalui produk kaca seperti cermin, vas, dan tempat lilin. Kemudian, Sutiman mengembangkan produknya dengan cara memadukan material kuningan dengan kaca sehingga produk yang dibuatnya menjadi lebih indah dan disukai konsumen.

Proses Seni Kaca & Kuningan

Kuningan yang dipakai untuk barang produksinya memang masih diimpor dari Korea dan Jepang sedangkan bahan kacanya memakai produk lokal.

“Kuningan yang saya pakai biasanya masih berupa lembaran (lempengan) dengan ketebalan 0,3 mm sampai 0,4 mm. Saya memakai dua jenis kuningan yaitu yang berupa lempengan dan berupa kawat. Kawat ini biasanya berbentuk bulat dan dipakai untuk kaki-kaki produk,” ujar Sutiman kepada Griya Asri di workshop-nya. “Untuk bahan kacanya biasanya dipakai yang ketebalannya 2 mm sampai 2,5 mm (untuk pembuatan tempat lilin). Saya memakai yang sudah siap jadi dan telah tersedia di tempat langganan saya,” ujar Sutiman menambahkan.

Menurut Sutiman, prosedur pembuatan produknya memang sedikit rumit khususnya dalam menatah kuningan, karena dibutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Lempengan kuningan digunting sesuai dengan desain yang sudah ditentukan. Kemudian dibersihkan dengan zat pembersih khusus. Lembaran yang sudah dipotong sebagian ada yang ditatah, ada yang dipukul-pukul dan ada yang digunting sesuai dengan pola desainnya. Karena itu efek yang dihasilkan dari kedua macam prosedur tersebut akan berbeda. Setelah pola terbentuk maka untuk merekatkan satu pola dengan pola yang lain harus dipatri ataupun dilem, bergantung pada desainnya.

Proses terakhir adalah pewarnaan. Warna yang dipakai ada tiga macam yaitu gold, doft dan semi antik. “Namun, sebagian besar konsumen lebih menyukai warna semi antik, terutama konsumen dari pasar Asia,” ujar Sutiman.

Liputan tentang “Paduan Kuningan dan Kaca yang Cantik” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 08, Agustus 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono

84 1138

Batik bukan hanya motif yang dapat dilihat pada selembar kain. Motif ragam hias batik sudah memiliki tempat yang luas dalam pemanfaatannya, termasuk di antaranya sebagai ornamen hias pada cangkir, piring, dan benda-benda seni lain berbahan dasar keramik.

Penggunaan ragam hias batik pada karya keramik diterapkan oleh seorang keramikus asal Bandung, Elina Farida, yang juga alumni ITB Jurusan Keramik. Menurutn Elina, batik dan keramik adalah paduan dua karya yang berasal dari bumi Indonesia.

Aneka Ragam Hias Batik

Batik memiliki berbagai jenis ragam hias. Dalam hal ini Elina hanya menerapkan beberapa ragam hias saja pada karyanya. Menurut Elina, ia menerapkan lebih banyak motif geometris yang mayoritas berasal dari motif batik Jawa Barat seperti motif kumeli, motif pecah kopi, motif rereng sapatu dan motif kupat manggu.

Motif-motif tersebutlah yang banyak diterapkan pada desain karya Elina seperti pada piring dan gelas. Oleh karena itu karyanya tersebut memiliki keunikan tersendiri.

Proses Pembuatan Keramik Berhias Batik

Proses pembuatan semua karya keramik bermotif batik sama seperti proses pembuatan keramik pada umumnya yaitu melalui pembakaran tanahliat dalam suhu tinggi yakni sekitar 1200 derajat Celcius. Dengan demikian semua hasil produk yang dihasilkan bebas toksin dan aman untuk dipakai, bahkan untuk wadah makanan pun aman dipakai.

Teknik produksi yang dipakai untuk membuat keramik batik ini adalah dengan cara cetak tekan, slab dan putar. Setelah selesai proses tersebut, masuk pada tahap pengeringan dan tahap pewarnaan, kemudian tahap finishing dan packaging sebagai tahap terkahir.

Pemilihan warna untuk produk keramik yang berlokasi di Bandung memakai warna-warna yang alami, dan disesuaikan dengan bentuk produknya seperti warna cangkir dan warna piring selalu menggunakan warna natural. Adapun motifnya memakai warna agak kontras agar benda tersebut dapat berupa desain yang indah.

[space height="10"]

***

Ikuti Majalah Griya Asri December Giveaway berhadiah 5 set keramik batik cantik karya Elina. Caranya:
- Like Page FB Majalah Griya Asri & posting ini.
- Tinggalkan komentar Anda tentang Keramik Batik cantik ini.

LIMA pemenang yang beruntung akan mendapat masing-masing 1 set keramik batik cantik. Gratis. Dikirim ke alamat di Indonesia. Pemenang akan diumumkan pada Jumat, 21 Desember 2012.

Liputan tentang “Desain Rumah yang Nyaman dan Modern” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 07, Juli 2012

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi : Studio 181 – Bandung

Penulis : Denyza Sukma
Fotografer : M. Ifran Nurdin
Co-Writer: Sumardiono

0 99

Seni Islam memiliki kekhasan sebagai ekspresi budaya manusia. Sejalan dengan perkembangan waktu dan ruang yang memengaruhi pola pemikiran para senimannya, ekspresi seni, termasuk seni Islam pun mengalami perkembangan.

Seni Islam merupakan hasil karya seniman Islam yang menginterpretasikan ajaran Islam. Seniman Islam tetap berpegang teguh pada kitab suci Al Quran dan hadis Nabi Muhammad saw sebagai panduan hidup mereka. Untuk seniman Islam kontemporer, yang menjadi kekhasannya adalah mereka lebih bebas mengambil objek alam kehidupan di sekitarnya.

Seni Islam, Dulu dan Kini

Dahulu kala seni rupa Islam hanya bersumber dari tulisan yang diambil dari kitab suci Alquran yang diperindah dengan gaya dan tambahan ornamen yang berkembang menjadi seni kaligrafi. Karena ajaran agama Islam diharuskan hanya menyembah kepada Allah SWT, Yang Mahatinggi, Yang Mahatunggal dan Yang Maha Pencipta, maka seni Islam melarang melukiskan ciptaan Allah SWT yang bernyawa seperti manusia dan hewan, karena ada kekhawatiran hasil karya akan dikultuskan.

Seni patung yang berkembang di Eropa sejak zaman Yunani dan zaman Romawi dan lukisan potret raja-raja, keluarga dan tokoh dalam sejarah bangsa tak dikenal dalam seni Islam masa lalu. Dengan kepercayaan seperti itu para seniman Islam memfokuskan objeknya pada flora, sulur, daun, bunga dan buah, yang kemudian melalui stilasi yang artistik dan dekoratif, berkembang menjadi motif hias arabesque.

Dalam seni Islam kontemporer, para seniman lebih bebas untuk berkreasi yang objeknya bersumber dari ajaran agama Islam baik dari alam dan lingkungan, dari inti ajaran Islam maupun dari cuplikan ayat-ayat dalam Alquran, yang pada dasarnya mengajarkan kecintaan dan kebaikan.

Pameran Seni Rupa Islam Kontemporer

Beberapa waktu yang lalu di Galeri Nasional Jakarta diselenggarakan pameran “Seni Rupa Islam Kontemporer”. Para seniman yang berpartisipasi antara lain dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Aceh, Padang, Pekanbaru dan Lombok.

Dalam pameran digelar sebanyak lebih dari 200 karya berupa karya dua dimensi, tiga dimensi, instalasi ataupun karya yang dikerjakan melalui teknologi digital. Mereka mewakili wajah-wajah seni Islam kontemporer yang ada di Indonesia.

Liputan lengkap tentang “Seni Islam Kontemporer ” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 05, Mei 2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

 

 

Lokasi Pameran: Galeri Nasional Jakarta
Diselenggarakan Oleh: Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITB dan Yayasan Inisaf
Ketua Panitia: Abdul Sobur
Kurator: Rizki A. Zaelani dan A. Rikrik Kusmara

Penulis: Anur Erawati Mulhadiono
Fotografer: Ahkamul Hakim
co-writer: Sumardiono

0 93

Keramik adalah benda seni hasil olahan dari tanah liat. Berkat proses produksi dan seni, segumpal tanah liat yang tak terlalu berharga bisa berubah menjadi karya seni yang sekaligus fungsional.

Proses Pembuatan Keramik

Salah satu tempat bahan baku tanah liat yang memiliki kualitas baik adalah yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Jenis tanah liat yang sekarang banyak dipakai untuk pembuatan keramik adalah jenis tanah liat keras yang dapat dibakar hingga 1250 derajat Celcius.

Hasil keramik yang sudah melewati pembakaran suhu tinggi itu disebut stoneware. Stoneware memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya adalah tidak mudah ditembus air dan penyerapannya sekitar 2-5 persen.

Stoneware dapat dilapisi glazir sehingga menjadi lebih kuat, indah, dan tahan lama.

Koleksi Munthi Keramik

Munthi Keramik, produsen stoneware dan keramik memiliki beraneka produk untuk keperluan sehari-hari, mulai piring, perangkat minum teh (tea seet), perlatan untuk kamar mandi, juga berbagai pernak-pernik interior.

Agar tampil unik dan berbeda dengan masyarakat, Munthi Keramik memberikan layanan kustomisasi. Konsumen dapat memesan keramik dalam bentuk customized.

Liputan lengkap tentang “Stoneware: Keramik Koleksi Munthi Keramik” dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri Vol. 13 No. 04, April2012.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Penulis: Denyza Sukma
Fotografer: M. Ifran Nurdin
Co-writer: Sumardiono



DLM

Random Post

0 78
Keindahan sosok wanita tak pernah habis untuk diperbincangkan dan dipertunjukkan. Salah satunya diekspresikan melalui karya-karya patung oleh Neneng S. Ferrier, salah satu seniman Indonesia....