Dendy Darman, Melebarkan ‘Sayap’ UNKL347 Ke Ranah Interior

Menjelajah kota Bandung belum lengkap rasanya tanpa mengunjungi distribution outlet (distro). Ya, kota yang dijuluki ‘Paris Van Java’ ini memang dikenal sebagai kota fashion yang mempelopori melambungnya bisnis clothing di Indonesia. Diantara jajaran distro tersebut, terselip sebuah nama yang sejak lama merintis salah satu label clothing ternama di Bandung ‘UNKL347’, dia adalah Dendy Darman.

Bisnis yang telah ditekuninya selama hampir 20 tahun ini, bahkan menjadikan salah satu founder label clothing asal Bandung, UNKL347 ini  sebagai salah satu pelopor industri kreatif clothing dan distro (distribution outlet) di Indonesia.

Senada dengan prinsip hidup mendiang mantan CEO Apple, Steve Jobs, Dendy kini semakin melebarkan sayap bisnisnya dengan “merambah” dunia desain produk dan desain interior yang masih berada di bawah naungan nama besar UNKL347. Paduan antara bentuk dan ragam olahan material merupakan kekuatan karyanya sekaligus merupakan daya tarik dari setiap produk yang diciptakannya. Berikut kutipan wawancaranya.

Salah satu produk interior UNKL347S : Apa yang membuat Anda tertarik untuk “terjun” ke dunia desain produk dan desain interior?

D : Pada dasarnya saya menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan desain grafis. Itulah sebabnya, lini bisnis kami nggak akan jauh-jauh dari aktivitas mendesain. Kali ini, saya merasa seperti menemukan “mainan” baru yang prosesnya masih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut saya, melakukan hal baru itu seru.

 S : Saat ini Anda juga mengerjakan desain rumah tinggal, seperti apa Anda menggarap konsepnya?

D : Sebenarnya prosesnya hampir sama seperti apa yang saya lakukan ketika mulai merintis bisnis clothing. Tahapannya adalah mendesain, memproduksi, lalu menjualnya. Nah, itulah yang saya terapkan sekarang. Setiap detailnya saya kerjakan sendiri. Mulai dari menentukan lokasi, membeli lahan, merancang arsitektur bangunannya, dan menata interiornya. All in one package. Selanjutnya, tinggal menunggu respons dari masyarakat—if they like it, they’ll buy it—dan di luar dugaan rupanya responsnya positif. Sebagian besar di antara mereka adalah pasangan muda.

Karya UNKL347 di Bandung

S : Adakah kriteria tertentu untuk desain rumah yang akan Anda kerjakan?

D : Jujur saja, saya lebih senang mendesain tipe rumah mungil. Karena dengan luas yang terbatas itu, kami harus memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan pemilik rumah akan ruang tetapi tetap terlihat lapang. Nah, di situlah letak tantangannya. Dengan beragam kompleksitas dan kendala, saya merasa tertantang untuk menyelesaikannya. Selain itu, sebisa mungkin saya menggunakan bahan-bahan daur ulang (recycle). Kayu contohnya, biasanya saya menggunakan kayu peti kemas yang sudah tidak terpakai, lalu sengaja mengeksposnya begitu saja. Keren, tetapi tetap ramah lingkungan.

S : Adakah gaya desain tertentu yang menjadi identitas atau karakter dari karya-karya yang Anda ciptakan?
D : Secara visual, saya cukup terpengaruh oleh desain rumah yang berkembang di era tahun 1950-an dan 1960-an (mid-century), termasuk bentukan furniturnya. Saya senang dengan segala sesuatu yang natural, artinya kalau menggunakan kayu, saya cenderung mengekspos keindahan warna dan seratnya tanpa perlu menutupinya. Namun, saat mendesain saya lebih membiarkan ide mengalir begitu saja tanpa berupaya meniru atau terpaku pada satu gaya desain saja. Selama masih indah dipandang, saya cenderung menggabungkan beberapa gaya (eklektik) agar tampilannya tidak monoton.

 S : Bagaimana Anda menilai perkembangan desain yang ada saat ini?

D : We just entered a new generations. Perkembangan desain sekarang sudah semakin maju seiring dengan semakin canggihnya teknologi. Masyarakat juga semakin mengapresiasi hasil karya para desainer atau seniman dari segala aspek sehingga hal itu bisa memacu berbagai industri kreatif agar semakin berkembang dan bisa bersaing secara sehat.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul “Dendy Darman, Mendesain dengan Hati” yang terbit di majalah Smart Design edisi April 2014

Foto : Tri Rizeki

LEAVE A REPLY