Desa, Wilayah yang Sering Terabaikan

Pembangunan pedesaan cenderung terabaikan ketika fokus pembangunan hanya berpusat di kota. Hal ini mengakibatkan urbanisasi terus meningkat karena warga desa berpikir untuk memperbaiki taraf hidupnya haruslah tinggal dan bekerja di kota.

Dalam rangka Hari Bakti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ke-70, dan rangkaian Jakarta Architecture Triennale (JAT) 2015, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berkolaborasi dengan Kementerian PUPR mengadakan rangkaian acara talk.

Singgih Susilo Kartono dalam paparannya mengenai Urbanisasi dan Pembangunan Pedesaan dalam sesi talk bertema “Arsitektur, Kota dan Ideologi Bangsa”, menjelaskan sesungguhnya masalah di kota akan selalu muncul jika pembangunan tidak menyentuh pedesaan. “Kota punya sumber daya, tapi kurang. Kota tidak bisa menghasilkan pangan dari areanya sendiri. Desa dengan sumber daya yang banyak, sayangnya hanya mendapatkan sisa-sisa dana pembangunan.” ujarnya.

Orang desa cenderung hanya seperti wadah penampung informasi, produk bahkan gaya hidup orang kota. Potensi desa terus digerogoti dan ini yang memicu masalah, menurut Singgih. “Karena hanya menyerap perubahan, ada yang tadinya rumahnya punya halaman, punya teras, diubah rumahnya menjadi desain yang tidak ada maksud dan maknanya, ya karena nggak ada arsitek di desa, bangunnya asal-asalan cuma biar kelihatan modern.” lanjut Singgih.

Singgih menambahkan, jika desa makmur maka otomatis kota juga mamur. Jika desa makmur, orang desa tidak perlu ke kota, sehingga tidak terjadi sentralisasi di kota, yang menyebabkan tekanan hidup tinggi dan menghilangkan keseimbangan. “Harus ada koneksi antara desa dan kota, desa yang terbangun, kota pun akan terbangun.”

 

Foto: Aprillia Ramadhina

LEAVE A REPLY