Didiet Maulana : Mengembangkan Potensi Kain Tradisional Indonesia

Rasa ketertarikannya dengan wastra nusantara, terutama kain tenun setagen membawa sosok desainer muda ini pada sebuah eksplorasi desain yang menggabungkan antara unsur tradisional dan unsur modern. Dengan kreativitasnya, ia pun memunculkan potensi yang ada pada kain tradisional Indonesia.

Kain tradisional kini semakin tampil cantik dan memikat setelah mengalami proses pencelupan aneka warna yang juga mengandung makna tersendiri. Hal itulah yang kemudian menarik Didiet Maulana, seorang desainer fashion, untuk mulai mengeksplorasi kain tenun nusantara dan mengembangkannya menjadi produk yang menarik dan dilirik oleh banyak pihak.

Lulusan Ilmu Arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini, mengatakan bahwa ia mendapatkan inspirasi karyanya dari berbagai hal, mulai dari keindahan alam Indonesia, hingga dari musik tradisional ataupun modern.

Bulan Febuari lalu, Didiet berhasil terpilih sebagai salah satu desainer di Asia yang mengerjakan tas untuk dibagikan kepada para selebritas di ajang Grammy Awards 2016. Ia membuat karya yang terinspirasi dari beragam motif kain daerah di Indonesia seperti Bali, Makassar, dan Palembang. Di proyek ini, Didiet bekerja sama dengan salah satu produsen tas terkemuka di dunia, untuk menghasilkan karyanya tersebut.

“Saya ingin kain tenun menjadi ‘bintang’ di dunia internasional. Semakin banyak orang yang memakai kain tenun, maka kehidupan sosial ekonomi para perajin kain d daerah juga terbangun,” ujar Didiet.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul “Didiet Maulana : Memunculkan Potensi Kain Tradisional” oleh Adhitya Pratama yang terbit di majalah Asri edisi Mei 2016

Foto : Ifran Nurdin

LEAVE A REPLY