Djoko Simbardjo, Dokter dan Guru Besar yang Pelukis

Sosok Prof. dr. Djoko Simbardjo cukup dikenal di kalangan kedokteran Universitas Indonesia sebagai orang yang berdedikasi. Dokter spesialis bedah tulang ini memiliki empat karya orisinil yang telah dipatenkan dari sebelas karyanya di bidang bedah tulang (Orthopaedi).

Ternyata dibalik profesinya dokter Djoko Simbardjo menjadikan melukis sebagai oase kehidupannya. Kegiatan melukis yang ditekuninya sejak SMP menjadi tempat mencari ketenangan batin dan menyalurkan hobi.

Pada tanggal 6-9 Agustus 2015, Djoko Simbardjo mengadakan pameran bertema “Apresiasi Kreativitas” yang menampilkan sekitar 150 karya lukisannya beserta para seniman Pekalongan lainnya.

“Waktu kecil saya tidak punya uang untuk beli kanvas. Jadi saya pakai kanvas bekas yang ada lukisannya lalu saya timpa dengan cat dan saya buat lukisan baru,” kata Djoko Simbardjo tentang awal mulanya melukis di atas kanvas.

djoko-menulis

Bagi Djoko, melukis tak membutuhkan waktu khusus. “Saya bisa melukis kapan saja dan bisa berhenti kapan saja. Kalau sedang melukis tapi harus operasi ya saya berhenti dulu. Nanti kalau sudah senggang saya melukis lagi. Ndak usah repot toh?” ujar pak Djoko ketika ditanya bagaimana caranya mencari waktu di antara kesibukannya sebagai dokter dengan kecintaannya pada melukis.

“Banyak pelukis itu terpenjara oleh waktu, padahal harusnya kita yang mengendalikan waktu. Dengan megendalikan waktu, banyak hal yang bisa kita capai” jawabnya lagi ketika #BatikTV bertanya bagaimana bisa seorang dokter bedah tulang yang sibuk bisa mempunyai waktu untuk melukis ratusan lukisan.

Ratusan lukisan karya Djoko Simbardjo dipamerkan dalam Pameran “Apresiasi Kreativitas” beserta pameran pendukung karya Sumantoro, Hartanto & Priadi, serta karya warga binaan Lapas Pekalongan Kelas IIA. Pameran yang diselenggarakan oleh PT Griya Asri Prima (penerbit Majalah Griya Asri) ini didukung oleh Ridaka, Dudung Alisyahbana, Akademi Berbagi Pekalongan, Komunitas Insta-Pekalongan, Kopefi, dan Rumah Bunga.

Foto: Ifran Nurdin

1 COMMENT

LEAVE A REPLY