Goresan Ekspresif Seniman Eky Tandyo

Horse-106x158cm
Horse, 106 cm x 158 cm

Seni lukis adalah suatu kesenian yang diekspresikan melalui gambar oleh para penciptanya. Karya seni ini merupakan alat komunikasi yang berbentuk visual antara seniman dan audience-nya atau penikmatnya. Suatu karya seni, seperti lukisan dapat dinilai dari beberapa aspek yang terkandung dalam lukisan tersebut.

Bahasa visual inilah yang merupakan “rangka utama” dalam mewujudkan hasil goresan seorang fotografer profesional yang sebetulnya adalah seorang seniman lukis, Eky Tandyo. Orang banyak mengenalnya sebagai fotografer profesional, tetapi sesungguhnya lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah ini adalah seorang pelukis yang multitalenta.

merak
Merak, 110 cm x 90 cm. Koleksi : dr. Hery Djoni

Sosok Eky yang gemar membaca buku, terutama buku filsafat Timur seperti filsafat India, Jepang, Tiongkok, serta filsafat Jawa membuat informasi yang didapat mengendap di benaknya. “Endapan” inilah yang memacu Eky untuk mengeluarkan ide yang penuh dengan makna kehidupan, yang kemudian divisualisasikannya lewat goresan ekspresif.

“Saya lebih menguasai teknik melukis dengan menggunakan cat air sebab sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan material tersebut oleh ayah saya. Namun, saat ini saya lebih senang memakai cat akrilik karena cepat kering dan lebih simpel. Oleh karena itu, banyak karya saya yang dipengaruhi oleh China painting, yang memang sangat identik dengan teknik water color,” ujar Eky.

eky

Apabila diperhatikan secara saksama, karya Eky lebih mengarah pada gaya kontemporer, di mana ciri-ciri seni kontemporer diantaranya adalah tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dahulu dan berkembang sesuai dengan zaman sekarang. Dengan kata lain, tidak terdapatnya sekat antara berbagai disiplin seni alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, bahkan seni musik.

Karya Eky selalu mengekspresikan diri dengan konsep, simbolis, dan filosofis. Untuk itu, karyanya lebih cenderung ke gaya ekspresionisme dan meditative. Selain itu, juga selalu kaya akan sebuah perenungan, seperti pada karya Sperm (150 cm x 90 cm) yang diberi judul “The Winner Takes it All”. Karya ini mengandung makna bahwa sejak sebelum dilahirkan saja, kita sudah harus “berkompetisi”.

Sperm-150x90cm
Sperm, 150 cm x 90 cm

Mengenai komposisi warna, menurut Eky, semuanya mengikuti feeling saja. Aplikasi warna sejak proses awal tidak direncanakan tetapi biasanya komposisi itu lahir dengan sendirinya sesuai dengan konsep lukisan yang diterapkannya. Sampai saat ini kumpulan karya yang telah dihasilkan Eky sekitar 40 buah lukisan, dan beberapa diantaranya sudah dikoleksi oleh kolektor setianya.

Berbicara tentang objek lukisan, bagi Eky tidak terbatas dari apa yang ia lihat di sekitarnya tetapi lebih sering muncul dari perenungan, pemikiran, dan rasa yang selalu hadir dalam benaknya. Oleh sebab itu, dalam menikmati karya lukis yang diciptakannya pun perlu pemahaman yang dalam dari para penikmatnya.

Peacock-95x145cm
Peacock, 95 cm x 145 cm

 

Foto: M. Ifran Nurdin dan Eky Tandyo

Artikel ini disadur dari tulisan berjudul Bahasa Visual Lewat Goresan Ekspresif yang terbit di majalah Griya Asri edisi Juni 2016 dan ditulis oleh Denyza Sukma

LEAVE A REPLY