Greenhost Boutique Hotel, Salah Satu Lokasi Shooting AADC 2 di Yogyakarta

gh2

Bagi yang sudah menonton film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) pasti sudah tahu bahwa Cinta dan Rangga pertama kali bertemu kembali setelah sekian lamanya berpisah adalah di sebuah pameran seni di Yogyakarta. Ya, saat shooting dilakukan memang tengah berlangsung pameran Eko Nugroho yang diadakan di Greenhost Boutique Hotel, yang tepatnya berlokasi di JL. Prawirotaman II No. 629. Selain Green Art Space (area pameran,) kolam renang dan Art Kitchen (restoran) juga menjadi beberapa area yang ditonjolkan di dalam film AADC 2.

“Kami merasa sangat senang dan apresiatif. Dengan dilibatkannya Greenhost Boutique Hotel di AADC 2, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami. Terlebih lagi karena selain sebagai Green Hotel, salah satu objektif kami adalah menjadi penghubung bagi komunitas-komunitas kreatif lokal dimana mereka dapat memanfaatkan tempat kami sebagai platform untuk memamerkan karya kreatif mereka.” ujar Asta dari bagian Communication Department Greenhost Boutique Hotel. Ingin tahu seperti apa arsitektur dan desain interior hotel ini?

gh1

Greenhost Boutique Hotel menerapkan konsep bangunan hijau (green building). Melalui konsep ini, bangunan diupayakan semaksimal mungkin agar ramah terhadap lingkungan. Hotel juga dirancang sebagai wadah kreativitas para desainer dan seniman.

Hotel dengan lima lantai ini mengambil lokasi di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta. Kawasan tersebut dikenal sebagai tempat berkumpulnya komunitas seni dan komunitas kreatif, khususnya yang berada di kota gudeg. Selain menjadi sebuah hospitality yang nyaman,  hotel ini juga didesain untuk mengangkat “jiwa” dari lokasi tempat hotel berada (the spirit of place), baik secara lingkungan maupun secara aktivitas. Sinergi bangunan dengan lokasi inilah yang merupakan ide awal rancangan hotel.

gh3

Bangunan Ramah Lingkungan

gh4

Efisiensi, efektivitas, dan optimalisasi merupakan kunci utama dalam membangun hotel ini sehingga menjadi bangunan ramah lingkungan. Pada saat proses pembangunan, sedapat mungkin tanah tidak dibuang keluar site. Hal ini dilakukan pada saat penentuan level lantai dasar dengan menghitung secara saksama volume tanah galian dan urugan fondasi. Massa bangunan dirancang tidak menempel dengan dinding bangunan tetangga sehingga sirkulasi udara dan pencahayaan alami menjadi  optimal.

Optimalisasi sirkulasi udara dan pencahayaan alami juga diakomodasi dengan void di tengah bangunan. Bentuk efisiensi lainnya adalah memanfaatkan energi gravitasi untuk distribusi air secara vertikal serta mengurangi/menurunkan spesifikasi daya alat elektronik dalam kamar tidur seperti penggunaan lemari es dan Air Conditioner (AC). “Kami juga melakukan konservasi air. Air limbah kami filter agar dapat dimanfaatkan lagi untuk penyiraman tanaman,” ujar Joko Haryanto dari biro arsitektur Timtiga yang merancang bangunan ini.

gh6

Rancangan fasad bangunan yang terlihat simpel juga berangkat dari prinsip optimalisasi. Melalui desain fasad bangunan yang didesain “polos” dengan lebih menonjolkan deretan jendela kamar tidur. Arsitek ingin mengoptimalkan kebutuhan akan view, pencahayaan, dan sirkulasi. Masih berangkat dari prinsip optimalisasi dan prinsip efisiensi, material yang digunakan pada hotel ini banyak berupa material sisa yang diangkat dan dinaikkan kembali nilainya (upcycling).

Sementara itu, dinding bangunan didominasi beton/plester semen ekspos. Selain untuk efisiensi biaya pembangunan, penerapan material berwarna abu-abu tersebut, diharapkan menjadi “kanvas” yang dapat direspons oleh para seniman atau desainer untuk menampilkan karyanya.

Ruang Ekspresi Kreativitas

Ruang dalam hotel ini dirancang sebagai ruang ekspresi kreativitas dari para desainer interior, desainer produk, perupa, dan pelaku kreatif lainnya. Di hotel ini para desainer dan seniman dapat memamerkan berbagai karya mereka, memasarkan karya mereka, mengadakan kegiatan yang terkait dengan kreativitas, serta saling bekerja sama dengan sesama pelaku kreatif.

gh7

Hal ini dapat terlihat di area publik lantai dasar. Sebuah karya seni berwujud patung menjadi penyambut tamu di area lobi. Di area makan, tersedia panel-panel dari kayu bekas peti kemas pada dinding dan kolom yang dapat digunakan untuk memamerkan berbagai lukisan. Di lantai yang sama, juga ditempatkan ruang workshop seni dan galeri berbagai produk kreatif. Desainer juga dilibatkan dalam mengisi interior kamar-kamar tidur yang berada di lantai 1 sampai lantai 3. Tiga tim desainer mampu menghasilkan karya tujuh tema kamar tidur berbeda dalam koridor desain ramah lingkungan.

Konsep City Farming

gh5

Sebagai bagian dari konsep “hijau” yang ditampilkan, hotel ini mengangkat tema khusus yaitu “City Farming”. Bentuk city farming ini berupa penempatan kebun sayuran hidroponik di railing void dan di lantai paling atas (rooftop). Pihak hotel ingin mengenalkan pertanian kota di dalam bangunan ke lingkungan di sekitarnya. Ke depannya, city farming ini tidak sekadar menjadi penghijauan hotel semata-mata tetapi sekaligus dapat menjadi gaya hidup, baik para karyawan hotel, tamu hotel maupun masyarakat di luar lingkungan hotel.

Foto: M. Ifran Nurdin

Arsitek: Timtiga

Lokasi: Greenhost Boutique Hotel

JL. Prawirotaman II No. 629, Brontokusuman

Yogyakarta

*Artikel ini dirangkum dari tulisan berjudul “Bangunan ‘Hijau’ Berbingkai Kreativitas” yang terbit di majalah Griya Asri edisi Agustus 2015 dan ditulis oleh Hafidh Aditama

LEAVE A REPLY