oleh

INSPIRASI FURNITURE RECYCLE DARI BANGKAI KAPAL

IMG_6743.JPG
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)
IMG_6744.JPG
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)

PENGGUNAAN bahan-bahan recycle atau daur ulang sudah tidak terdengar asing lagi dalam dunia furniture saat ini. Hal ini dikarenakan sifatnya yang ramah lingkungan serta penampilannya yang unik dan anti mainstream sehingga menguntungkan dalam segi bisnis. Namun bagaimana kalau bahan-bahan recycle yang digunakan berasal dari bangkai kapal yang sudah tidak terpakai lagi?

20160521_095149.jpg
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)
20160601_160439.jpg
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)
20160122_110856.jpg
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)

Di tangan pengerajin-pengerajin kreatif, bahan kayu kapal bekas nelayan tersebut disulap menjadi produk-produk furniture seperti meja, kursi, rak, lemari, dll. yang memiliki nilai estetika tinggi dan bernilai jual tinggi Pengolahan furniture dari bahan kayu kapal sendiri banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Bali.

Peminatnya sendiri pun sebagian besar berasal dari benua Eropa seperti Belanda, Jerman, Itali, serta Perancis. Di luar sana, furniture berbahan daur ulang kayu kapal sangat terbatas sehingga sangat dihargai, walaupun dengan harga yang tinggi.

Furniture berbahan kayu kapal ini terbilang unik, karena membiarkan karakteristik alami dari kayu kapal itu sendiri seperti, lubang-lubang pada permukaan kayu, warna cat yang telah mengelupas, bekas oli, bahkan karang-karang yang masih menempel sengaja dibiarkan agar tetap terlihat alami .

Karakteristik lain dari kayu kapal itu sendiri adalah bahannya yang sangat kuat. Kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal merupakan kayu pilihan, sehingga mampu bertahan ketika digunakan berlabuh. Selain itu, karena sering terendam air laut membuat kayu kapal mampu tahan terhadap serangan rayap.

Kesan rustic dan antik sangat menarik dipadukan untuk hunian pribadi, restoran, cafe, sampai ruang komersial lainnya. Desainnya yang sederhana membuatnya mudah untuk dikombinasikan dan diterapkan pada interior bertema apa saja.

20161121_110215.jpg
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)

Karena kelebihan-kelebihan tersebut, bahan daur ulang kayu kapal sangat cocok apabila dijadikan sebagai elemen interior yang artistik dan juga fungsional. Apakah anda tertarik menggunakan furniture berbahan kayu kapal ini?

20170814_090440.jpg
Dokumentasi penulis (Justin Holiyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

  1. Mau curhat gppa ya min. Pertama kali saya baca majalah asri itu sd kelas 3. Saya suka sekali baca majalah itu walaupun tidak paham isinya. Majalah itu milik kaka saya dan jumlahnya ada 30 majalah. Saya baca semuanya bolak balik tidak pernah bosan. Sampai smp, majalah itu ntah disimpan dimana oleh ibu. Ibu menganggap buku2 itu tdak penting. Kalo kaka ga melarang mungkin sudah dijual. Akhirnya majalah itu hilang dari ingatan. Saya punya kesenangan baru. Kehidupan baru. Pergaulan baru. Sampai saat kuliah, saat aktif diorganisasi, senior saya bertanya. Apa life goal km ? Apa passion kamu. Dari situ saya kembali melihat-lihat apa yg sudah saya lakukan. Apa yang sering saya lakukan. apa yg tak pernah bosan. Setelah melihat2 jurnal saya sadar bahwa saya sering mendesain rumah, taman, dan furniture. Walapun tidak sebagus arsitektur. Saya sering melakukan itu dan selalu tidak puas dg hasilnya. Ketika saya melihat akun yutub saya, ternyata yg sering saya tonton adalah desain dan isu lingkungan. Setelah menyadari hal itu saya menyesal kenapa tidak masuk komunitas dan bergerak dibidang itu. Teman2ku bertanya dari mana kamu punya passion seperti itu padahal kamu hidup dilingkungan yg jauh dari hal2 seperti itu (organ pergerakan ). Suatu saat saya pulang ke rumah dan bantu ibu beres2 gudang dan menemukan majalah asri tahun 1988 yg topik utamanya ttg rumah vina panduwinata. Saya buka2 majalah itu. Ya tuhan saya pernah baca majalah ini. Saya pernah cinta majalah ini. Dan saat itu saya jatuh cinta kembali dengan cara dan interpretasi bacaan yg sekarang. Saya merasa menemukan saya di majalah itu. Saya tanya pada ibu mana edisi lainnya. Beliau jawab tidak tahu. Tapi dari raut wajahnya tampaknya berbohong karna melihat betapa bahagianya saya melihat majalah itu. Saya curiga sudah dijual. Tapi masih terus mencari. Saya baru lulus s1 fresh graduate adalah masa2 kebimbngan yg luar biasa tahap pertama menghadapi kehidupan nyata. Saya aktif d organisasi pergerakan mahasiswa yg mendidik saya dan mempengaruhi saya untuk memiliki cita2 mulia dengan bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi penjadi agen perubahan. Organisasi tsb identik dg politik sedang ternyata passion saya bukan disana. Mau berkarir saja mencari pekerjaan rasanya gelisah karna mengkhianati pengetahuan yg saya miliki. Akhirnya saya ngobrol dengan bapak saya dan ternyata memiliki visi yg sama. Yaitu bidang pendidikan. Saya mendesain eco-pesantren yg lengkap dengan taman, kebun, perpustakaan, asrama, lapang, warung hidup, apotik hidup, dll yg bergantung pada alam, saya bercita2 pesantren ini menjadi pelopor gaya hidup ramah lingkungan, dimana penggunaan plastik diganti ke bahan2 alami(zerowaste) Berdaulat pangan dan energi. mencari alternatif dan menciptakan alternatif bersama2. Bapak saya takjub dengan desain dan presentasi alasan disetiap detailnya. Bapa saya bertanya “kamu kuliah di jurusan sastra Arab. Dari mana kamu belajar semua ini” saya jawab “saya di didik organisasi pa dan MAJALAH ASRI.” Itu yg keluar dari mulut saya karna memang tidak pernah ada yg mendoktrin saya isu lingkungan dan mengajari saya desain arsitektur. Saya melihat semua itu di majalaj asri waktu SD.
    Setelah itu saya mencari informasi apakah majalah asri masih terbit. Apakah masih memiliki jiwa yang sama. Apapun kabarnya saya mau beli. Tapi sepertunya mahal. Yang jadul saja harganya sudah 10k. Saya menemukan website ini dan ternyata ada youtub juga saya suka video2nya kesannya tidak berbeda dengan majalah. Masih ‘majalah asri’ banget. Tapi sayang tidak bikin video lagi. Apakah penggagas asri masih hidup. Apakah ide2 asri masih sama. Itu yang saya pertanyakan ketika saya kangen akan sesuatu yang pernah penting dalam hidup saya. Cita-cita saya adalah mengkoleksi seluruh edisi majalah asri dari pertama terbit tahun 1983 sampai 2019
    Tujuannya mendoktrin kembali isi kepala saya dengan ide2 damai dan inovatif . nanti anak2 saya kelak tanpa disuruh juga akan membuka2 majalah ini.
    Doakan saya segera sukses untuk membeli majalah2 itu yg kalau dihitung 2019-1983= 36 × 12= 432. Mungkin lebih dengan edisi2 spesialnya.
    Doakan juga cita2 eco-pesantren saya terwujud . Hari ini dalam tahap proses konsep dan perdebatan dengan pihak2 yang akan menghidupkan yayasan.
    ‘Jika tidak mendapatkan semuanya bukan berarti harus dibuang semuanya’
    Saya tidak bermaksud apa. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa majalah asri ada arti pentingnya bagi pembaca. Saya yakin diluar sana banyak yang lebih berkesannya dari saya. Dan mungkin banyak juga yang mengirimkan isi hatinya dengan berbagai cara.
    Tentunya saya berharap asri masih terbit dalam bentuk majalah. Saya sudah melamun koleksi majalah ini dipajang diperpustakaan pesantren nanti santri2 bacaannya ga hanya kitab dan sosmed tapi majalah2. Hhehe
    Saya juga berharap video di youtube nya di tambah lagi.
    Saya lihat komentar juga ada beberapa yang masih menanti video.
    Salam rindu
    Dari gadis garut yg selalu bermimpi menciptakan peradaban damai.

News Feed