Manik-Manik: Antik, tapi Cantik

manik-manik

Benda berbentuk kecil yang tengahnya berlubang untuk memasukkan benang dan di rangkai sebagai kalung, gelang, dan perhiasan ini sudah ditemukan sejak  zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan manik-manik dari batu dan keramik pada situs purbakala, seperti di Sangiran dan Trowulan, serta daerah lain di luar pulau Jawa.

Manik-manik yang tertua dibuat dari keramik, batu, atau kaca. Banyak di antaranya digunakan sebagai benda upacara atau amulet, seperti di Kalimantan pada suku Dayak, di Sumatra Utara pada suku Batak, dan di daerah yang masih berbudaya tradisional. Selain dibuat dari batu, manik-manik juga dapat berasal dari kerang dan sering ditambahkan bulu burung.

manik-manik

Masyarakat primitif ini percaya bahwa manik-manik mempunyai kekuatan gaib, dapat menolak bala, menyembuhkan penyakit, serta manfaat mistik lainnya. Karena itu, manik-manik dianggap benda berharga yang dahulu juga digunakan sebagai benda pembeli layaknya uang di masa kini. Tak hanya itu, manik-manik dipakai pula sebagai perhiasan pemangku adat atau kepala suku, mas kawin, dan hadiah pada upacara adat.

manik-manik

Kini, manik-manik dibuat dari kristal, kaca, bahkan plastik. Kilap dari kristal dan kaca menjadi pilihan para konsumen dan digunakan untuk berbagai perhiasan. Misalnya, manik-manik dari batu dirangkai dan dikombinasikan dengan logam berukiran tradisional, dapat menimbulkan kesan antik serta anggun. Contoh lainnya, batu-batuan, seperti koral dibentuk tak beraturan lalu dirangkai menjadi kalung dengan warna merah kecokelatan.

Manik-manik dari kristal berkilau bila diterpa sinar dan dapat menjadi perhiasan yang trendi dengan kesan mewah. Namun, masih banyak juga orang yang gemar mengoleksi perhiasan dari manik-manik keramik. Manik-manik yang dibuat satu persatu melalui goresan tangan dan dihias motif geometris, menciptakan kesan antik, tapi cantik.

Foto: Anur E. Mulhadiono

LEAVE A REPLY