oleh

Memakai Pakaian Adat Aceh di Museum Cut Nyak Dhien

Perjalanan perjalanan #TourAcehMedan bersama Green Design Community (GDC) terasa menyenangkan.

Bangun tidur dan menatap pantai Pulau Weh yang segar terasa mencerahkan hati. Rasanya ingin sekali tinggal lebih lama di pulau Weh. Sayangnya pagi ini kami harus segera berkemas untuk kembali ke Banda Aceh.

***

Suasana pagi hari di Freddie Santai sangat cantik. Sambil duduk menikmati sarapan, kami bisa melihat ke arah laut lepas. Pantas saja tempat ini menjadi Travelers’ Choice® 2014 Winner versi TripAdvisor.

Sambil menikmati hidangan di pinggir pantai, imajinasiku melayang. Aku berkhayal ada cukup waktu untuk membuka laptop dan menulis rangkaian kalimat yang mendadak berseliweran di kepala. Mungkin kalau seminggu aku tinggal di sini pulang-pulang bisa selesai naskah satu buku.

Tapi apa daya. Kenyataan menghempas khayalanku. Kapal feri Express Cantika 89 yang menjadi penghubung antara pulau Weh dengan Banda Aceh sudah menunggu untuk membawa kami kembali ke pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh.

***

Sampai di pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, kami kembali naik bus besar menuju rumah Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional asal Aceh.

Sebagaimana kebiasaan dari tour yang diadakan oleh Green Design Community, pada beberapa kesempatan peserta memakai pakaian tradisional sesuai daerah tersebut. Karena sedang di Aceh, sebelum menuju rumah Cut Nyak Dhien yang kini menjadi museum, kami mampir sebentar ke Rias Pengantin Elisa untuk berdandan pakaian adat Aceh.

Pakaian adat Aceh untuk para pria adalah Linto Baro, baju berbentuk jas dengan leher tertutup yang dihiasi dengan sulaman emas di bagian kerahnya (Baje Meukasah). Jas ini dipadukan dengan celana panjang yang disebut Cekak Musang. Kain sarung yang terbuat dari sutra songket dilipat di pinggang menambah kesan gagah. Sebilah rencong atau siwah berkepala emas/perak diselipkan di ikat pinggang. Bagian kepala ditutupi penutup kepala yang biasa disebut dengan Kupiah Meukeutop lengkap dengan lilitan Teungkulok yang terbuat dari kain tenun dan Tampok yang berupa hiasan bintang persegi 8.

Sementara itu, para wanita menggunakan pakaian adat Aceh berupa Dara Baro, baju kurung berlengan panjang hingga sepinggul dengan kerah baju yang hampir menyerupai krah baju khas China. Para wanita juga memakai celana panjang atau Cekak Musang dan sarung bercorak dengan hiasan emas yang dilipat sampai lutut. Untuk tatanan rambut, karena Aceh menggunakan hukum syariah Islam, maka disarankan untuk memakai jilbab. Tapi bagi yang tidak memakai jilbab, rambut bisa disanggul kecil dan diberi hiasan seperti daun emas.

***

Rumah Cut Nyak Dhien yang kami kunjungi merupakan hasil replika dari rumah asli karena rumah aslinya telah dibakar hangus oleh Belanda pada tahun 1896. Situs bersejarah ini terletak di jalan Cut Nyak Dhien, desa Lampisang, kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Tempat ini adalah lokasi asli rumah tinggal pahlawan nasional perempuan, Cut Nyak Dhien.

Di rumah inilah dulu Cut Nyak Dhien berlindung dan menyusun strategi perang. Di rumah ini pula orang-orang berlindung saat gelombang tsunami menerjang Aceh tahun 2004 silam.

Di setiap ruangan ada benda-benda milik Cut Nyak Dhien yang masih terpelihara dengan baik. Kamar para dayang dan kamar pribadinya tertata apik. Ada ruang tamu yang bentuknya memanjang dan dulu berfungsi untuk menerima tamu dan menyusun strategi perang.

Di ruangan ruang tamu ada foto Teuku Umar dan pejuang-pejuang Aceh lainnya. Ada juga silsilah keluarga Cut Nyak Dhien serta sejarah perjuangan Aceh. Dalam sejarah perjuangan Indonesia, peperangan di Aceh termasuk perang terlama.

Di dalam rumah ini, ada ruang makan yang terhubung dengan serambi makan. Di sinilah kami dijamu makanan ringan khas Aceh. Ada Timpan, kue khas Aceh yang berbentuk memanjang, terbuat dari tepung, telur, diisi dengan parutan kelapa dan dibungkus dengan daun pisang muda.

Timpan adalah kue khas Aceh di saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Saking terkenalnya kue ini, di Aceh ada peribahasa yang menyatakan ”Uroe got buleun got timphan ma peugoet beumeutemeng rasa” yang artinya “Hari baik bulan baik Timpan buatan ibu harus dapat kurasakan”.

Dari semua kue yang terhidang, kesukaanku adalah kue Adee. Kue yang bentuknya mirip bikang manis ini konon hanya ditemui di Aceh, khususnya di kawasan kabupaten Pidie Jaya.

Kue Adee bertekstur lembut, legit dan manis. Aku membayangkan kue ini pasti enak sekali kalau dimakan sebagai teman minum kopi pahit atau teh.

Selain kue Timpan dan kue Adee, ada juga kue Bhoi, kue berbentuk ikan yang memiliki tekstur mirip kue bolu tapi dengan bagian luar kering dan lembut di bagian dalamnya serta kue khas Aceh lainnya.

***

Setelah berkeliling rumah Cut Nyak Dhien, kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan. Tak lupa, sebelum naik bus kami mampir sebentar ke deretan penjual kue tradisional khas Aceh yang lokasinya tak jauh dari museum.

Bersambung: Pantai Lampuuk & Joel’s Bungalow

Photo by Didan Sardjono, Ahkamul Hakim & Milly Putri

(Kisah ini merupakan bagian dari perjalanan #GreenDesignCommunity ke Aceh, Sabang, dan Medan #TourAcehMedan pada 7-10 November 2014).

About Author: Mira Julia

Senang bernyanyi dan berkegiatan di dunia anak, Mira Julia yang akrab dipanggil Lala juga seorang technology enthusiast yang kini menjadi pemimpin divisi online Majalah Asri. Lala juga adalah seorang blogger pendidikan di Rumah Inspirasi dan pendiri kursus online Digital Mommie.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed