Mengagumi Keindahan Arsitektur Kolonial Istana Cipanas

istana cipanasIstana Cipanas, adalah salah satu dari enam Istana Kepresidenan Republik Indonesia yang berlokasi di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kediaman megah yang didirikan oleh seorang tuan tanah Belanda bernama Van Heots tahun 1740 ini didesain dengan gaya campuran antara arsitektur kolonial (Eropa) dan arsitektur lokal, sehingga bangunan ini tampil dengan keunikan dan daya tarik tersendiri. Konstruksi dan sosok bangunan Eropa dipadukan dengan teras-teras dan teritisan lebar seperti ciri bangunan tropis Jawa. Juga, dipercantik dengan ragam hias berupa ukiran pada gable, pucuk sisi atap, serta list plank.

Pada masa pemerintahannya, Presiden Soekarno sering mengunjungi Istana Cipanas ini, terutama sebagai tempat mencari inspirasi untuk naskah pidatonya yang disampaikan ketika memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Istana ini juga merupakan tempat, di mana Presiden Soekarno mengadakan upacara pernikahan dengan Hartini pada tahun 1953.

Istana ini awalnya dibangun sebagai tempat peristirahatan dan tempat persinggahan sementara selama kolonial Belanda berkuasa di  Indonesia. Lahan di lingkungan istana dibagi menjadi dua area, yaitu area taman istana dan kawasan hutan istana. Sampai tahun 2001, di kawasan hutan istana terdapat 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 genus (hanya 14 yang diketahui nama genusnya), dan 61 keluarga flora dan fauna.

Sebagai Istana Kepresidenan Indonesia, bangunan ini terdiri dari Gedung Induk, 6 paviliun, 1 bangunan khusus, dan 2 bangunan lainnya. Salah satunya adalah sebagai reservoir air panas dan satu lagi sebagai bangunan masjid.

Gedung Induk, sesuai dengan fungsinya, terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, ruang kerja, ruang duduk, ruang makan, dan teras belakang. Secara khusus, ruang tamu didesain berupa panggung dengan lantai yang terbuat dari material kayu. Adapun salah satu dinding lorong utama di Gedung Induk dihiasi dengan lukisan hasil karya Soejono D.S. yang dibuat pada tahun 1958.

Adapun bangunan Bentol adalah bangunan unik, yang berada di belakang Gedung Induk dengan ukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan Gedung Induk dan keenam bangunan paviliun yang ada. Namun, bangunan ini berdiri lebih tinggi dari bangunan lain, termasuk Gedung  Induk. Hal ini disebabkan karena fakta bahwa lokasi bangunan ini berada di lereng gunung. Bangunan Bentol merupakan hasil karya dua arsitek Indonesia, yaitu R. M. Soedarsono dan F. Silaban.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul “Arsitektur Kolonial yang Anggun” oleh Ade Latief yang terbit di majalah Asri edisi Agustus 2016

Foto : Ahkamul Hakim & Tri Rizeki

LEAVE A REPLY