Mengenal Sosok Pelukis Sutra, John Martono

john martonoSebagian besar orang mungkin menganggap selembar kain sutra sebagai bagian dari fashion yang bernilai seni tinggi saja. Namun, di tangan seniman bernama John Martono, kain jenis itu digunakannya untuk menyalurkan kreativitasnya dalam melukis.

Sudah sepuluh tahun lebih, John Martono menggunakan kain sutra sebagai media pengganti kanvas untuk kegiatan melukisnya. Dengan teknik tertentu dalam menggunakan kuas dan cat khusus, pria kelahiran Malang, tanggal 31 Maret 1972 ini menggambar pola-pola abstrak yang tampil unik dan menarik. Sampai saat ini, John adalah seniman pertama di Indonesia yang melukis di atas kain sutra.

“Awalnya, eksplorasi seni saya di tapestry dengan menggunakan kanvas biasa. Namun, melihat perkembangan zaman, saya harus mencari sesuatu yang baru. Oleh karena itu, sejak tahun 2003, saya mulai menggunakan material kain sutra. Ternyata kain itu dapat dibuat dalam karakter yang berbeda,” ujar John.

Menurut John, kenikmatan ketika melukis di kain sutra dengan melukis di kanvas itu rasanya berbeda. Terdapat pola-pola lukisan yang hanya dapat muncul saat ia menggunakan kain sutra. Secara teknis, penggunaan cat di kain sutra menghasilkan efek bledding. Saat melukis di kain sutra itu, diperlukan trik tertentu agar hasil karyanya sesuai dengan keinginannya.

Eksplorasi seni seorang John Martono semakin tak terbatas saat ia menambahkan teknik sulaman pada karya lukisannya. Ia mengajak para perajin bordir di sekitar rumahnya di Bandung untuk bersama-sama berkarya. Ia bertoleransi melakukan kerja sama yang unik tersebut bersama mereka. Penggunaan teknik itu semakin memunculkan karya lukisan yang ekspresif.

Eksplorasi seni pada kain sutra yang dilakukan John menghantarkannya pada kesempatan untuk ikut serta dalam ajang seni, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti di The 5th Asia Fiber Art Exhibition di Jepang (tahun 2007), pameran Silk Painting di Grassi Museum Berlin, Jerman (tahun 2013), dan ajang International Embroidery Art Exhibition di Tiongkok (tahun 2014).

Salah satu pencapaian prestasi yang dianggap John penting adalah ketika ia berhasil menuai banyak pujian dan apresiasi dari masyarakat Australia berkat karya-karya lukisannya di Contemporary Silk Painting & Hand Embroidery di Tusk Gallery pada tahun 2013 yang lalu.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul ‘John Martono : Sutra dan Eksplorasi Seni Tak terbatas’ oleh Adhitya Pratama yang terbit di majalah Asri edisi Maret 2015.

Foto : Ifran Nurdin

LEAVE A REPLY