Menikmati Malam di Banda Aceh

masjid-raya-baiturrahman

Perjalanan hari pertama dalam #TourAcehMedan yang diselenggarakan Green Design Community (GDC) berlangsung dengan menyenangkan. Sejak siang, kami sudah mengunjungi Museum Tsunami dan Museum PLTD Apung.

Dari Museum PLTD Apung, kami melanjutkan perjalanan. Hari menjelang senja ketika kami tiba di Masjid Raya Baiturrahman. Bangunan indah yang mirip Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam.

Masjid Raya Baiturrahman didirikan pada masa Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Masjid ini sudah berkali-kali terbakar dan dibangun kembali. Ketika tsunami menerjang Aceh, masjid ini tidak mengalami kerusakan berarti. Gelombang tsunami tidak masuk ke dalam masjid. Itu sebabnya warga menjadikannya tempat berlindung dan mengungsi.

Suasana damai terasa ketika kami memasuki halaman masjid. Pohon kelapa berjajar rapi menghantarkan pengunjung memasuki masjid. Sebagian peserta Tour Aceh Medan melakukan ibadah shalat Magrib di masjid ini.

Mi Aceh Razali dan Nasi Goreng Aceh Daus

Menurut jadwal yang diberikan panitia, seharusnya dari Masjid Raya Baiturrahman kami semua check-in ke hotel, mandi lalu baru keluar lagi untuk makan malam. Berhubung hampir semua peserta merasa lapar dan letih, jadi diputuskan untuk langsung menuju Mi Aceh Razali & Nasi Goreng Aceh Daus untuk makan malam.

Berlokasi di jalan Panglima Polem sekitar kawasan Simpang Lima, restoran Mi Aceh ini sudah ada sejak tahun 60-an. Namanya diambil sesuai dengan nama pemiliknya, Razali, yang kini telah almarhum.

Mi Aceh terlihat unik dibanding mi lainnya yang biasa kita kenal. Ukurannya sedikit lebih besar, mi aceh disajikan bersama bumbu kental dengan aneka rasa bumbu di dalamnya.

Selain mi Aceh, di restoran “Mi Aceh Razali” panitia juga memesankan menu lain. Ada nasi goreng, udang besar goreng, martabak telur, sate sotong, burung goreng dan lainnya. Semuanya enak. Aku suka nasi goreng, udang dan es teh tariknya. Yang lainnya juga suka sih, tapi perutku rasanya sudah sangat penuh sehingga hanya icip sedikit di sana-sini.

mie-aceh-razali

Di restoran ini, aku duduk bersama mas Sugiarto dari Kota Baru Parahyangan, Evian, Mei, Suryadi, Irsan & Gerry. Mereka adalah mahasiswa S2 Universitas Parahyangan yang menjadikan perjalanan Tour Aceh Medan ini sebagai kuliah lapangan mereka.

Aku sempat heran, bagaimana ceritanya Tour Aceh Medan ini bisa menjadi bahan kuliah lapangan?

Ternyata kisahnya berawal dari Endro Adiwirawan, seorang mahasiswa S2 UnPar yang terkesan saat mengikuti tur GDC ke Lombok sebelumnya. Endro kemudian menghadap ke pak Basuki, direktur program pasca sarjana Arsitektur Universitas Parahyangan. Karena program tur yang diselenggarakan GDC dirasa sarat dengan nilai-nilai lokal, pak Basuki menjadikan perjalanan GDC sebagai bahan kuliah lapangan dan menugaskan pak Kamal Arif sebagai dosen pembimbing mereka.

Tidak ada hal yang kebetulan dalam hidup ini. Kehadiran pak Kamal yang awalnya hanya sebagai dosen pembimbing yang menjadi peserta Tour Aceh Medan GDC. Karena pengalaman dan pengetahuannya yang luas tentang Aceh, beliau kemudian justru menjadi salah satu elemen penting dalam perjalanan kami menyusuri Aceh, Sabang, dan Medan.

Minum Kopi di Solong Coffee – Ulee Kareng

Kalau Anda suka kopi, pergi ke Aceh tentu tak lengkap tanpa mampir ke Warung Kopi. Aceh yang kerap disebut Negeri Seribu Warung Kopi memang menyajikan banyak sekali warung kopi.

Salah satu warung kopi yang cukup terkenal di Banda Aceh adalah Kedai Solong Coffee di kawasan Ulee Kareng. Warung kopi yang berslogan “Warkop Jasa Ayah” ini sekilas sama seperti kedai-kedai kopi yang banyak bertebaran di Banda Aceh. Tapi jangan salah, kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1974.

kedai-solong-coffee

Aku ingat temanku orang Aceh pernah berkata “Orang Aceh itu suka bercengkerama sambil minum kopi. Kami bicara bisnis, keseharian dan lain-lain di kedai.”

Kedai Solong Coffee menyajikan kopi hitam manis sebagai minuman andalannya. Selain itu ada Sanger, perpaduan kopi dengan sedikit susu dan gula. Buat yang tidak suka kopi bisa memesan teh manis hangat, teh telur atau teh tarik.

Sebagai teman minum kopi ataupun teh, tersedia berbagai aneka pilihan penganan khas Aceh. Ada pulut (ketan) srikaya, pulut bakar, timpa (sejenis lepet), bikang, surabi, tapai juga kacang panggang.

Di kedai ini, kopi diracik secara tradisional, mulai dari penggilingan biji kopi, peracikan, hingga penyajian. Aku sempat mengharapkan bisa melihat atraksi kopi tarik dimana kopinya dituang dengan akrobatik seperti yang sering aku lihat di Youtube. Ternyata yang aku lihat di Youtube itu bukan gaya Aceh. Kata pak Rony, kalau dituang dengan gaya akrobatik itu gaya Thailand. Sedangkan yang aku saksikan kemarin itulah gaya Aceh.

Walau begitu rasa kopi di tempat ini nikmat karena kedai ini menggunakan kopi Lamno yang terkenal sebagai kopi nomer satu di Aceh.

Hermes Palace Hotel

Acara di Kedai Solong Coffee berlangsung hingga pukul 10 malam.

Walaupun menikmati seluruh rangkaian perjalanan hari ini, badanku rasanya lelah sekali. Badan lengket dan mata yang terasa berat membuatku tak sabar untuk sampai ke hotel. Untungnya Hermes Palace Hotel yang menjadi tempat menginap kami ternyata hanya berjarak 5 menit dari Kedai Solong Coffee.

hermes-palace-hotelHermes Palace Hotel adalah hotel bintang 4 pertama di Aceh. Hotel ini berada di pusat kota, dekat dengan kantor Gubernur, hanya 5 menit dari masjid Baiturrahman dan 20 menit dari Airport Sultan Iskandar Muda. Lokasi yang strategis ini membuat Hermes Palace Hotel menjadi pilihan banyak orang saat berada di Banda Aceh.

Di hotel inilah kami menghabiskan malam pertama dalam Tour Aceh Medan yang disenggarakan oleh Green Design Community.

Setelah dibagikan kamar dan kaos untuk dipakai besok, aku beranjak ke kamar hotel untuk beristirahat, menyiapkan energi untuk melanjutkan perjalan esok hari menyeberang ke pulau Sabang tempat titik nol Indonesia berada.

Bersambung: Menyeberang ke Pulau Weh Menuju Kilometer Nol Indonesia

Photo by Mira Julia

(Kisah ini merupakan bagian dari perjalanan #GreenDesignCommunity ke Aceh, Sabang, dan Medan #TourAcehMedan pada 7-10 November 2014).

3 COMMENTS

  1. Mba lala…ngiri deh ama bakat2nya yang bejibun. Saya uda hampir setahun tinggal di aceh, belum juga bikin tulisan2 tentang aceh. Kemarin bayi saya langsung berhenti menyusui karena takjub mendengar suara mba di pelangi nada. Semoga makin sukses ya mba ^^

LEAVE A REPLY