Menikmati Malam di Medan

malam-di-medan

Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Medan atau Bandar Melayu adalah kota multietnis, pusat bisnis serta pusat pendidikan terbesar di Sumatera.

Rombongan Green Design Community yang melakukan #TourAcehMedan sampai di Medan sekitar pukul 19.00. Begitu keluar dari stasiun kereta api, kami langsung disambut dengan puluhan Betor yang memang sudah disewa oleh panitia.

Betor adalah becak yang dimodifikasi dengan menambahkan sebuah motor sebagai sumber tenaganya. Becak model seperti ini terlihat lebih menarik dan manusiawi karena ditarik dengan mesin, bukan dengan tenaga manusia seperti yang biasa aku lihat waktu kecil dulu.

Setelah mengumpulkan koper ke mobil yang langsung membawanya ke hotel, kami memulai petualangan kami di Medan menggunakan Betor.

betor-medan

Aku dan Milly beruntung mendapatkan supir Betor yang masih muda, ramah dan suka bercerita. Sepanjang jalan menuju tempat makan malam di Mi Aceh Titi Bobrok, Ridho sang supir Betor menjelaskan tentang gedung-gedung yang kami lewati dan tempat-tempat menarik yang bisa kami kunjungi di Medan.

Saking jelas dan teraturnya penjelasan Ridho membuatku berfikir, jangan-jangan ada pelatihan khusus untuk para supir Betor yang membuatnya bisa menjelaskan dengan lugas keunggulan apa saja yang dimiliki di Kota Medan secara detil.

Nah, satu lagi kekhasan Betor adalah kenekadannya dan kami sempat mengalaminya. Pada awalnya, Betor yang aku tumpangi mau belok kiri. Tapi karena rombongan ternyata belok ke kanan, Ridho yang sudah mengarahkan Betor ke kiri merubah arah seketika ke arah kanan dan memotong lalu lintas yang ada tanpa memedulikan klakson mobil yang kesal di belakangnya.

“Maaf kakak. Kalau nggak gini tak dapat kita belok kanan tadi,” kata Ridho sambil tertawa waktu aku protes kenapa berani sekali dia memotong arus seperti tadi.

***

mi-aceh-medan

Tujuan pertama kami dalam perjalanan menggunakan Betor adalah Mi Aceh Titi Bobrok. Restoran ini sangat terkenal di Medan. Walaupun menyajikan mi Aceh, katanya rasa mie berbeda dengan mi Aceh yang ada di Aceh. “Kakak coba saja lah, rasanya lain. Tempatnya selalu ramai”.

Ternyata benar. Begitu kami sampai di Mi Aceh Titi Bobrok, sulit sekali bagi kami untuk mendapatkan meja yang menyatu. Beberapa kali aku dan Milly harus berpindah tempat duduk sampai akhirnya panitia berhasil menyatukan rombongan kami dalam 2 baris meja panjang.

Saking ramainya malam itu, aku tidak kebagian nasi goreng maupun mi Aceh. Untungnya aku memang tidak terlalu lapar, apalagi sebelumnya di meja kami sudah beberapa kali beredar martabak telur yang cukup mengenyangkan.

“Setelah ini kita masih akan pergi makan duren. Jadi pastikan masih ada ruang untuk makan duren Medan yang terkenal,” pesan panitia kepada kami.

***

ucok-durian

Masih bersama Ridho, supir Betor kami yang ramah dan menyenangkan, kami bergerak dari Mi Aceh Titi Bobrok ke Durian Ucok, salah satu pusat durian paling terkenal di kota Medan.

Mencium semerbak baru durian dan melihat durian yang menumpuk membuatku teringat akan anak pertamaku yang sangat suka durian. Aku membayangkan berapa butir durian yang sanggup dia habiskan kalau berada di sini.

asyiknya-ucok-durianAsyiknya makan di Durian Ucok adalah kita boleh menukar buah durian yang kita anggap kurang manis. Jadi kalau ada durian yang sudah dibuka tapi kurang manis, bisa ditukar dengan durian yang lain. Malam itu aku makan 7 biji durian dan semuanya enak. Manis, lembut, gurih dan hanya satu-dua yang mulai terasa beralkohol.

Setelah puas pesta durian, kami menuju hotel tempat kami bermalam di Medan. Kami melakukan check-in di Karibia Boutique Hotel, yang berada di Superblok Centre Point dan sangat dekat dengan stasiun kereta api bandara. Hotel yang baru diresmikan tahun ini memiliki banyak fasilitas seperti ruang pertemuan, sasana olahraga, aneka restoran dan cafe serta Grand Ballroom yang menawarkan pilihan paket pesta pernikahan.

Lega rasanya sampai di hotel dan bisa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang seharian penuh. Desain kamar Karibia Boutique Hotel yang lapang dan nyaman membuat kami bisa beristirahat penuh. Tak banyak yang aku bicarakan bersama Indrawati Moeripto, koordinator marketing Majalah Asri yang menjadi teman sekamarku.

Begitu mandi dan berganti baju tidur, hal terakhir yang aku sadari adalah hari sudah berganti esok. Saatnya untuk jalan-jalan keliling kota Medan.

Bersambung: Menjadi Raja & Ratu di Istana Maimun – Medan

Photo by Didan Sardjono, Ahkamul Hakim, Mira Julia & Milly Putri

(Kisah ini merupakan bagian dari perjalanan #GreenDesignCommunity ke Aceh, Sabang, dan Medan #TourAcehMedan pada 7-10 November 2014).

LEAVE A REPLY