Menyusuri Jembatan Akar Di Painan, Sumbar

jembatan akarObjek wisata alam Jembatan Akar ini berada kurang lebih 88 km arah Selatan Kota Padang, tepatnya di Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Jembatan Akar atau dalam bahasa Minang disebut “Titian Aka” ini dibangun dengan menjalin akar dari dua batang pohon yang setiap batang pohonnya tumbuh di kedua sisi sungai. Jenis pohonnya adalah pohon kubang dan pohon beringin yang banyak tumbuh di hutan sekitar sungai yang bernama Batang Bayang.

Jembatan akar ini membentang sekitar 10 meter di atas permukaan air sungai serta masih berfungsi sebagai jalur penyeberangan bagi masyarakat, terutama untuk menghubungkan Kampung Puluik-Puluik dengan Kampung Lubuk Silau yang lokasinya dipisahkan oleh sungai. Sungai Batang Bayang sendiri memiliki banyak batu-batu besar dan airnya mengalir deras dan sejuk.

Konon, proses menjalin jembatan akar ini berlangsung puluhan tahun dan akhirnya jembatan akar ini bisa digunakan oleh masyarakat setempat sejak tahun 1916. Uniknya, jembatan ini bertambah kuat seiring dengan bertambahnya usia kedua pohon karena akarnya terus tumbuh.

Untuk menjaga kelestarian jembatan akar ini, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan membuat jembatan baru dari beton dan baja sebagai sarana alternatif menyeberang bagi masyarakat. Menurut cerita masyarakat, ada aturan khusus di area sekitar jembatan akar yang disebut ikan larangan yaitu masyarakat termasuk tamu dilarang memancing atau menangkap ikan yang hidup di dalam sungai.

Air sungai yang segar, ikan yang bebas berenang, dan pemandangan bukit yang hijau sejauh mata memandang, selalu mengundang orang untuk turun dan mandi di sungai. Pengunjung juga bisa berolahraga arung jeram di tempat ini. Karena itulah, tempat ini menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah di luar kedua kampung tersebut.

Selain jembatan akar di Kampung Puluik-Puluik ini, konon ada lagi dua buah jembatan akar lain yang serupa dan berlokasi sekitar 5 km dari Kampung Puluik-Puluik, persisnya di Kampung Bayang Janieh yang kondisi jalannya cukup sulit dilalui kendaraan. Walaupun tempat ini jauh dari keramaian tetapi tempat ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai objek wisata andalan.

*Artikel ini disadur dari artikel “Titian Aka Di Painan” oleh Imelda Anwar yang terbit di majalah Smartdesign edisi Oktober 2014

LEAVE A REPLY