Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Rumah ramah lingkungan sejatinya bukan hanya sebuah nama, melainkan penerapan nyata dari konsep ramah lingkungan ke dalam kehidupan sehari-hari. Tidak melulu mengenai segala sesuatu yang hijau, ramah lingkungan juga terkait dengan energi dan penggunaannya. Karena itu, pemakaian energi, seperti listrik dan air berperan penting untuk mewujudkan konsep ini.

Konsep pengolahan energi tersebut dapat ditemui dalam rumah satu ini, kediaman Andoko Aribowo di Cibubur. Meskipun awalnya karena keadaan, Ari dibantu oleh arsitek, Wijoyo Hendromartono, berhasil menjadikan kediamannya menjadi ramah dan tidak membebani lingkungan. Untuk listrik, pria yang bergelut di bidang perminyakan ini menggunakan panel surya dan kincir angin. Di taman dan sekeliling rumah dibuat biopori serta sumur resapan. Air bekas cucian atau mandi (gray water) pun diolah kembali.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

“Saya kerja di lepas pantai, hanya tidak bisa membayangkan, ketika meninggalkan keluarga dan terjadi mati lampu. Itu saja, saya berpikir bagaimana caranya mem-back up, tapi ide menggunakan genset saya tidak tertarik. Satu, karena asap, kemudian perawatan mesin juga harus dilakukan,” ujar Ari.

Sementara keputusannya untuk membuat sumur resapan dan biopori didasari oleh keadaan rumah yang tidak mendapat air PAM dan sekaligus di saat musim hujan rumahnya kebanjiran. Keputusan ini juga berkat saran arsitek, Wijoyo Hendromartono, “Saya menyarankan, karena kita sekian puluhan tahun lagi akan kesulitan air, jadi dari sekarang sudah harus bisa ‘menabung’ air. Artinya, dengan konsep atap cucuran, semua air dibuang ke tanah.”

Menurut Ari sendiri, terakhir kali dihitung, biopori di sekitar rumahnya mencapai 50 lubang. Selain itu, sumur resapan ada empat, satu di area belakang rumah digunakan untuk menampung gray water, serta di taman dan area luar untuk menampung air hujan.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Berbeda lagi dengan pemakaian listrik, di kediaman Ari saat ini bisa dibilang 50 persen listrik yang digunakan berasal dari produksi panel surya dan sisanya dari PLN. Panel surya sendiri Ari beli secara perlahan, awalnya dia mengumpulkan enam lembar panel surya 250 watt. Kini, panel surya di rumahnya mencapai total 4.600 watt, termasuk kincir angin. “Untuk panelnya saja, ada sekitar 3.600 watt dan itu belum termasuk yang kecil-kecil,” tuturnya. Sejak sistem dan mesin digunakan panel surya di rumahnya sudah memproduksi sekitar 900 kWH. Produksi dalam sehari sudah bisa mencapai 4.000 watt, “Saya pernah mengalami panel surya produki dalam satu hari mencapai 13,5 kWH.”

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Panel surya di kediamannya pun sudah diintegrasikan dengan sistem smart grid, PLN, dan baterai. Dengan sistem ini, listrik dari panel surya, PLN, dan yang tersimpan di baterai dapat saling mendukung tanpa jeda untuk daya di rumah. Misal, bila di rumah sedang menggunakan listrik dari PLN lalu tiba-tiba listrik tersebut padam, daya dari baterai dapat mendukung dan menyuplai listrik ke rumah. Begitu pun sebaliknya.

Sistem ini juga membantu Ari untuk menentukan prioritas pemakaian listrik. Saat siang hari, listrik di rumah biasanya akan berasal dari produksi panel surya. Karena beban pemakaian yang rendah, kelebihan produksi panel surya dapat ia atur untuk disimpan di dalam baterai. Bila baterai sudah penuh, dia memilih untuk “menjual” kelebihan daya ke PLN.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

“Menjual” ke PLN tidak berarti Ari mendapat sejumlah uang. Kelebihan produksi panel surya ini dapat dikirimkan ke PLN menggunakan sistem ekspor impor. “Pengertiannya, meteran dikurangi, misal saya pakai 100 dari PLN, saya produksi (listrik dari panel surya) 50, saya bayar dalam nominal uang 50. Sekarang tagihan listrik saya dari PLN 700.000 sekian, biasanya 1,3 juta lebih, lumayanlah menurun 600.000,” jelasnya. Sekalipun produksi listrik dari panel suryanya sudah surplus, menurut Ari karena rumahnya berinteraksi dengan PLN, berapa pun listrik yang dikirim, dia masih harus membayar abodemen.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Sementara dengan sistem Depth of Discharge (DoD), pemakaian baterai dapat dibatasi. Ari sendiri memilih hanya membiarkan baterai dipakai hingga 40 persen. Jika baterai sudah sampai batasnya, listrik dari PLN menggantikan sumber daya di rumah. Pengaturan ini penting karena pemakaian bisa memengaruhi umur baterai.

“Hampir 50 persen dari komponen sistem ini yang paling mahal baterainya. Karena saya menggunakan, saya bisa tahu dan saya merekomendasikan sebaiknya kalau mau pakai back up tidak perlu banyak-banyak. Minimal listrik PLN mati, lampu tetap menyala, tidak perlu AC dan lain-lain. Karena kalau lampu mati saat malam, rasa keamanan dan kenyamanan juga pasti berkurang,” ujarnya. Ari sendiri mem-back up hingga 50 persen sehingga dia memakai kapasitas baterai yang sama dalam sehari, total ada 24 baterai. Sementara harga, satu baterai berkisar 5-6 juta.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

Ari yang mempelajari semua terkait panel surya secara otodidak ini juga bersemangat untuk terus mengefektifkan pemakaiannya. Terakhir, Ari sedang mencoba melakukan pengaturan agar sistem panel surya di rumahnya dapat diakses melalui smartphone. Dengan begitu, saat dia berada jauh, dia tetap bisa memantau produksi panel surya dalam satu hari dan mengetahui keadaan listrik di rumah.

Mewujudkan Konsep Rumah Ramah Lingkungan

“Belum banyak orang yang menggunakan panel surya. Karena itu, kita bisa saling share informasi, kelebihan dan kekurangannya. Kalau sekarang ini, saya harus foto sendiri dan itu pun tidak dalam bentuk grafik. Saya maunya dalam bentuk grafik sehingga saya bisa melihat seperti apa siklus dalam satu tahun. Kita juga bisa bandingkan, pencahayaan lokal bisa diketahui, misal rumah saya dan Anda berbeda karena matahari di rumah saya lebih gimana,” ujarnya. Dia juga menambahkan bila pola antara panel surya di satu rumah dan rumah yang lain sama, cuaca barangkali menjadi penyebabnya. Namun, bila polanya berbeda, ada faktor yang bisa diperbaiki sehingga panel surya semakin efektif.

Menerapkan konsep ramah lingkungan memang tidak mudah dan tentunya membutuhkan biaya, terutama untuk penggunaan panel surya. Namun, bila tertarik, tidak perlu lakukan ssemuanya sekaligus, lakukan secara perlahan dan dari yang termudah. Ari sendiri mengalami banyak trial dan error sebelum akhirnya bisa menikmati listrik, air, serta kondisi rumah seperti sekarang ini.

Kediaman: Andoko Aribowo, Cibubur

Arsitek: Wijoyo Hendromartono (SD+A Design)

Foto: Ahkamul Hakim, Dok. Andoko Aribowo, Azuwit Gani

LEAVE A REPLY