Natural Kontemporer

Rancangan hunian seluas 1083 m2 yang berlokasi di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan ini merupakan karya arsitek Esty Herasari.

Pada tahap awal, arsitek mengolah potensi lahan yang memiliki bentuk memanjang dan semakin luas ke arah belakang/ngantong, dengan cara menerapkan prinsip arsitektur tropis dalam rancangan hunian. Lantai dasar hunian setinggi dua lantai ini hanya menempati sebagian dari luas lahan agar tercipta halaman samping dan halaman belakang yang luas untuk taman, area duduk terbuka, kolam renang dan gudang.

Massa bangunan ditempatkan di tengah kaveling dengan wujud massa bangunan yang didominasi oleh komposisi kubus geometris yang diatur saling maju-mundur secara dinamis. Setiap bangunan kubus terdiri dari susunan dinding masif, bukaan lebar dan teritis simpel. Bangunan kubus yang berada di lantai atas diatur mundur (set back) untuk menonjolkan “permainan” tiga dimensi yang atraktif pada hunian.

Tantangan muncul ketika arsitek harus mengacu ke referensi dari ahli hongshui, Akinno W. Azarro. Menurut perhitungan sang ahli, pintu utama hunian sebaiknya tidak menghadap ke jalan di muka hunian dan harus terdapat unsur air di muka pintu tersebut.

Untuk menyiasatinya, arsitek meninggikan sebagian dari halaman muka dan menempatkan posisi pintu utama agak miring ke arah barat laut. Untuk memberikan ”pengalaman” ruang nan unik, arsitek menghias area pintu masuk (entrance) dengan tiga buah tiang dekoratif berlapis homogeneous tile bercorak seperti batu alam dan dipadu dengan kanopi yang terbuat dari beton serta kaca.

Beberapa bidang dinding pada tampak muka dan belakang rumah dilapisi oleh batu alam sebagai aksen diantara dominasi finishing cat. Arsitek juga menempatkan kolam ikan mengelilingi teras depan dan terdapat air mancur di pojok kolam. Penataan lanskap diantaranya berupa pohon Weeping willow di muka entrance yang “memperlunak” tampilan hunian dan menghadirkan kesan alami yang menyejukkan pada hunian ini.

Memasuki pintu utama, arsitek menata area foyer yang tersambung dengan koridor menuju ke tengah hunian. Area sirkulasi yang cenderung tertutup ini menjadi lebih lebar dari biasanya. Untuk menyiasati hal ini, arsitek mengolah koridor menjadi galeri pada dindingnya ditambahkan panel dekoratif untuk menggantungkan lukisan koleksi pemilik rumah dan plafonnya dilengkapi dengan lampu sorot. Arsitek merancang susunan/flow ruang yang terbuka dan “mengalir” sehingga tercipta kesan lapang.

Arsitek juga menerapkan banyak jenis material alami dalam hunian ini seperti batu marmer untuk pelapis lantai ruang keluarga berkumpul dan batu onyx untuk pelapis lantai kamar tidur. Yang unik adalah deretan kolom pada tampak belakang hunian yang sebagian dilapisi oleh batu alam dan berpadu harmonis dengan kanopi dari kerangka baja dan kaca.

Liputan dan artikel lain tentang arsitektur, interior, taman dan lingkungan dapat Anda nikmati di Majalah Griya Asri.

Anda bisa mendapatkan Majalah Griya Asri di toko buku atau kios majalah terdekat. Untuk berlangganan Majalah Griya Asri secara langsung, silakan mengikuti prosedur berlangganan.

Lokasi: Rumah Tinggal di Permata Hijau, Jakarta Selatan
Konsultan Arsitektur: Esty Herasari dari Estee Architect Associate
Kontraktor: Wina dan Ir. Irwan Jonathan
Pakar Hongshui: Akinno W. Azarro
Aksesori: Sebagian dari Koleksi Vinoti Living dan Brio VL, Jakarta

Penulis: Imelda Anwar
Fotografer : Ahkamul Hakim

LEAVE A REPLY