Pameran Tunggal V.A Sudiro “Samar-samar Semar Sudiro”

semar

Valentinus Atmo Sudiro atau yang lebih dikenal dengan nama V.A. Sudiro merupakan seniman kelahiran Yogyakarta, 27 Desember 1938 yang pernah berkontribusi dalam proyek pembangunan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, sekitar tahun 1964–1965. V.A. Sudiro merupakan satu dari banyak seniman Indonesia yang mengangkat sosok Semar sebagai subjek lukisan.

V.A. Sudiro menggelar pameran tunggal bertajuk “Samar-samar Semar Sudiro” yang diselenggarakan pada 15 – 28 April 2016 di Galeri Nasional Indonesia. Dalam pameran tunggal perdana V.A. Sudiro ini, terdapat 32 karya lukis cat minyak, 7 karya batik, 4 karya lukis cat air, 2 buah patung perunggu, dan 20 buah patung fiberglass.

Barong IV - 2014 - cat minyak - 125x150 cm

Semar dalam karya-karya lukis Sudiro direpresentasikan dalam berbagai latar, bergantung pada refleksinya soal kehidupan yang selalu berubah. Semar-nya dapat dihadirkan dalam situasi mistik-kultural dengan ikon-ikon tradisional maupun dalam latar perkotaan, di mana simbol-simbol kekuasaan, bisnis, dan dinamika kota metropolitan membentuk suatu jenis kehidupan baru.

Dalam berbagai cerita, Semar digambarkan sebagai tokoh yang selalu mengingatkan sesamanya untuk selalu kembali kepada kebenaran. Itulah mengapa kuncung pada bagian kepala dan telunjuk kanan mengarah ke atas. V.A. Sudiro konsisten menekuni bahasa pelukisan representasional, tetapi menghadirkannya dalam lukisan yang komposisinya seperti realitas mimpi yang waktu dan ruangnya bertukar tempat, serta bisa diartikan sebagai apa saja. Visualisasi sedemikian rupa itulah yang membuat karya Sudiro lebih sering dimaknai sebagai lukisan surreal yaitu suatu keadaan atau tampilan yang tak nyata atau melampaui kenyataan-kenyataan.

Dalam seni rupa modern, karya-karya V.A. Sudiro dapat dimaknai sebagai surrealistic painting, dengan aura mistik. Surrealistic painting ini telah dikembangkannya sejak 1980-an, masa ketika keadaan sosial-politik bersifat represif dengan pendekatan militeristik yang membuat masyarakat kehilangan keberanian untuk mengaktualisasikan berbagai pendapat secara lugas, gamblang, dan alamiah, hingga sekarang, ketika tantangan zaman telah berubah, di mana ia harus hidup dari melukis, dengan kata lain sebagai fulltime artist.

Melahirkan-Pancasila---2011

Dalam acara pembukaan Pameran Tunggal V.A. Sudiro “Samar-samar Semar Sudiro” pada 15 April 2016 akan diluncurkan pula buku retrospektif V.A. Sudiro. Buku ini memuat paparan tentang Sang Pelukis dan karya-karyanya dari sudut pandang tiga penulis; Sindhunata, M. Dwi Maryanto, dan Suwarno Wisetrotomo serta melibatkan fotografer Surisman Marah.

 

Pameran Tunggal V.A. Sudiro

“Samar-samar Semar Sudiro”

Galeri Nasional Indonesia

PEMBUKAAN

Jum’at, 15 April 2016

pukul 19.00 WIB

Ruang Serba Guna

*Ada juga Peluncuran Buku Retrospektif V.A. Sudiro

PAMERAN

16 – 28 April 2016

pukul 10.00 – 18.00 WIB

Gedung B

SHARE
Previous articleBerpetualang Bersama Satwa Langka Di Museum Satwa Malang
Next articleMozaik Keramik Karya Elina Farida
Aprillia Ramadhina
Jurnalis, editor dan penulis yang gemar melukis. Mengawali karier sebagai jurnalis sejak tahun 2011. Antusias terhadap filsafat, media, buku dan seni, terutama seni visual, seperti lukisan, patung, instalasi, desain, dan fotografi. Buku yang telah ditulis: "Turn on the Radio" (Bukune, 2015). Email: aprillia.dhina@hotmail.com

LEAVE A REPLY