Peradaban Kuno Di Candi Gunung Kawi

Selain terkenal akan ragam wisatanya yang mempesona, pulau Bali juga kaya akan cagar budaya serta peninggalan sejarah yang mengagumkan. Salah satu contohnya adalah Candi Gunung Kawi. Candi ini tidak berdiri tegak di atas tanah lapang seperti yang biasa kita lihat pada umumnya. Namun, berada di tebing yang dibuat dengan cara dipahat.

Nama Gunung Kawi berasal dari kata gunung yang artinya daerah pegunungan dan kawi berati ‘pahatan’. Jadi, Gunung Kawi dapat diartikan sebagai pahatan yang terdapat di pegunungan atau di atas batu padas. Berdasarkan namanya tersebut, candi ini pun tidak dibuat dari susunan batu, melainkan memanfaatkan dinding batu padas sebagai media untuk membuat rumah ibadah bagi para penganut Hindu. Dinding batu tersebut dipahat dan dibentuk menyerupai dinding-dinding candi. Selain dibuat dalam bentuk candi, dinding-dinding tebing tersebut juga dibuat dalam bentuk ruangan yang digunakan sebagai tempat bermeditasi.

Kompleks candi seluas dua hektare ini pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Belanda sekitar tahun 1920. Kompleks Candi Gunung Kawi ini berada di Banjar Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali, sekitar satu jam perjalanan jika menggunakan kendaraan dari Denpasar. Untuk berkunjung ke lokasi candi, pengunjung harus melewati gapura dan menuruni 315 anak tangga yang berada di pinggir Sungai Pakerisan.

Candi-candi yang terdapat di kompleks wisata ini terdiri dari tiga kelompok. Yang pertama, kelompok Candi Lima yang dipahat di tebing bagian Timur dan kelima candi tersebut menghadap ke Barat. Candi Lima didedikasikan untuk Raja Udayana dan anaknya yang bernama Anak Wungsu beserta keluarganya. Kelompok yang kedua bernama Candi Empat, lokasinya di bagian Barat dan didedikasikan untuk selir dari Anak Wungsu sedangkan di bagian Barat Daya terdapat satu candi atau candi yang ke-10. Candi yang ke-10 ini didedikasikan untuk perdana menteri yang menjabat pada masa pemerintahan Anak Wungsu.

Pada kompleks candi di sebelah Barat terdapat semacam “ruang” pertapaan yang juga disebut wihara. Wihara tersebut dipahat di dalam tebing yang kokoh dan dilengkapi dengan pelataran, ruangan-ruangan kecil (seperti kamar) yang dilengkapi dengan jendela, serta lubang sirkulasi udara di bagian atapnya sehingga berfungsi untuk jalur masuknya sinar matahari.

Mengunjungi tempat ini, pengunjung akan mendapatkan suasana tenang dan damai. Kompleks candi memang merupakan tempat ideal untuk bermeditasi, bersembahyang ataupun berwisata. Lokasinya yang sejuk dan berada persis di tepi sungai membuat kompleks candi ini menawarkan aura ketenangan batin yang dalam.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul ‘Peradaban Kuno di Candi Gunung Kawi’ oleh Didan Sardjono yang terbit di majalah Asri edisi Agustus 2016

Foto : Didan Sardjono

 

LEAVE A REPLY