Ragam Dimensi Seniman Valasara

Pada umumnya, pelukis Bali memiliki kebanggaan akan identitas budayanya dan mengangkatnya ke dalam lukisan. Lain halnya dengan pelukis satu ini yang memiliki nama lengkap Made Wiguna Valasara. Dalam karya-karya terbarunya yang dipamerkan di galeri Art:1, Kemayoran, Jakarta Utara, 5-19 November 2015, tidak ada sedikitpun nuansa Bali yang terasa.

“Saya merasa berjarak dengan tempat asal saya, Bali. Saya tidak suka bercerita atau berkarya dengan simbol-simbol karena di Bali, semua serba simbolis. Untuk itu saya melepaskan makna dari karya-karya saya. Karena yang simbolis itu yang saya pertanyakan kembali.” ujar Valasara. Tinggal dan bekerja di Yogyakarta membuat pria kelahiran Juli 1983 ini berjarak dengan berbagai atribut ke-Bali-an yang semula menempel pada dirinya.

Karya-karyanya seperti relief pada bidang datar, lebih dari dua dimensi, tapi juga tidak dapat mutlak disebut tiga dimensi. Lebih tepatnya dua dimensi yang memiliki kedalaman. Ia bermain dalam kontur, cembung-cekung, tekstur, kedalaman, dan kepejalan.

“Saya senang berada di dunia antara, di tengah dan di area yang abu-abu. Saya bisa dikategorikan sebagai pelukis, pun juga sebagai pematung, dan saya menikmati itu.”

Jika seniman lain mengolah objek lukisan menjadi pesan, Valasara mengolah medium menjadi pengantar narasi. Ketika pelukis memberi volume pada lukisannya lewat permainan warna. Volume dalam lukisan Valasara dibentuk melalui kanvas itu sendiri.

“Saya terobsesi pada kanvas, dan ingin memberikan persepektif baru, bahwa saya melihat kanvas bukan hanya menjadi media pendukung, tapi menjadi pesan utama dari lukisan itu sendiri.” lanjutnya. Pesan yang dia olah dalam eksperimen kanvasnya yang dijahit menjadi soft sculpture merupakan bentuk pertanyaan Valasara tentang definisi lukisan.

Foto: Aprillia Ramadhina dan dok. Art:1

LEAVE A REPLY