Rumah Modern Minimalis Berbentuk Kotak

kotak1

Bentuk-bentuk kotak sangat identik pada desain rumah yang mengedepankan konsep modern minimalis ini. Bentuk geometris sederhana tersebut muncul pada gubahan massa bangunan keseluruhan sampai pada setiap detail arsitekturalnya. Konsep keterbukaan juga membuat setiap ruang di rumah yang diliput Griya Asri ini bermandikan cahaya alami, terutama pada siang hari.

Sebuah fasad bangunan kotak dengan variasi kanopi yang unik menjadi “penyambut” kala memasuki area rumah ini. Dengan lebar 3 m dan bentangan 20 m, kanopi tersebut menjadi elemen paling menonjol di area fasad bangunan. Kanopi tersebut juga diberi elemen aksen berupa kotak-kotak kaca (skylight) dengan ukuran beragam yang dikomposisikan secara asimetris.

Besaran kotak kaca dan posisinya juga diatur, disesuaikan dengan struktur kanopi yang menggunakan beton. Menariknya, struktur beton bentang panjang tersebut cukup kuat tanpa ditopang kolom penyangga di tengahnya.

kotak2

Tampilan depan rumah ini terlihat masif dengan sedikit bukaan. Penerapan desain ini meredam sinar matahari pada sore hari dari arah Barat yang menerpa bagian depan rumah. Di area entrance juga terdapat tangga untuk menuju ke pintu utama di lantai dua. Agar tidak terlalu curam, tangga dirancang dengan pola huruf U. Di sisi tangga terdapat taman yang permukaannya dirancang miring mengikuti kemiringan tangga. Dengan demikian, tangga dan taman seolah-olah berada dalam satu bidang sehingga taman yang sempit tersebut berkesan lebih luas.

Konsep Keterbukaan

kotak3

Berbeda dengan tampilan luarnya yang cenderung masif, tampilan dalam rumah justru cenderung terbuka. Ini tidak lepas dari keberadaan area taman di bagian belakang dan area void di bagian tengah rumah. Konsep keterbukaan ini diperkuat melalui aplikasi bukaan-bukaan kaca lebar pada sisi ruangan yang mengarah ke void ataupun taman serta terdapatnya aplikasi elemen skylight. Arsitek menerapkan konsep keterbukaan tersebut untuk memaksimalkan pencahayaan alami dan mengoptimalkan sirkulasi udara alami ke setiap ruangan.

Pembagian Ruang

kotak4

Area void dirancang sebagai sebuah ruang duduk terbuka dengan kolam ikan koi sebagai pembentuk suasana alam. Karakter alami area tersebut juga ditambah dengan aplikasi parket kayu pada lantai ruangan. Selain terdapat area duduk di permukaan lantai, di ruangan ini juga terdapat area duduk “melayang” berupa boks ruang yang dilapisi dinding kayu. Boks ruang duduk yang seolah-olah melayang tersebut, merupakan point of interest dari keseluruhan area dalam rumah. Uniknya, struktur boks ruang duduk ini dirancang menggantung pada struktur balok lantai di atasnya.

kotak6

Arsitek membagi ruang-ruang di rumah ini berdasarkan karakter aktivitas dengan tingkat privasinya. Salah satu contohnya adalah terlihat dari penempatan ruang kegiatan serbaguna di lantai dasar untuk menghindari para tamu yang datang melintasi ruang-ruang yang bersifat privat. Area komunal keluarga pemilik rumah dipusatkan di lantai dua. Adapun lantai tiga digunakan untuk area beristirahat dengan penempatan kamar tidur-kamar tidur. Sementara itu, lantai paling atas (rooftop) merupakan area keluarga bersantai (penthouse) yang dilengkapi dengan gazebo dan roof garden.

Warna Putih dan Aksen Kayu

kotak5

Di rumah ini banyak diterapkan warna putih untuk menegaskan karakternya sebagai rumah minimalis. Warna putih juga dipilih agar lebih menonjolkan warna elemen pengisi ruang dan warna aksen.

Sebagai aksen, arsitek menggunakan unsur kayu. Dalam hal ini, warna kayu dapat membuat bangunan putih yang berkesan “dingin” menjadi lebih “hangat”. Selain kayu, arsitek juga memilih batu alam sebagai paduan material yang tepat untuk menampilkan karakter alami. Material lain yang banyak digunakan adalah kaca, baik sebagai material pintu, material jendela maupun material dinding.

kotak7

Fotografer : Fernando Gomulya

Lokasi                              :    Rumah Tinggal di Pasir Putih, Ancol, Jakarta

Arsitek, Interior, Lanskap : Wanlie Aliwayana (Wa+LL Architecture)

Arsitek Kolaborator           :    Johansen Samsoedin (Aboday)

Artikel ini disadur dari tulisan berjudul “Semarak Kotak” yang terbit di majalah Griya Asri edisi Juni 2016 dan ditulis oleh Hafidh Aditama

1 COMMENT

LEAVE A REPLY