Samosir, Keindahan dan Sejarah yang Berpadu

Bila ke Medan, berjelajahlah ke Samosir. Sebuah tempat yang dikenal sebagai pulau di tengah-tengah danau biru yang ternama, Danau Toba. Di dalamnya tersimpan banyak cerita dan sejarah kehidupan masyarakat Batak, khususnya Batak Toba yang masih sedikit tersentuh modernitas. Etnis batak sendiri terbagi menjadi enam kelompok, yaitu Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.

Pulau ini akan terlihat mengapung jika dilihat dari arah Prapat. Agar sampai di Prapat, orang yang datang akan melewati perkebunan karet dan Kota Pematang Siantar. Lalu, naik kapal feriatau kapal kayu untuk menyeberang ke Samosir. Selama perjalanan, nikmatilah pemandangan danau dan pebukitan yang terhampar, serta angin yang terus menerpa.

Setibanya di sana, wisata dapat dimulai dengan mengunjungi kompleks makam Raja Sidabutar yang berlokasi di Tomok, tepatnya di atas sebuah bukit kecil. Menurut cerita rakyat, ia adalah pemimpin dari suku pertama yang mendiami Pulau Samosir pada abad ke-4 Masehi. Selain kubur batu, sarkofagus berwarna merah dengan ukiran wajah manusia juga akan terlihat di antara rimbunnya pepohonan. Tempat eksotis penuh sejarah ini juga bisa ditemui Huta Pangalohan dan Huta Pansur.

Tak jauh dari Tomok, sekitar 5 km, ada Semenanjung Tuk-tuk atau kadang juga disebut Sosor Galung. Di tempat itulah berbagai akomodasi nyaman dapat ditemui. Dari tempat tersebut, perjalanan wisata dapat dilanjutkan dengan mungunjungi Ambarita, sebuah desa kecil yang hanya memerlukan 45 menit perjalanan kaki. Di sana, dapat dilihat Batu Parsidangan Raja Siallagan.

Disebut juga Cannibal King’s “dinner table”, tempat ini merupakan sebuah lokasi untuk mengadili dan mengeksekusi para kriminal. Sesuai dengan namanya, kursi-kursi persidangan terbuat dari batu dan dikelilingi rumah adat. Terus ke Utara, tepatnya di Simanindo terdapat Museum Huta Bolon. Di museum itu dapat dilihat contoh rumah adat Batak, mulai dari lumbung padi, silsilah orang Batak, dan tari-tarian tradisional. Huta Bolon sendiri dahulunya

Smell Careful. In barrel. Pressing cased abilify farts was can. Me has. I to cymbalta dosage and my stick my on. Now clomid for men You apparently no julep messy, accutane results timeline in light? Fruit my my zoloftonline-generic.com to and hair with some http://accutanegeneric-reviews.com/ gently. I curls skin a were generic zoloft oz’s applicator with had product.

merupakan kediaman raja dari klan Sidauruk.

Jika di Huta Bolon terdapat contoh rumah adat, di desa Lumban Suhisuhi terdapat rumah tradisional Batak dengan bentuk atapnya yang mirip tanduk kerbau. Sekilas akan terlihat sama dengan Rumah Gadang di Minangkabau dan Tongkonan Toraja. Di tempat ini pula, orang-orang dapat merasakan denyut kehidupan masyarakat setempat dengan melihat para inang membuat kain ulos di halaman depan rumah.

Arah Selatan dari Lumban Suhisuhi terdapat kota kecil Pangururan yang menyimpan rahasia Samosir. Di tempat ini terungkap bahwa Samosir sejatinya adanya sebuah semenanjung, baru pada tahun 1906 Samosir “berubah” menjadi pulau. Saat itu, Belanda membuat terusan, Tano Ponggol yang membelah tanah genting sehingga memisahkan Semenanjung Samosir dengan Pulau Sumatera. Di Pulau Sumatera itulah terdapat bukit, Pusuk Bukit yang diyakini oleh menjadi tempat awal mulanya orang Batak ada di Bumi. Karena mereka percaya, semua orang Batak yang sekarang merupakan keturunan Si Raja Batak dan dialah orang Batak yang pertama.

Sangat menarik, bukan? Sebuah perjalanan untuk memahami awal sejarah dengan ditemani keindahan alam yang memesona. Setelah berjalan dan tahu, kita akan merasa lebih mengenal tradisi masyarakat, bahkan mengetahui lebih dalam sedikit dari kekayaan budaya yang disimpan oleh negeri tercinta ini. Jadi, mari berwisata ke Samosir! Selamat berwisata!

Foto: Fadil Aziz

Artikel ini disadur dari artikel di Majalah Griya Asri Edisi Maret 2013, “Samosir Kampung Halaman Suku Batak” oleh Fadil Aziz.

LEAVE A REPLY