Seni Membuat Gudang Sarinah Kembali Bernyawa

Jakarta Biennale, perhelatan akbar seni rupa internasional dua tahunan, kali ini akan terselenggara di Gudang Sarinah, Pancoran Timur, Jakarta Selatan. Mengangkat tema “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang”, Jakarta Biennale 2015 akan berlangsung dari 15 November 2015-17 Januari 2016. Lokasi yang dipilihnya cukup unik, yakni sebuah gudang tua.

Jika mendengar nama Sarinah orang lebih mengenalnya sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang berlokasi di Jakarta Pusat. Di balik itu, Sarinah punya sejarah dengan presiden pertama Indonesia, Sukarno. Sarinah adalah nama pengasuh Sukarno waktu kanak-kanak. Ia seorang perempuan sederhana dari kelas ekonomi bawah. “Ia mbok saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih,” tulis Bung Karno dalam pengantar bukunya, Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoeangan Republik Indonesia (1963). “Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiripun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar!”

Sukarno mengabadikan Sarinah sebagai nama pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia. Terinspirasi dari lawatannya ke sejumlah negara, Sukarno merasa perlu ada suatu tempat yang memungkinkan bagi masyarakat untuk mendapatkan barang keperluan sehari-hari dengan harga terjangkau. Ia membayangkan ‘Sarinah’ sebagai toko serba ada dapat mengisi peranan itu. Dimulailah pembangunan Gedung Sarinah pada 1963, yang kemudian diresmikan pada 1967.

Sarinah yang sarat dengan muatan sejarah juga memiliki gudang tua yang terletak di Jalan Pancoran Timur II nomor 4 yang akan menjadi lokasi utama perhelatan Jakarta Biennale 2015. Kompleks ini terdiri dari tiga blok gudang yang masing-masing luasnya 3.000 m2, terletak di tanah seluas 1,5 hektar. Blok bagian belakang masih digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang koleksi Sarinah, sementara blok tengah dan depan dikaryakan menjadi pusat kegiatan Jakarta Biennale.

 

“Kami ingin mendekat ke anak muda, yang sadar seni, kritis, dan artistik. Selama ini Sarinah dikenal baik oleh turis lokal maupun internasional. Sekarang, komunitas lokal lebih melihat Sarinah sebagai toko yang klasik atau kuno,” jelas Magry Warganegara, Corporate Secretary & General Affair Sarinah. “Kami ingin membangun Sarinah jadi lebih dari sekadar tempat belanja. Kami juga mau mereka punya sense of belonging dengan Sarinah.” lanjutnya.

Proses renovasi Gudang Sarinah sedang berlangsung saat ini. Bangunan gudang yang terhitung cukup berumur ini dibersihkan, dicat ulang, dan dipersiapkan untuk pembukaan perhelatan. “Renovasi yang kami lakukan bukanlah merias bangunan-bangunan ini supaya terlihat ‘baru’. Justru kami sebisa mungkin mempertahankan bentuk aslinya, suasana klasiknya, sebagai bagian dari elemen artistik,” tutur M.G. Pringgotono, manajer pelaksana Jakarta Biennale 2015.

Perhelatan ini melibatkan 70 seniman baik kelompok atau individu, terdiri dari 42 seniman dari Indonesia dan 28 seniman manca negara. Karya yang dipamerkan fokus pada permasalahan ekonomi, sosial, lingkungan dan dinamika masyarakat saat ini. Selain pameran karya akan ada lokakarya, bazar seni, edukasi publik, simposium dan akademi yang berlangsung di sini. Karya-karya seni yang ditampilkan dan rangkaian aktivitas yang dihadirkan tidak hanya merombak “wajah” gudang tua tersebut, tapi lebih dari itu memberi nyawa dan denyut kehidupan baru.

Foto: Aprillia Ramadhina

1 COMMENT

LEAVE A REPLY