Tahukah Anda bahwa Bangunan “Hijau” di Indonesia Bisa Disertifikasi?

Tahukah Anda bahwa Bangunan “Hijau” di Indonesia Bisa Disertifikasi?

Tahukah Anda bahwa bangunan “hijau” di Indonesia bisa disertifikasi? Bila tertarik, lembaga nonprofit Konsil Bangunan Hijau Indonesia atau Green Building Council Indonesia (GBCI) dapat melakukan hal tersebut. Seperti halnya Green Building Council di berbagai negara, GBCI menyusun sistem rating yang disebut dengan nama Greenship.

Greenship berisi perangkat penilaian untuk menentukan suatu bangunan layak diberi sertifikat “bangunan hijau” atau tidak. Sebelum sampai pada tahap tersebut, dilakukan pengkajian bangunan terlebih dahulu untuk memenuhi persyaratan awal penilaian. Greenship sendiri disusun untuk dapat mengakomodasi kepentingan daerah setempat serta karakter khas Indonesia.

Penyusunan sisrem rating ini didukung oleh World Green Building Council dan dilaksanakan oleh Komisi Rating GBCI. Greenship terbagi dalam enam aspek, yakni Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD), Efisiensi Energi dan Refrigerant (Energy Efficiency & Refrigerant/EER), Konservasi Air (Water Conservation/WAC), Sumber dan Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC), Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Comfort/IHC), serta Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management). Setiap aspek tersebut memiliki butir-butir penilaian yang mengandung kredit dan memiliki nilai tertentu.

Tahukah Anda bahwa Bangunan “Hijau” di Indonesia Bisa Disertifikasi?

“Yang pertama yang disusun, yang sudah ada ialah rating untuk new building tahun 2010 di-launching. Kemudian, untuk existing building juga sudah selesai tahun 2011. Setelah itu, kita menyusun untuk interior space, contoh pada sebuah gedung, yang memiliki gedung tidak ingin menjadikan bangunannya ‘green’, tapi tenant-nya ingin mempunyai interior yang ‘green’. Nanti, kami akan launching sertifikasi untuk kawasan dan khusus untuk residential kami bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Untuk residential atau housing, ini ada website, ada kesempatan bagi masyarakat untuk self assessment. Jadi, mencoba untuk melakukan assess sendiri, kira-kira dapat berapa poin, levelnya apa, tapi bukan berarti sertifikasi. Untuk sertifikasi, tetap dilakukan oleh GBCI,” ujar Rana Yusuf, Core Founder serta Direktur & Teknologi GBCI. Lebih lanjut Rana menjelaskan untuk commercial building sudah hampir mncapai 100 bangunan yang disertifikasi, sementara untuk housing belum ada satu pun yang disertifikasi.

Tidak hanya GBCI, pemerintah kini juga sudah mulai mengeluarkan peraturan terkait bangunan hijau. “Green Building Council diinisiasi oleh profesional, sama seperti di negara-negara lain, tapi setelah berjalan biasanya government akhirnya akan ikut, itu sesuatu yang wajar. Untuk Indonesia, government yang pertama ialah Pemda DKI yang sudah mengeluarkan Pergub Provinsi DKI Jakarta No. 38 Tahun 2010 tentang Bangunan Hijau. Selain Pemda, pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR juga sudah mengeluarkan Permen PU No. 2 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau, peraturan ini akan dipakai sebagai pedoman teknis bagi pemda di seluruh Indonesia kalau mereka ingin menyusun perda atau pergub tentang bagunan hijau,” jelas Rana.

Foto: Dok. Schneider Electric, Ahkamul Hakim

LEAVE A REPLY