Teras Cikapundung, “Oase” Baru Kota Bandung

Kota Bandung terus “mempercantik diri”. Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung adalah menghadirkan taman kota terbaru sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kini, suasana kota kembang ini semakin meriah dan indah dengan dibangunnya taman kota TeCi alias taman Teras Cikapundung yang sekaligus menjadi tujuan wisata bagi masyarakat umum.

Teras Cikapundung merupakan proyek lama yang dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, di mulai pada tahun 2013 dan  resmi dibukan pada Januari 2016 oleh Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemkot Bandung. Taman ini membelah Sungai Cikapundung dan berbatasan dengan kawasan hutan Kota Babakan Siliwangi. Disini, Anda dapat menikmati suasana alam yang hijau dengan sensasi aliran sungai yang menenangkan.

IMG_7065Selain itu, di sini juga terdapat spot-spot yang menarik untuk berfoto selfie seperti jembatan merah dengan warnanya yang eye catching, yang merupakan jalan penghubung di antara bantaran Sungai Cikapundung. Ada pula terasering yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung taman untuk tempat duduk-duduk santai atau tempat menonton pertunjukan ke arah amphitheatre.

Teras Cikapundung ini memiliki tiga zona wisata. Pertama, air mancur yang mengikuti alunan lagu. Kedua, amphitheatre yang berfungsi untuk tempat pertunjukan acara musik yang juga dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat umum, komunitas, dan seniman-seniman di Bandung. Ketiga, taman ini menjadi tempat konservasi ikan khas Sungai Cikapundung. Di sini, sungainya juga dapat berdayakan sebagai tempat untuk rafting yang dikelola oleh komunitas.

Adapun area amphitheatre didesain dengan mengusung konsep ekologi, yang tetap memperhatikan tata kelola lingkungan yang baik. Di area ini dibuat sumur resapan yang berjumlah 15 buah serta berbagai macam pohon dan tanaman, sehingga suasana taman publik ini tetap bersuasana hijau dan asri.

*Artikel ini disadur dari artikel berjudul “Teras Cikapundung, “Oase” Baru Di Bandung” oleh Didan Sardjono yang terbit di majalah Asri edisi April 2016

Foto : Didan Sardjono