Training for Trainers: Daya Baru Pelestari Cagar Budaya

Training for Trainers (ToT) UNESCO

Pelestarian cagar budaya adalah sebuah perspektif masa kini yang memandang masa lalu untuk masa depan. Inilah yang menjadi nilai dasar dari semua pekerjaan pelestarian cagar budaya yang sudah dan yang masih akan dilakukan. Karena itu, regenerasi dan menumbuhkan bibit-bibit baru penggiat dan pelestari cagar budaya menjadi sangat penting bagi kelangsungan pelestarian itu sendiri. Menggandeng Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), dan Kementrian Pekerjaan Umum (Kemen PU), UNESCO Indonesia menggelar, sekali lagi, workshop Training for Trainers, yang berlangsung dari tanggal 18-22 Januari 2016 lalu.

Kunjungan ke Gudang Timur, Ancol, mengajak para peserta mengenali nilai keutamaan bangunan yang berusia lebih dari 360 tahun ini, baik secara sejarah maupun nilai keutamaan secara fisik.

Kegiatan pengkayaan para penggiat cagar budaya muda ini berlangsung selama 6 hari, dan mencakup beragam kegiatan, mulai dari pendalaman materi dan teori, studi lapangan, pengerjaan contoh kasus, yang langsung dibimbing oleh tenaga ahli, dan juga klinik konservasi yang memungkinkan para peserta bisa berkonsultasi dengan para ahlinya langsung. Kegiatan workshop ini diikuti oleh 31 peserta yang terdiri dari penggiat dan pelestari cagar budaya dari berbagai daerah. Total terdapat 17 kota yang mengirim utusan, dengan latar belakang dan contoh kasus yang berbeda dari daerahnya masing-masing.

Struktur Gudang Timur ini menunjukkan keistimewaan modifikasi struktur sesuai jamannya. Fungsinya yang sebagai gudang sekaligus tembok kota membuatnya harus mempunyai performa lebih dibanding gedung lainnya.

Training for Trainers (ToT) ini bukanlah kegiatan pertama yang diselenggarakan oleh UNESCO. Sebelumnya, ditahun 2014 kegiatan serupa pernah dilangsungkan. Begitupun di akhir tahun 2015, sembari meluncurkan information kit, ‘Caring for Your Heritage Building’, kegiatan ToT juga diselenggarakan dengan menggandeng Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, yang turut menandai selesainya dua proyek konservasi percontohan di Kota Tua, yaitu Cafe Historia dan Djakarte.

Kegiatan padat materi dan aktivitas ini mengundang 10 pemateri yang meliputi ahli cagar budaya, arsitek konservasi, arsitek peneliti, dan para pemangku kebijakan yang terkait. Diantara para pemateri terdapat nama Joy Sing, Bruce Pettman, dan David Mason dari AusHeritage, yang juga menjadi pemateri di 2 workshop sebelumnya. Juga turut memberi materi, Budi Lim dan Bambang Eryudhawan sebagai arsitek sekaligus penggiat cagar budaya. Begitupun pada klinik konservasi, kita bisa menemukan nama Han Awal dan Arya Abieta sebagai pengasuhnya.

Peserta mengadakan pengukuran ulang terhadap kondisi terkini Gudang Timur, untuk kemudian dimasukkan kedalam data assessment yang akan menjadi landasan proposal konservasi mereka.

“Workshop ini adalah sebuah simulasi, agar para peserta tidak saja mengerti tentang prinsip konservasi, tapi juga bisa mengerti kondisi lapangan dan bagaimana menimbang nilai penting dari sebuah bangunan cagar budaya. Kegiatan ini memang hanya sebuah awal, kita berharap, nantinya para peserta bisa membawa ilmu yang didapatnya ke daerah masing-masing, memulai pelatihan serupa bagi rekan-rekannya, dan tidak lupa tetap berjejaring, agar gerakan pelestarian cagar budaya ini tidak berhenti di wacana saja. Ini juga sejalan dengan program kerja kepengurusan IAI dibawah kepemimpinan Ahmad Djuhara, yang ingin mendorong kepedulian para arsitek, khususnya dalam bidang cagar budaya. Yang terpenting adalah, identifikasi masalah, sinergi dengan kementrian dan komunitas-komunitas terkait, dan akhirnya sebuah kepedulian dan keberlanjutan,” Aditya Fitrianto, Ketua Badan Pelestarian, IAI Nasional, mengungkapkan kepada Griya Asri.

Asistensi dengan para ahli dan peneliti dibidang cagar budaya menjadi bagian yang penting dalam workshop ini. Melalui proses asistensi ini, tidak hanya komunikasi yang terbentuk, namun juga diharapkan terjadinya transfer ilmu.

Pemateri, David Mason, dari AusHeritage membimbing kelompok binaannya sebelum terjun kelapangan.

Foto: Tri Rizeki Darusman

LEAVE A REPLY