Triawan Munaf, Optimis dengan Kreativitas Generasi Muda di Indonesia

triawan munaf

Berkat pengalamannya yang cukup lama dan mumpuni di bidang industri kreatif, sosok pria yang ramah ini pun kini menjadi “El Comandante” bagi sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Misinya adalah merangkul dan mengharmonisasikan seluruh pihak yang terkait dengan bidang tersebut. Ini semua demi sebuah mimpi yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat seni dan kebudayaan baru di mata dunia.

Sejak dilantik oleh Presiden RI, Jokowi Widodo pada awal tahun 2015 lalu sebagai Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf dihadapkan dengan sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya. Dengan jabatannya tersebut, ia memiliki tugas untuk membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan menyinkronkan kebijakan ekonomi kreatif.

Terdapat 16 subsektor yang menjadi fokus pengembangan Bekraf yaitu Aplikasi dan Pengembangan Game, Arsitektur dan Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Desain Produk, Fashion, Film, Animasi Video, Fotografi, Kriya (kerajinan tangan), Kuliner, Musik, Penerbitan, Periklanan, Seni Pertunjukan, Seni‎ Rupa, serta Televisi dan Radio. Belakangan ini, subsektor-subsektor tersebut memang menjadi penggerak  ekonomi kreatif yang begitu populer di Indonesia.

“Kita harus menjadi pusat seni dan kebudayaan baru di dunia di masa mendatang,” ujar Triawan Munaf dalam sebuah acara diskusi bersama dengan para seniman dan desainer dalam sebuah pameran seni kontemporer yang diadakan beberapa waktu lalu. Triawan mengungkapkan bahwa dengan kekayaan seni, budaya, dan kekayaan alam, serta masyarakatnya yang dikenal sangat kreatif, Indonesia berpotensi untuk menjadi tujuan baru di bidang industri kreatif dunia.

“Lokalitas itu jangan dikedepankan tetapi dijadikan dasar atau akar dari sebuah karya. Karena itulah, saat ini karya-karya kreatif kita harus bersifat universal sehingga dapat disukai, digandrungi, dan dibeli oleh masyarakat dunia. Namun, tetap dilahirkan dari akar budaya bangsa,” jelas Triawan.

Ingin Ekonomi Kreatif Menjadi “Tulang Punggung” Bangsa

Triawan mengakui bahwa di negeri ini, belum ada keberpihakkan terhadap insan kreatif. “Beberapa waktu lalu saya ke Yogyakarta. Ada satu keluhan yang dikemukakan oleh para seniman di sana jika mereka sedang melakukan pameran di luar negeri, di mana ketika membawa kembali karyanya ke Indonesia dianggap barang impor. Ternyata setelah saya selidiki, sebenarnya sudah ada peraturan yang mengatur tentang hal itu sejak lama, hanya tinggal diaktivasi lagi saja. Nanti akan saya perjelas mengenai tata cara dan prosedurnya,” ujar Triawan.

Selain itu, juga tidak terdapatnya informasi dan data yang valid mengenai apa saja potensi industri kreatif di Indonesia yang dapat digarap lebih jauh sehingga banyak pula yang menyulitkan pihaknya dalam menyusun program kerja. “Semuanya cenderung bekerja sendiri-sendiri,” Tambah Triawan.

Triawan mengatakan bahwa sudah menjadi tugas dirinya dan Bekraf untuk mendeteksi terlebih dahulu potensi-potensi yang ada dengan dibantu oleh kementerian-kementerian terkait untuk kemudian dikoordinasikan dan disinkronisasikan secara bersama-sama. Ia dan Bekraf akan terus bekerja dan berupaya dalam memberikan kemudahan-kemudahan bagi para insan kreatif di Indonesia agar mimpi negeri ini menjadi salah satu pusat seni dan kebudayaan baru di dunia segera terwujud.

“Saya menginginkan ekonomi kreatif menjadi ‘tulang punggung’ bangsa ini. Saya optimistis dengan kemampuan dan daya kreatif yang dimiliki oleh generasi muda di Indonesia serta perkembangan dunia teknologi digital yang masif maka impian itu akan terwujud,” ujar Triawan.

Fotografer : Tri Rizeki Darusman

*Artikel ini dirangkum dari tulisan berjudul “Triawan Munaf : “El Comandante” Ekonomi Kreatif Indonesia” yang terbit di majalah Griya Asri edisi Januari 2016 dan ditulis oleh Adhitya P. Pratama

LEAVE A REPLY