Uniknya Galeri Ini, Bentuknya Seperti Kacang!

Landesgartenschau-Exhibirion-Hall-at-University-of-Stuttgart_dezeen_468_18

The Landesgartenschau Exhibition Hall di Schwäbisch Gmünd, Jerman terbuat dari 243 keping kayu lapis yang berbeda dan dibuat dengan metode fabrikasi robotik. Bangunan ini dirancang oleh akademisi dari University of Stuttgart’s Institute for Computational Design (ICD), Institute of Building Structures and Structural Design (ITDK) dan Institute of Engineering Geodesy. Sekilas gedung ini tampak seperti kacang, atau juga seperti sarang lebah.

( Baca juga: Buku Raksasa Gedung Perpustakaan Umum Kansas City )

Puzzle-puzzle kayu ini masing-masing memiliki ketebalan 50 milimeter. Pertanyaannya bagaimana membuat bangunan dengan struktur kuat tapi hanya dengan pemanfaatan sedikit bahan? Jawabannya ada di proses integrasi digital ganda. Pendekatan fungsi sendi jari manusia digunakan dalam struktur ruang pameran. 7600 sendi yang dibuat bertanggung jawab menjaga stabilitas struktural aula tersebut. Software yang dirancang sangat membantu penghitungan untuk menciptakan bentuk yang optimal.

kacang2

“Secara sederhana ini bangunan pertama yang sepenuhnya dibuat dengan desain komputasi terintegrasi dan proses fabrikasi robotik.” ujar Oliver David Krieg peneliti dari ICD.

“Jika dibandingkan dengan pendekatan klasik dalam dunia arsitektur kami menyebut proyek ini sebagai ‘proses rancangan terinformasi’, karena sebagai arsitek, kami membangun sendiri ruang lingkup desain kami, tidak hanya sesuatu yang dapat diproduksi tapi juga performatif secara struktural dan arsitektural.” ujar Krieg kepada Dezeen

( Baca juga: Parade Dinding Berdesain Unik )

Bangunan ini dibagi menjadi dua ruang, sebuah area pintu masuk dan area pameran dengan pintu kaca besar untuk melihat lanskap di sekitar gedung. Masing-masing ruang punya langit-langit berbentuk kubah.

kacang3

Luas permukaan eksternal gedung ini sebesar 245 meter persegi, luas lantainya 125 meter persegi dengan tinggi gedung 17 meter. Sebuah robot yang mampu untuk melakukan pengeboran kayu digunakan untuk menyusun panel-panel lapisan kayu tersebut. Proses yang sangat memakan waktu lama jika dilakukan secara manual, namun dengan tenaga robot, semua itu hanya perlu memakan waktu tiga minggu.

“Proyek ini memungkinkan arsitek, insyinyur dan produsen kayu dapat bekerja lintas disiplin melalui orientasi fabrikasi dan material. Hal ini bukan hanya bicara soal kayu sebagai sumber daya konstruksi yang efisien tapi juga bicara sebuah karya arsitektur yang ekspresif.”

( Baca juga: Memiliki Fasad yang Bergerak? Kenapa Tidak! )

kacang4

Achim Menges, profesor di ICD menambahkan proses ini ingin menunjukkan sisi terbaik dari manusia dan dari komputer. “Ini membebaskan logika kita, penggunaan software bisa diterapkan untuk membuat sesuatu yang designable. Ini memungkinkan kita menggunakan aspek-aspek desain lain di luar sana untuk diterapkan di dunia arsitektur.”

kacang5

Foto: dezeen

LEAVE A REPLY