Wormhole, Instalasi Bambu Karya Eko Prawoto

Dalam istilah astronomi, wormhole adalah sebuah hipotesis mengenai adanya suatu celah untuk “berkomunikasi” dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Istilah ini digunakan oleh arsitek Eko Prawoto sebagai judul karya berupa instalasi seni dalam ajang “Singapore Biennale 2013” yang didirikan di muka Singapore National Museum.

Menurut Eko, karyanya ini lebih menyorot pada pesatnya transformasi budaya dan kondisi geografis dunia, terutama Asia Tenggara yang mengubah cara pandang masyarakatnya dalam hidup. Eko memandang bahwa belakangan ini alam cenderung hanya menjadi sumber bahan baku bagi industri masa kini. Sementara itu, masyarakat lebih terbiasa dengan lingkungan fisik buatan. Karena itu, ia berupaya mengajak pengunjung acara dan masyarakat umum untuk “kembali dan berdialog” dengan alam melalui instalasi seni yang bersifat site specific dengan area Singapore National Museum.

Artinya, objek ini dibuat dengan mempertimbangkan keberadaan lingkungan, bahkan hadir secara kontras dengan sekitarnya serta memiliki kaitan dan makna kontekstual secara fisik juga sosial. Konstruksi bambu yang minim teknologi (low tech) dan dibuat oleh tangan (crafted) ini tidak hanya menarik perhatian.

“Wormhole” mendorong orang untuk berkontemplasi dan “kembali berinteraksi” dengan alam melalui ruang-ruang nan “puitis”, menemukan kemungkinan baru sekaligus pengalaman beruang publik nan unik. Hal ini juga menjadi upaya pelestarian alam, promosi bambu sebagai material alternative, dan pemberdayaan keterampilan warga lokal guna menguatkan identitas budaya Indonesia serta ekonomi dalam konteks global saat ini.

Eko memilih jenis bambu apus dan menerapkan teknik sambungan pasak yang didukung oleh alat pneumatic stapler untuk sambungan yang bersifat tidak struktural. Ada tiga buah kerucut yang dibuat masing-masing berdiameter 9 m, 7 m, dan 6 m dengan ketinggian antara 6 m sampai 8 m.

Puncak setiap kerucut sengaja dipotong tidak teratur agar terbuka memperlihatkan perubahan cuaca di luarnya. Sementara itu, anyaman bambu di beberapa titik sengaja dibuat jadi lubang yang memasukkan sorot cahaya “dramatis” ke ruang dalam instalasi ini. Karya-karya Eko juga pernah dipamerkan dalam kegiatan serupa “Esplanade”, Singapura di tahun 2011 dan tahun 2012.

*Disadur dari artikel “Wormhole” oleh Imelda Anwar di majalah Smartdesign edisi Desember 2013*

Foto : Dok. Eko Prawoto

LEAVE A REPLY